Penyebab Belum Banyak Karya Jurnalistik Indonesia Diangkat ke Film

    Elang Riki Yanuar - 21 Februari 2021 09:00 WIB
    Penyebab Belum Banyak Karya Jurnalistik Indonesia Diangkat ke Film
    All The President's Men tentang wartawan yang menyelidiki skandal Watergate. (Foto: warnerbros)



    Jakarta: Dunia film dan jurnalisme begitu dekat. Ada banyak film-film Hollywood yang dibuat atau terinspirasi dari karya jurnalistik. Begitu juga di Indonesia juga meski jumlahnya belum banyak.

    "Film dan jurnalisme punya sesuatu yang banyak tumpang tindih, dalam arti bagus. Hasil kerja jurnalistik bisa menjadi inspirasi," kata Tito Imanda dari Asosiasi Pengkaji Film Indonesia (Kafein) dalam webinar "Karya Jurnalistik yang Menginspirasi Filmmaker" yang digelar oleh Perum Produksi Film Negara (PFN).






    Di luar negeri, kata Tito, film-film yang diangkat dari sejumlah karya jurnalistik selalu menarik. Selain berdasarkan kisah nyata, film yang terinspirasi dari karya seorang jurnalis biasanya peristiwanya punya daya tarik tersendiri.

    Ada juga film yang membahas kisah di balik sebuah berita yang menggemparkan. Sebut saja seperti The Post yang mengangkat polemik di balik meja redaksi Washington Post dan All The President's Men tentang dua reporter Washington Post yang menyelidiki skandal Watergate.

    Sementara untuk di Indonesia, Tito mencontohkan film Remang-Remang Jakarta karya sutradara Lukmantoro DS dan Jakarta Undercover yang diangkat dari penelusuran Moamar Emka ke dunia esek-esek Tanah Air.

    "Film lainnya yang mengangkat kisah nyata dari liputan wartawan masih banyak fokus kepada investigasi kehidupan esek-esek ibu kota," ucap Tito.

    Tito lalu mencontohkan kasus-kasus korupsi besar di Indonesia. Lika-liku investigasi wartawan membongkar kasus korupsi hingga ancaman terhadap mereka sebenarnya cukup menarik untuk diangkat ke sebuah film.

    "Banyak cerita dari liputan. Ada wartawan yang diancam karena angkat kasus korupsi, hidupnya sudah kaya di film suspense. Tapi film tapi suspense kan memang belum banyak dibuat di Indonesia," ucap Tito.

    Banyak faktor yang menyebabkan film-film yang diangkat dari karya jurnalistik belum banyak di Indonesia. Salah satunya topik yang diangkat bisa jadi terlalu berat sehingga tidak menguntungkan secara bisnis.
     
    "Banyak yang bisa diangkat dari karya jurnalistik. Banyak sisi dramatis dalam hidup jurnalis. Problemnya bisa jadi, tidak ada karya yang bisa diangkat. Kedua, tidak ada informasi tentang karya wartawan yang bisa diangkat. Ketiga, bisa jadi tidak tertarik. Karena meski ada karya jurnalis yang bisa jadi inspirasi pasti sudah dibuat," kata Ketua Forum Pewarta Film, Teguh Imam Suryadi.



    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id