Suga BTS Bicara soal Depresi dan Pentingnya Melawan Stereotip

    Sunnaholomi Halakrispen - 25 November 2020 09:00 WIB
    Suga BTS Bicara soal Depresi dan Pentingnya Melawan Stereotip
    Suga BTS (Foto: gettyimages)
    Jakarta: Salah satu member boy group BTS, Suga, menyampaikan tentang betapa dia tidak menyukai definisi maskulinitas. Ia pun aktif mendukung para kaum muda serta perjuangan yang mereka lalui saat ini.

    Selain topik-topik itu, dia selalu memainkan peran besar dalam menekankan pentingnya penerimaan. Juga mendobrak stereotip dan hambatan yang ada di dunia. Meskipun, sebagai seorang selebriti sulit untuknya mengungkapkan pergumulan dan penderitaan pribadinya.

    "Saya pikir orang-orang yang memiliki platform harus lebih banyak membicarakan topik ini. Karena depresi adalah penyakit yang didiagnosis di rumah sakit. Tetapi Anda tidak tahu Anda menderita depresi sampai Anda mendengarnya langsung dari dokter," ujar Suga dikutip dari Koreaboo.

    "Jadi, tidak hanya kita, tapi juga para selebritis lainnya, harus membicarakan hal-hal tersebut secara terbuka," tambahnya.

    Misalnya, kata Suga, jika kita berbicara tentang depresi, bisa menganggap seperti kita berbicara tentang flu biasa. Sebab, apabila depresi bisa menjadi seperti penyakit biasa, pembahasannya akan lebih mudah diterima.

    "Artis dan selebriti yang memiliki suara untuk membicarakan hal ini harus lebih sering membicarakan masalah ini dan mengangkat topik ini ke permukaan," paparnya.

    Pada album terbaru BTS yang berjudul BE, lirik lagu Dis-ease juga membicarakan masalah ini. Suga menekankan bahwa semua orang punya banyak penyakit. Bahkan banyak kasus penyakit jantung. Apalagi soal depresi.

    "Tidak banyak orang yang tidak bekerja. Apakah dunia atau aku yang sakit? Apakah hanya perbedaan interpretasi? Saya tidak tahu bagaimana mengubah seseorang. Sesuatu yang lebih cepat dari mengubah orang adalah aku (harus lebih dahulu) berubah," jelasnya.

    Ia berupaya melawan stereotip. Baginya, tidak masalah genre apa pun yang digemari orang lain. Baik musik klasik atau musik pop. Baginya, ini hanya masalah selera dan pemahaman pribadi.

    "Banyak penggemar idola menerima kebencian, tapi mereka benar-benar orang yang luar biasa. Hanya karena Anda menyukai seseorang bukan berarti Anda harus melakukan hal-hal yang mereka lakukan, jujur ??saja," pungkasnya.

     

    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id