Mengenang Chrisye

    Medcom - 16 September 2019 20:13 WIB
    Mengenang Chrisye
    Chrisye (Foto: Konser Kidung Abadi Erwin Gutawa/YouTube)
    Hari ini, 16 September, adalah hari ulang tahun Chrisye, Google Doodle turut merayakan 70 tahun kelahiran Chrisye, melalui laman utama. Legenda musik pop Tanah Air tersebut terpampang dalam bentuk karikatur pada laman Google.

    Chrisye tampak mengenakan kemeja putih dan kacamata, serta memegang gitar dan dikelilingi lilin-lilin yang membentuk kata Google.

    Ilustrasi tersebut dibuat oleh seniman asal Yogyakarta, Antares Hasanbasri. Antares terinspirasi dari karyanya yang berjudul Lilin-Lilin Kecil.

    "Saya ingin merayakan ulang tahun Chrisye dengan semangat penuh harapan yang dilambangkan dengan lilin. Saat kita memperingati musisi tercinta ini, semoga kita juga tumbuh dengan kenangan indah dari orang-orang yang kita hargai!," kata Antares dalam Q&A tentang Doodle tersebut.

    Pada Sabtu, 14 September terlihat Erwin Gutawa juga turut mengenang mendiang Chrisye. Ia mengunggah konser mengenang sosok Chrisye dengan membuatkannya lagu baru berjudul "Kidung Abadi" pada akun YouTube-nya "Erwin Gutawa Production".

    Dengan nama asli Chrismansyah Rahadi, Chrisye awalnya diharapkan menjadi seorang insinyur oleh orang tuanya. Namun, ia memilih dunia musiknya dengan mengawali menjadi pemain bass dalam sebuah band di SMA bersama kakaknya, Joris.

    Pada akhir 1960-an dia menjadi anggota band Sabda Nada (yang kemudian berganti nama menjadi Gipsy), bersama Zulham Nasution, Keenan Nasution, Gauri Nasution, Onan dan Tami.

    Sabda Nada sering menghadiri sebuah diskotek generasi pertama di Jakarta, karena pada era tersebut alunan disko menjadi kegemaran baru anak muda untuk dinikmati. Chrisye yang saat itu pandai dalam meniru suara asli dari lagu yang ia nyanyikan, banyak disukai masyarakat.

    Pada tahun 1969 Sabda Nada berganti nama menjadi Gipsy karena dianggap lebih universal dan kebarat-baratan. Chrisye sempat keluar dari kampusnya UKI dan pindah ke Akademi Pariwisata Trisakti karena menganggap lebih fleksibel untuk dunia musiknya.

    Bersama Gipsy, Chrisye berhasil melambungkan karier musik nya di sebuah restoran Indonesia di New York. Namun, sebelumnya Chrisye sempat takut untuk menceritakan hal kebangaannya itu kepada ayahnya, yang menurutnya tidak akan setuju untuk mengambil kesempatan tersebut.

    Tak lama setelah itu, Chrisye jatuh sakit selama beberapa bulan dan Gipsy tetap pergi ke New York. Setelah Chrisye membicarakan nasib karier nya dengan sang ibu dan Joris, sang ayah akhirnya menyetujui untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

    Tahun 1973 Chrisye memutuskan untuk keluar dari Trisakti dan bergabung bersama Gipsy di Amerika. Setelah itu, ia membuat proyek musik bersama Gipsy dan Guruh Soekarnoputra dan melahirkan album rekaman rock bernama Guruh Gipsy dan sukses. Album itu menggabungkan unsur-unsur tradisional gamelan Bali dan instrumen konvensional.

    Tahun berikutnya, ia kembali ke New York dengan band lain, yaitu The Pro's bersama Broery Marantika, Dimas Wahab, Pomo, Ronnie Makasutji, dan Abadi Soesman. The Pro's juga merupakan salah satu band yang mengisi di Ramayana Restaurant, yang sebelumnya Chrisye hadir bersama Gipsy.

    Pertengahan tahun 1975, orang tuanya mengabarkan Chrisye dari Jakarta dan memberi tahu bahwa saudaranya Vicky meninggal karena infeksi lambung. Hal itu membuat Chrisye tidak fokus dalam berkarier di negeri paman sam tersebut dan akhirnya ia pulang ke Tanah Air. Rasa depresi dan tetesan air mata terus mengikutinya selama perjalanan pulang.

    Vakum beberapa waktu, Chrisye diajak Nasution bersaudara untuk bergabung dengan Gipsy dan Guruh untuk sebuah proyek baru. Chrisye mendapatkan posisi sebagai vokalis utama dalam proyek musik itu. Berhasilnya Guruh Gipsy meyakinkan Chrisye bahwa dia bisa menjadi penyanyi tunggal yang sukses di Indonesia.

    Pada tahun 1977, Chrisye menghasilkan dua karya terbaiknya, yaitu Lilin-Lilin Kecil yang ditulis James F. Sundah serta album fundamental dunia pop Indonesia, Badai Pasti Berlalu. Kesuksesan dua karya tersebut, Chrisye dilirik dan direkrut oleh label rekaman Musica Studio dan merilis album solo perdananya, Sabda Alam pada tahun 1978.

    Chrisye juga pernah mencoba untuk tampil di layar lebar, yakni pada film 'Seindah Rembulan' bersama Iis Sugianto. Pada 2002, Chrisye merilis album Dekade dan di tahun berikutnya Chrisye mengadakan konser bersama Erwin Gutawa dengan tajuk yang sama dengan albumnya di JCC Senayan.

    Chrisye merilis album Senyawa pada Oktober 2004, sebuah album kolaborasi unik dimana Chrisye mencoba menjadi vokalis dari berbagai grup musik papan atas di tanah air.

    Chrisye meninggal di rumahnya di Jakarta pada tanggal 30 Maret 2007 setelah bertahun-tahun berjuang dengan kanker paru-paru dan dimakamkan di TPU Jeruk Purut.

    Selama berkarier 40 tahun di dunia musik, Chrisye menerima banyak penghargaan, seperti menerima tiga BASF Awards untuk album paling laris pada tahun 1984 untuk Sendiri, lalu kedua pada tahun 1988 untuk Jumpa Pertama dan yang terakhir pada tahun 1989 untuk Pergilah Kasih.

    Pada tahun 1997 dia menerima penghargaan Anugrah Musik Indonesia (AMI) untuk Penyanyi Pop Terbaik, tahun berikutnya album Kala Cinta Menggoda menang sembilan AMI, termasuk menjadikannya Album Terbaik.


     



    (ASA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id