Alasan Sandhy Sondoro Bangun Karier Musik di Indonesia

    Purba Wirastama - 21 April 2019 11:00 WIB
    Alasan Sandhy Sondoro Bangun Karier Musik di Indonesia
    Sandhy Sondoro (Foto: Medcom/Purba)
    Jakarta: Setelah beragam pekerjaan buruh di Jerman, Sandhy Sondoro kembali menghidupi kecintaan lama dengan menjadi musisi penampil, mulai dari jalanan, stasiun, hingga bar dan kelab. Perlahan, dia dikenal luas lewat pertunjukan musik dan festival, termasuk kompetisi menyanyi di Latvia pada 2009, setahun setelah album debutnya dirilis di Jerman.

    Dengan awal karier musik di Eropa, kenapa akhirnya Sandhy memilih pulang dan membangun karier di Indonesia?

    Alasan utamanya, kata Sandhy, ruang kemungkinan di Jerman agar karier lebih berkembang relatif lebih kecil ketimbang di negara asalnya Indonesia. Itu dilandasi kebijakan pemerintah Jerman yang memberi prioritas bagi warga negara etnis asli.

    "Gue, waktu itu sampai sekarang pun, masih warga negara Indonesia. Di Jerman, gue enggak bisa gede kayak sekarang," kata Sandhy kepada Medcom.id.

    "Gue enggak bisa jadi penyanyi, mengiringi acara nasional Jerman karena ya memang kewarganegaraan gue. Sampai sekarang pun, di Jerman, enggak ada orang jerman yang bukan rasnya Jerman misalnya, yang kemudian menjadi artis papan atas di dunia seni musik," lanjutnya.

    Menurut Sandhy, tak masalah jika Jerman menomorsatukan warga mereka sendiri karena itu memang tugas negara untuk memberikan perlindungan. Dia berharap pemerintah Indonesia seharusnya juga melakukan hal yang sama.

    "Seharusnya Indonesia lebih memprioritaskan orang-orang yang mukanya Indonesia, baik di film atau musik," ujarnya.

    "Itu nasionalisme yang nyata, tetapi nasionalisme yang enggak boleh berlebihan juga karena nasionalisme berlebihan itu begitu rasis dan fasis," imbuh Sandhy.

    Perjuangan karier musik Sandhy di Indonesia dimulai pada 2008, setelah merilis album debutnya di Jerman. Dia mencari label Indonesia agar albumnya bisa dijual secara resmi di sini.

    Upaya pertama kurang mulus. Selain karena liriknya berbahasa Inggris, materi lagu tergolong berat bagi pendengar lokal. "Lagu awal saya deep banget, berat buat orang sini," katanya.

    Dia belajar memahami karakteristik pendengar musik kedua negara, yang ternyata memang berbeda. Perbedaan paling kentara, lagu yang bisa populer di sini adalah lagu-lagu balada atau bertema percintaan.

    "Kalau di sana, karakter lagu hits itu cenderung yang uptempo. Mungkin karena beda kultur, orang Jerman dan Indonesia kan beda kultur. (Pendengar musik) Italia pun berbeda," tuturnya.

    Selama satu dekade terakhir, Sandhy telah telah merilis belasan album. Itu termasuk yang belakangan dirilis di Indonesia, tetapi tetap dalam naungan label asal Jerman. Album terakhir Sandhy adalah Beautiful Soul yang dirilis pada penghujung 2018.

     



    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id