Alami Pendarahan Usai Melahirkan, Rahim Rachel Maryam Diangkat

    Elang Riki Yanuar - 07 Oktober 2020 18:05 WIB
    Alami Pendarahan Usai Melahirkan, Rahim Rachel Maryam Diangkat
    Rachel Maryam dan Edo (Foto: dok. Iluska Photo)
    Jakarta: Edwin Aprihandono, suami Rachel Maryam angkat bicara mengenai kondisi sang istri usai melahirkan pekan lalu. Rachel sempat dikabarkan mengalami pendarahan hingga koma setelah melahirkan.

    Rachel Maryam melahirkan bayi berjenis kelamin laki-laki pada 2 Oktober 2020 di di RS Bunda Menteng, Jakarta. Bayi yang diberi nama Muhammad Eijaz Mata Air itu lahir  dengan berat 3780 gram dan tinggi 50 cm.

    Dalam keterangan tertulisnya, pria yang akrab disapa Edo itu meminta maaf baru bisa memberikan keterangan kepada media saat ini. Pasalnya, beberapa hari belakangan dia memang fokus menemani sang istri di rumah sakit.

    "Mohon maaf apabila selama beberapa hari kebelakang kami belum dapat merespons semua pesan, doa dan dukungan yang masuk baik melalui telephone, wa, ig maupun fb karena kondisi kesehatan Rachel yang kritis dan membutuhkan perhatian penuh selama beberapa hari pasca operasi caesar. Namun kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas perhatian dari sahabat-sahabat semua," tulis Edo.

    Edo membenarkan bintang film Janji Joni itu sempat mengalami pendarahan usai melahirkan. Bahkan, akibat pendarahan itu rahim Rachel terpaksa harus diangkat. Meski berat, Edo dan Rachel menganggap keputusan ini sebagai jalan terbaik.

    "Pasca operasi caesar Rachel mengalami komplikasi yang menyebabkan pendarahan dalam hebat. Hal ini membuat dokter harus mengambil tindakan untuk segera melakukan operasi kembali untuk menghentikan penyebab pendarahan dan diputuskan agar Rachel diangkat rahimnya. Pendarahan ini menyebabkan Rachel kehilangan banyak darah yang membuat HB darah Rachel jadi drop dan membutuhkan sangat banyak sekali transfusi darah," jelas Edo.

    Edo membantah kabar yang menyebut Rachel sempat mengalami koma. Saat ini kondisi wanita yang juga anggota DPR itu sudah melewati masa krisis dan dalam proses pemulihan.

    "Untuk kenyamanan pasien, maka dokter memutuskan agar Rachel 'ditidurkan' atau dibuat 'tidak sadar' selama 2 hari dari total 4 hari Rachel dirawat di ICU. Jadi berita bahwa Rachel 'koma' sebenarnya kurang tepat, lebih tepatnya 'ditidurkan'," papar Edo.

     

    (ELG)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id