Tolak Hukuman Mati, Anggun Tulis Surat Terbuka untuk Jokowi

    Anindya Legia Putri - 28 April 2015 07:48 WIB
    Tolak Hukuman Mati, Anggun Tulis Surat Terbuka untuk Jokowi
    Foto: Anggun C Sasmi / Instagram
    medcom.id, Jakarta: Hukuman mati gembong narkoba di Indonesia masih terus diwarnai pro dan kontra. Berbagai pihak menyatakan keberatan atas keputusan Presiden, termasuk salah satu penyanyi asal Cilacap, Jawa Tengah, yang kini menetap di Prancis, Anggun Cipta Sasmi.

    Dalam akun Facebook resminya, pelantun "Snow in The Sahara" ini, mengemukakan isi hatinya, dengan menulis surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo. 

    Anggun dengan tegas menolak hukuman mati, dan meminta Presiden Jokowi untuk memberikan grasi kepada Serge Atlaoui, warga negara Prancis.

    Surat tersebut dibuat Anggun dalam dua bahasa yaitu bahasa Prancis dan bahasa Indonesia pada 22 April 2015. Atas sikapnya, surat tersebut hingga kini sudah diberi tanda like sebanyak 12.363 oleh netizen. Kecaman dan dukungan pun datang, hingga terdapat 4.111 suara mengomentari surat tersebut.

    Berikut surat lengkap Anggun sebagaimana dikutip Metrotvnews.com, Senin (27/4/2015):

    "Surat terbuka untuk Bapak Presiden Joko Widodo

    Yang terhormat Bapak Presiden Joko Widodo,

    Seperti yang mungkin bapak ketahui, sudah bertahun-tahun saya bermukim di Prancis. Sebagai orang Jawa dan orang Indonesia saya sangat bangga dengan budaya yang mengalir di darah saya dan saya merasa sangat beruntung bisa tinggal di negara yang sangat menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, sebagai wanita dan juga artis, ini adalah sumber inspirasi yang sangat berharga.

    Tentu saja saya sangat mengerti dampak negatif dari narkoba terutama di Indonesia dan saya sangat setuju juga selalu mendukung pemberantasan Narkoba di dunia. Tetapi saya juga yakin bahwa hukuman mati bukan satu solusi untuk menurunkan tingkat kriminalitas atau untuk menjaga kita dari semua kejahatan. Hukuman mati menurut saya adalah kegagalan sisi kemanusiaan juga hilangnya nilai-nilai hukum keadilan. Hukuman mati bukanlah keadilan, apapun penyebabnya. Saya amat dan sangat yakin untuk ini.

    Hukum yang diberikan terhadap Bapak Serge Atlaoui membangunkan emosi yang sangat dalam di Eropa, terutama di Prancis. Saya termasuk orang yang merasakan ini karena banyaknya sisi-sisi keruh yang akhirnya terlihat lebih jelas di dalam kasus pengadilan Bapak Serge Atlaoui, keraguan yang membuat keputusan hukuman mati menjadi tidak dimengerti karena banyaknya ketidaktentuan dalam kasus beliau. Selain itu, saya pribadi yakin bahwa Bapak Serge Atlaoui tulus dan jujur.

    Saya berada di Jakarta pada saat Bapak dipilih menjadi Presiden. Hati saya bahagia, berdebar keras, dan merasa sangat bangga atas pilihan rakyat Indonesia. Pemilu Anda dilihat dan dipantau oleh dunia sebagai titik balik untuk Indonesia menjadi negara yang besar dan penuh kebajikan.

    Di Eropa, Indonesia sekarang terkait oleh image negara yang membunuh. Hati saya berdebar lagi, tapi kali ini karena kepedihan. Saya tidak ingin wajah Indonesia tergores seperti ini dan dihakimi oleh dunia, sedangkan Indonesia yang saya tahu dan impikan adalah negara yang toleran dan berikhwan. 

    Sekali lagi saya tidak mempertanyakan kedaulatan perhukuman di Indonesia untuk melawan narkoba, tetapi saya tidak bisa melihat seseorang yang mengaku tidak bersalah, akan dihukum mati, dan melihat kesedihan istri dan keluarganya. 

    Bapak Presiden, Anda mempunyai kekuasaan untuk membuat dunia kita ini lebih baik, dengan dikurangi kekerasan, tanpa tumpahnya darah, tanpa kebrutalan, seperti yang tertulis di Pancasila: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

    Sebagai putri Jawa, dengan hormat saya memanggil jiwa kemanusiaan Bapak yang selama ini menjadi karakteristik dan menggambarkan jalan hidup Bapak. Saya memohon agar Bapak bisa memberi grasi untuk Bapak Serge Atlaoui. Matur sewu sembah nuwun paringanipun kawigatosan mugi mugi Gusti Allah maringi rahmad berkah kesehatan kagem Bapak sekeluargo. Amin matur sembah nuwun." 


    Hingga kini, Serge Areski Atlaoui tidak masuk dalam daftar terpidana mati yang akan dieksekusi beberapa hari mendatang. Ditundanya eksekusi Serge karena terdapat faktor teknis.

    Serge adalah warga negara Prancis yang didakwa hukuman mati atas kasus operasi penggerebekan pabrik ekstasi dan sabu di Cikande, Tangerang, 11 November 2005. Barang bukti dari penangkapan Serge adalah 138,6 kilogram sabu, 290 kilogram ketamine, dan 316 drum prekusor atau bahan campuran narkotika.

    (AWP)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id