Pengalaman Menerobos Sekat Gender lewat Festival Musik The Alex Blake Charlie

    Cecylia Rura - 09 Desember 2019 20:03 WIB
    Pengalaman Menerobos Sekat Gender lewat Festival Musik The Alex Blake Charlie
    Penampilan Anna of the North di The Alex Blake Charlie 2019 (Foto: Alvin Ho)
    Singapura: Impresi pertama sejak mengetahui nama The Alex Blake Charlie tak memberikan saya ekspektasi tinggi. Selidik pertama memaknai judul festival, tak ada makna khusus selain membuatnya terdengar keren. Ketika saya sedikit menjelajahi kultur Barat, nama Alex, Blake, dan Charlie memang kerap digunakan untuk nama laki-laki maupun perempuan.

    Tajuk Alex Blake Charlie pun perlahan terdengar unisex. Dalam teori cenayang saya, festival musik yang mengusung pemberdayaan perempuan ini ibarat mencoba mengadaptasi seutuhnya kepemilikan nama Alex, Blake, dan Charlie bahwa perempuan berhak memiliki apa yang dipunyai laki-laki. Seperti dalam konser, perempuan pun bisa menjadi musisi tunggal atau front-woman dalam sebuah band.

    Pengalaman Menerobos Sekat Gender lewat Festival Musik The Alex Blake Charlie
    (Pasir Panjang Power Station yang digunakan sebagai tempat festival The Alex Blake Charlie. Foto: 24 OWLS)

    Sebelum memasuki jadwal penampil, venue acara dalam gedung bekas pembangkit listrik kedua di Singapura itu disulap menjadi lokasi acara kreatif. Bagi saya ini adalah visualisasi yang cukup maskulin dan edgy melihat gedung terlaksananya The Alex Blake Charlie berdinding merah bata. Konsep clean, urban, dengan nuansa Eropa yang cantik.

    Sejatinya festival ini dibuka sekitar pukul 10 pagi waktu Singapura menampilkan empat visual artist dengan kanvas kosong untuk menuangkan karya mereka. Venue yang begitu luas memberikan jarak pandang yang baik untuk menikmati lukisan dari para seniman perempuan Asia Tenggara. Penonton pun tak merasa sesak, di samping gelaran perdana ini pun tampaknya belum begitu ramai untuk debutannya.

    Hal menarik lain, festival ini sukses mengajak pengunjung untuk tidak merokok di area indoor. Tradisi ini cukup membantu penikmat musik untuk menikmati jalannya konser tanpa merasa sesak dengan sirkulasi udara yang baik.

    Festival musik indie Alex Blake Charlie dibuka siang hari sekitar pukul 12.40 waktu Singapura oleh SOAK dari panggung The Nest. Lagi-lagi, ini meyakinkan saya bahwa The Alex Blake Charlie memang ingin mengambil alih kepemilikan nama Alex, Blake, dan Charlie untuk menamai perempuan saja. SOAK dengan potongan "rambut pria" dan sangat maskulin tentu memberikan ekspektasi kepada penikmat musik yang belum mengenalnya, bakal mengira dia solois pria.

    Dari panggung "A" Stage ada Dream Wife yang tampil seusai SOAK. Sementara untuk panggung Club B baru dibuka sore hari oleh musisi elektronik A/K/A Sounds. Panggung mini ini memang dikhususkan untuk penonton lebih chill dan melepas gairah berdansa.

    Dalam daftar penampil, Anna of the North menjadi salah satu daya tarik utama. Sebab saat ini namanya begitu dikenal di kancah musik indie terlebih setelah singel Playing Games dari album terbaru dilepas tahun ini. Begitu pun dengan Cate Le Bon, peraih nomine Mercury-Prize yang tampak memberikan aura harmoni dan kedamaian lewat aksi panggung yang begitu serius. Setidaknya dia sempat melempar dua singgungan senyum kepada penonton sebagai bentuk interaksi.


    Pengalaman Menerobos Sekat Gender lewat Festival Musik The Alex Blake Charlie
    (Stella Donnelly saat tampil di The Alex Blake Charlie 2019. Foto: Alvin Ho)


    Ragam lain hadir dari aksi panggung Stella Donnelly. Penyanyi asal Australia itu tampak memikat sejak kemunculannya dengan potongan rambut bob pendek, lipstik merah pekat, dan setelan dress bermotif polkadot hitam berbasis putih. Dia seperti ingin memberi hembusan aura positif kepada penggemar sekaligus untuk bersenang-senang dengan koreografi lincah dari panggung. Ketika singel Die membuat penonton bergoyang, Stella membuat mereka tetiba merenung ketika membawakan lagu Boys Will Be Boys yang terinspirasi dari kisah sang sahabat sebagai korban pelecehan seksual. Stella dan empat rekanan band-nya turut menjadi support system menyaksikan aksi panggung Cate Le Bon.

