Setelah RUU Permusikan Ditarik, Lalu Apa yang akan Dilakukan Para Musisi?

    Cecylia Rura - 19 Juni 2019 12:04 WIB
    Setelah RUU Permusikan Ditarik, Lalu Apa yang akan Dilakukan Para Musisi?
    Ilustrasi (Foto: ShutterStock)
    Jakarta: Naskah Rancangan Undang Undang (RUU) Permusikan resmi ditarik dari daftar Program Legislasi Nasional (Prolegnas) RUU Prioritas 2019, Senin, 17 Juni 2019. Kabar ini juga telah dikonfirmasi Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI Arif Wibowo, pemimpin rapat DPR bersama Kementerian Hukum dan HAM, saat dihubungi Medcom.id melalui pesan elektronik.

    Penarikan RUU Permusikan menjadi peredam panasnya suasana di lingkaran musisi sejak Februari lalu. Wendi Putranto dari Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan (KNTLRUUP) mengapresiasi keputusan itu.
    "Kami menyambut gembira langkah DPR yang mendengarkan aspirasi masyarakat luas dan akhirnya menarik RUU Permusikan dari daftar Prolegnas prioritas,” ujar Wendi Putranto dalam keterangan resmi.

    Sambutan baik juga diberikan Kartika Jahja, anggota KNTLRUUP atas dukungan teman-teman mendukung penolakan RUU Permusikan.

    "Kami berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah menyuarakan penolakan dan lebih dari 313.000 orang penanda tangan petisi. Ini menjadi preseden bahwa aspirasi masyarakat yang terorganisir dapat membuat perubahan,” kata Kartika Jahja.

    Ditariknya RUU Permusikan dari daftar Prolegnas belum menjadi penyelesaian akhir. Selain KNTLRUUP, Koalisi Seni Indonesia turut melihat polemik RUU Permusikan perlu dilanjutkan dengan melihat apa yang seharusnya diperbaiki dalam ekosistem musik.

    "Perbaikan tata kelola industri mutlak diperlukan. Energi penolakan RUU Permusikan jangan sampai padam di sini, namun harus dikembangkan demi perubahan," ungkap Hafez Gumay, peneliti Koalisi Seni.

    Selaras dengan suara memperjuangkan tata kelola industri musik, musisi Glenn Fredly dari Kami Musik Indonesia (KAMI) melihat hal ini sebagai momen baik untuk memulai perjuangan tersebut.

    "Ini momentum untuk melanjutkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk memperbaiki tata kelola industri musik dan meningkatkan kesejahteraan para pelakunya. Kita perlu merintis jalan baru dalam memperbaiki tata kelola industri musik. Ini sejalan dengan pesan Presiden Jokowi saat KAMI menyerahkan hasil Konferensi Musik Indonesia 2018," ungkap Glenn Fredly.

    Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca, juga berharap momentum ini akan membawa semangat baru di kalangan musisi untuk menciptakan iklim industri yang sehat.

    "Belum ada langkah lanjutan (dari KNTLRUUP), tapi berharap (baik atas inisiasi pihak koalisi atau pihak lain) akan ada kelanjutan pembahasan untuk menuju ke musyawarah musik yang direncanakan itu guna membahas apakah perlu ada UU tentang musik? Jika ada, akan membahas tentang apa saja kah RUU tersebut, dll," kata Cholil kepada Medcom.id.

    Dalam proses pematangan, RUU Permusikan yang diprotes dianggap tidak mewakili semua kalangan musisi. Pasal-pasal yang terkandung didalamnya pun dicurigai sarat kepentingan.

    Profesor musik Tjut Nyak Deviana Daudsjah menilai draf RUU Permusikan nyaris seluruhnya bermasalah, meliputi aspek bahasa, sasaran, maupun landasan berpikir. Deviana menyarankan draf produk hukum ini dirancang ulang, termasuk judul utamanya.


    "Rancangan undang-undang ini, dari aspek bahasanya sendiri kurang tepat, kurang kena sasaran, dan juga tidak didasari oleh masukan dari pakar-pakar musik. Jadi, sebaiknya dirancang ulang atau diatur ulang," kata Prof Deviana dalam diskusi terkait RUU Permusikan, Februari lalu.

     



    (ASA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id