HARI FILM NASIONAL

    Merayakan Hari Film Nasional di Tengah Korona

    Dhaifurrakhman Abas - 30 Maret 2020 16:34 WIB
    Merayakan Hari Film Nasional di Tengah Korona
    Potongan film Darah dan Doa (Foto: Dok. Kemendikbud)
    Kancah perfilman mulai dikenal masyarakat nusantara pada 5 Desember 1900. Saat itu di Indonesia, yang masih bernama Hindia Belanda, didirikan sebuah bioskop pertama, di daerah Tanah Abang, Batavia.

    Film yang diputar kala itu merupakan film dokumenter perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag. Film ditampilkan tanpa suara alias silent movie. Oleh masyarakat dikenal sebagai Gambar Idoep

    Bioskop tersebut resmi dinamakan sebagai The Royal Bioscoope pada 28 Maret 1903.

    Pemilik bioskop ketika itu memberlakukan peraturan yang rasialis. Orang Tionghoa, Eropa, dan India minimal harus membeli tiket kelas II. Sedangkan orang Jawa dan Islam hanya boleh membeli tiket kelas III.

    Jejak Sineas Lokal Pertama

    Film pertama yang mengandung unsur Nusantara ialah Loetoeng Kasaroeng yang diproduksi tahun 1926. Film bisu tersebut digarap sutradara asal Belanda, G. Kruger dan L. Heuveldorp.

    Yang menarik, film ini melibatkan aktor lokal di bawah naungan perusahaan film JAWA NV di Bandung. Loetoeng Kasaroeng tersebut dirilis untuk publik pada 31 Desember, 1926 di teater Elite and Majestic, Bandung.

    Tak hanya Loetoeng Kasaroeng, pelibatan aktor-aktor lokal juga terjadi dua tahun kemudian. Saat itu, para pekerja film dari Shanghai ramai-ramai melipir ke Hindia Belanda buat memproduksi film Lily van Shanghai.

    Percobaan membuat film bicara mulai terjadi di tahun 1931. Dimulai dengan dirilisnya film lokal berjudul Boenga Roos dari Tcikembang (1931) besutan The Teng Chun. Bisnis perfilman mulai mendapat sambutan meriah oleh masyarakat lokal ketika dirilisnya film bertajuk Terang Boelan (1934) karya Albert Balink.

    Film Indonesia di Masa Pendudukan Jepang

    Antusias terhadao perfilman mulai merosot saat zaman pendudukan Jepang di nusantara periode tahun 40-an. Jepang merebut kekuasaan Belanda dan memanfaatkannya sebagai alat propaganda politiknya.

    Film-film diluar dari kepentingan politik Jepang dilarang diprodukai. Hanya beberapa film di jadul yang sudah pernah ditayangkan sebelumnya. Kontan, masa kekuasaan Jepang, dosebut sebagai masa suramnya produksi film nasional.

    Di tahun 1942 saja, perusahaan film Jepang Nippon Eigha Sha, hanya memproduksi tiga film saha berjudul Pulo Inten, Bunga Semboja, dan 1001 Malam. Karena sepinya produksi film baru, banyak para aktor san aktris kehilangan job.

    Akan tetapi, sebagian besar para seniman tak mau menyerah begitu saja. Mereka pun mencari cara agar bisa terus berkarya dengan menggelar pertunjukkan bermain di atas panggung dan memainkan sandiwara.

    Hari Film Nasional

    Gairah perfilman di Tanah Air mulai mengeliat selepas Jepang minggat dari Tanah Air. Hal ini dibuktikan dengan dirilisnya sebuah film garapan Usmar Ismail berjudul Darah dan Doa pada tahun 1950. Ini dianggap sebagai film pertama yang benar-benar digarap orang Indonesia.

    Mulai saat itu, Indonesia mulai mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini). Sutradara Darah dan Doa, Usmar Ismail, menjadi salah satu pendirinya.

    Sejak saat itu, tanggal 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Film Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1999.

    Hari ini, 70 tahun sudah Indonesia merayakan sinema sebagai bagian dari sejarah dan budaya bangsa.

    Badai Korona

    Sejarah 15 judul film Indonesia meraih jutaan penonton tampaknya akan sulit terulang di tahun ini. Pandemi virus korona atau Covid-19 melumpuhkan pergerakan industri hiburan termasuk film dan serial nyaris dalam sebulan.

    Skenario terburuknya, rumah produksi hingga Mei mendatang alpa memproduksi film. Kerja kolektif dengan sekurang-kurangnya 100 personel tak memungkinkan skema pembatasan jarak fisik untuk mencegah penularan virus.

    Bisa dimaklumi para bos produksi kini kelimpungan menghadapi efek domino pada proyek yang tengah berjalan. Penayangan sejumlah film kini ditunda seperti Guru Guru Gokil, Bucin, dan Tersanjung.

    Produksi film Yowis Ben 3 ikut ditunda. Film Mariposa yang baru tayang 12 Maret 2020 juga turun layar sebentar mengikuti kondisi penutupan sementara jaringan-jaringan bioskop.

    Penutupan bioskop mematuhi Surat Edaran dari Pemprov DKI Jakarta bernomor 60/SE/2020 tentang Penutupan Sementara Kegiatan Operasional Industri Pariwisata dalam Upaya Kewaspadaan Terhadap Penularan Infeksi Corona Virus Disease (Covid-19).

    Namun, habis gelap terbitlah terang. Harapan baru diprediksi bakal terjadi setelah tiga bulan ke depan, merujuk pemberitaan masa penyebaran korona terkini. Direktur Komunikasi Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) sekaligus pengamat film Ade Armando mengatakan, para sineas harus bersiap ketika permintaan konten meledak saat virus korona mereda.

    "Semestinya bounce up lagi ketika dulu pun setelah Perang Dunia II. Selalu ada siklus seperti itu. Begitu selesai masa krisis, orang menjadi lebih happy melihat dunia, lebih sering keluar rumah, makan, nonton. Dan biasa industri film itu salah satu yang akan justru dibanjiri oleh para penggemarnya segera sesudah krisis lewat," kata Ade Armando.

    Ade Armando melihat ini sebagai peluang pelaku kreatif menyiapkan lebih banyak ide dan konten segar. Menuruntya, virus korona tak betul-betul melumpuhkan pergerakan industri hiburan.

    "Sekarang enggak perlu buru-buru lagi bikin film, saking bioskopnya juga enggak ada. Barangkali bisa lebih menyiapkan film dengan lebih serius, waktunya lebih lama, enggak usah buru-buru," kata Ade Armando.

    Berdasarkan asumsi waktu penyebaran virus korona, selepas Lebaran bisa menjadi momentum menerbitkan konten. Pada masa ini bagian produksi dan distribusi perlahan kembali berjalan. "Ketika itulah strategi untuk pemasarannya sudah diperkuat," papar Ade Armando.






    (ASA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id