    Alex Blake Charlie mungkin bukan yang pertama mengusung pemberdayaan perempuan, tapi cukup menarik perhatian dengan barisan headliner populer dari unit indie pop. Sebelumnya, konser pemberdayaan perempuan sudah pernah dirayakan dalam Statement Festival dari Swedia (2017), tapi mencakup segmen penonton lebih luas yakni musik untuk perempuan, non-biner, dan waria. Belum lama ini ada Yola Fest pada Juni lalu yang menampilkan Charli XCX sebagai salah satu headliner. Tahun depan, bakal ada California Women's Music dan acara tahunan National Women's Music Festival (NWMF) yang ke-45.

    Pengalaman Menerobos Sekat Gender lewat Festival Musik The Alex Blake Charlie
    (Penonton The Alex Blake Charlie 2019. Foto: Alvin Ho)


    Meski mengusung tema pemberdayaan perempuan, dari sekian penampil Stella Donnelly terbilang cukup aktif bersuara. Semangat ini mungkin terpantik dari statusnya sebagai musisi baru yang hadir dengan album Beware of the Dogs (2019) di kancah musik indie dengan tema selaras tentang keadilan sosial, termasuk pemberdayaan perempuan.

    Debutan The Alex Blake Charlie setidaknya menambah panggung musik sebagai wadah pemberdayaan perempuan di Asia. Tak hanya musik, festival ini pun memberikan ruang bagi para seniman di bidang lain seperti visual artis untuk berkespresi.

    The Alex Blake Charlie Sessions digelar di Pasir Panjang Power Station, Singapura, Sabtu, 7 Desember 2019. Acara ini dipromotori 24OWLS asal Singapura. Ini adalah tahun pertama gelaran 24OWLS dan mengangkat tema besar Women Empowerment. Sebelumnya, orang-orang di balik 24OWLS mempromotori festival tur tahunan St. Jerome's Laneway asal Australia untuk digelar di Singapura.

    Sebanyak 14 headliner baik solo maupun band memeriahkan The Alex Blake Charlie di antaranya ALMA, Goat Girl, Dream Wife, Ladies of LCD Soundsystem, unit pop asal Brooklyn Charly Bliss, singer-songwriter asal Irlandia Brindie Monds "SOAK" Watson, musisi asal Welsh-Australia Stella Donnelly dengan style ikonik retro vibes, pop-indie asal Inggris Kero Kero Bonito, penyanyi asal Swedia LEON, serta musisi dream-pop asal Norwegia Anna of the North.

    Pengalaman Menerobos Sekat Gender lewat Festival Musik The Alex Blake Charlie
    (Tidak hanya menyuguhkan musik, festival ini juga merangkul beberapa bentuk seni kreatif lain. Foto: Dok. 24OWLS)


    Peraih nomine Mercury-Prize asal Welsh, Cate Le Bon juga ikut hadir memeriahkan dari "A" Stage. Perwakilan dari negara tuan rumah perhelatan ini ada Vandetta serta suara musik shoegaze dari Ginette Chittick. Dentuman musik elektronik dihadirkan lewat aksi A/K/A Sounds dan Ginette Chittick dari area Club B di tengah venue.

    Acara ini digelar di kawasan Pasir Panjang Power Station, gedung bekas pembangkit listrik kedua di Singapura. The Alex Blake Charlie Festival menjadi tongkat estafet perayaan acara kreatif di kawasan yang telah revitalisasi sejak 2018 itu. Sebelumnya gedung Pasir Panjang Power Station pernah digunakan sebagai venue sneaker convention dan pasar seni.

    The Alex Blake Charlie punya masa depan yang cerah, festival ini bukan saja menghadirkan hura-hura pentas musik yang mudah dilupakan, tetapi juga suara-suara lantang tentang bagaimana perempuan yang selalu punya daya dalam melalui berbagai zaman. Terlebih, Singapura sebagai salah satu suar penting di kawasan Asia Tenggara yang tentu akan membuat dunia menoleh bahwa kita sebagai warga Asia Tenggara juga punya semangat dan peran penting dalam membangun peradaban yang turut melibatkan peran penting perempuan. Sebagaimana kita tahu, perempuan-perempuan Asia pun aktif dengan caranya masing-masing merespons zaman, lebih-lebih melalui medium kreatif atas nama seni.

     



    (ASA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id