Butet Kertaradjasa Menduga Djaduk Ferianto Meninggal karena Serangan Jantung

    Ahmad Mustaqim - 13 November 2019 15:38 WIB
    Butet Kertaradjasa Menduga Djaduk Ferianto Meninggal karena Serangan Jantung
    Foto semasa muda seniman Djaduk Ferianto. Foto: Medcom.id/ahmad mustaqim
    Bantul: Seniman Gregorius Djaduk Ferianto menghembuskan nafas terakhir pada Rabu, 13 November 2019 pukul 2.30 WIB. Kakak almarhum, Butet Kertaradjasa mengatakan tak tahu pasti penyebab adiknya meninggal pada usia 55 tahun.

    "Kami tidak tahu apa, penyebab utama serangan jantung itu,” kata Butet di rumah duka Dusun Kembaran, Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu, 13 November 2019.

    Butet mengatakan, aktivitas sang kakak memang cukup padat dalam beberapa waktu terakhir. Djaduk akan menjadi salah satu seniman yang akan manggung dalam pentas ‘Ngayogjazz’ bersama grup music Sinten Remen.

    “Yang pasti di hari-hari terakhir Djaduk sangat sibuk untuk latihan musik dan sedang menyiapkan 'Ngayogjazz'," ucapnya.

    Acara musik jazz tahunan itu akan digelar di Godean, Kabupaten Sleman pada 16 November 2019. Acara itu rencananya diresmikan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD.

    Almarhum Djaduk dalam kesehariannya sebagai seniman banyak dilakukan di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) Kasihan, Bantul. Padepokan itu memang didirikan ayahnya yang bernama Bagong Kussudiardja.

    Istri Djaduk, Bernadette Ratna Ika Sari mengatakan, mendiang bangun tidur karena mengalami kesemutan dan sesak di dada. Sekitar sepuluh menit kemudian Djaduk meninggal di samping perempuan yang biasa disapa ibu Petra ini. “Beliau wafat dengan mudah seperti keinginannya," katanya.

    Djaduk Ferianto meninggalkan istri dan lima anak; Gusti Arirang, Ratu Hening, Gallus Presiden Dewagana, Kandida Rani Nyaribunyi, dan Rajane Tetabuhan. Almarhum Djaduk akan dikebumikan di makam keluarga, di Sembungan, Kasihan, Bantul, DIY.

    Putra bungsu seniman Bagong Kussudiarjo ini semasa hidup dikenal sebagai seorang komposer, koreografer, sutradara, produser dan fotografer. Ia menjadi pendiri sekaligus pemimpin kelompok musik Kua Etnika dan Sinten Remen.

    Tumbuh dalam atmosfer kesenian dan budaya Yogyakarta, ia banyak melakukan pengembaraan kreatif di berbagai kelompok kesenian. Memantapkan diri menjadi ‘pemusik yang gelisah’, kegelisahannya pula turut menginisiasi festival Ngayogjazz dan Pasar Keroncong Kotagede.


     



    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id