comscore

Penulis Ronggeng Dukuh Paruk akan Berhenti Menulis?

Rheza Ardiansyah - 20 Maret 2015 16:20 WIB
Penulis <i>Ronggeng Dukuh Paruk</i> akan Berhenti Menulis?
Tiga penari lengger dari Komunitas tari Wigati Banyumas menampilkan tari tradisional khas banyumas dalam peluncuran buku audio Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari di Jakarta, Jumat (7/3/2014). Foto: Antara/Teresia May).
medcom.id: Pada suatu siang seminggu lalu (9/3), begitu tahu akan bertemu Ahmad Tohari, saya membeli bukunya di sebuah toko. Bekisar Merah yang saya cari. Buku itu ditulis Ahmad Tohari setelah ia masyhur jauh terlebih dahulu dengan cerita bersambung Ronggeng Dukuh Paruk yang kemudian dibukukan pada 1981 hingga mewujud dalam film pada 2009.

Bekisar Merah rupanya tak ada di rak, yang ada Senyum Karyamin, kumpulan cerpen yang ditulis pengarang kelahiran Banyumas itu dalam rentang tahun 1976-1986. Tanpa pikir panjang, buku itu kemudian berpindah kepemilikan.
Hari kemudian berganti. Ini sehari setelah si buku dibeli. Saya akhirnya bersama pencipta Senyum Karyamin, Ahmad Tohari, di Kuala Lumpur. Kami sedang berada dalam perjalanan menuju Jerman, untuk sama-sama menghadiri Leipzig Book Fair. Saya meliput sebagai wartawan, ia berbicara sebagai penulis yang bukunya diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman.

“Kamu asli mana?” Pak Tohari mengawali percakapan.
“Sunda Pak, Garut. Bapak?” Saya berusaha terdengar akrab.
“Saya Purwokerto, campur Banyumas,” ujarnya datar.
“Tapi waktu saya baca kumpulan cerpen Mata Yang Enak Dipandang...,” Pak Tohari tergelak mendengar saya menggantungkan kalimat.

“Di tulisan terakhir, saya ingat berkisah tentang wanita sunda,” kalimat saya tandas.
Pandangan Pak Tohari menerawang menatap objek yang entah apa.
"Saya dulu ingin punya istri orang sunda. Kamu lihat kan bagaimana wanita sunda memperlakukan suaminya?"
"Oh jadi itu ditulis berdasarkan wanita yang Bapak kenal dulu?" Saya sengaja tidak menyebut kata pacar.
"Ya," jawabnya singkat bersama sesungging senyum.

Ahmad Tohari lahir di Banyumas, Jawa Tengah pada 66 tahun lalu. Cintanya pada kepenulisan lahir dari kisah pewayangan yang sering dituturkan sang kakek ketika ia muda. “Lalu cerpen saya mendapat hadiah dari radio Belanda,” kenangnya tentang cerpen bertajuk Jasa-Jasa buat Sanwirya yang diganjar sebagai pemenang Hadiah Hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang digelar oleh Radio Nederlands Wereldomroep.

Novelnya yang tersohor—selain Kubah (1980), Di Kaki Bukit Cibalak (1986), Bekisar Merah (1993)—tentu saja trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), dan Jentera Bianglala (1986) yang kemudian difilmkan dalam judul Sang Penari.

“Saya menulis Ronggeng Dukuh Paruk karena saya resah. Saya terganggu sekali dengan peristiwa ‘65 itu. Saat itu saya kelas 2 SMA, jadi ingatan saya sudah begitu tajam. Orang dibunuh di muka umum, ronggeng dikaitkan sama peristiwa ‘65. Mengerikan sekali. Makanya saya tidak mau nonton The Act of Killing. Itu kan rekonstruksi. Yang saya lihat jauh lebih mengerikan."

Tohari juga mengaku tersiksa selama 15 tahun itu. Novel Ronggeng Dukuh Paruk, ia tulis ketika berusia 28 tahun, dan dikerjakan selama empat tahun. Adalah Srintil, seorang penari ronggeng dari dusun Dukuh Paruk. Srintil adalah penari kebanggaan desa tempat tinggalnya. Namun prahara politik September 1965, menjerumuskannya dalam deretan nasib malang. Kisah cintanya dengan Rasus—yang juga putra Dukuh Paruk—menjadi liku cerita tersendiri yang menarik disimak.

"Dukuh Paruk benar-benar ada kan Pak?" Saya melempar tanya.

"Enggak itu fiksi. Lalu ada seorang laki-laki, namanya Munawar. Bilang dia dari Dukuh Paruk, di Desa Bandung Kecamatan Subah Kabupaten Batang. Dekat Semarang," ujarnya bersemangat.

Menarik. Paparan Pak Tohari mengingatkan saya ke novel Supernova seri pertama, Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh karangan Dewi Lestari. Atau ke film Stranger Than Fiction yang dibintangi Will Ferrel. Tapi kalau kisah Pak Tohari tentang Munawar dari Dukuh Paruk itu memang nyata. Kenyataan itu pasti berasal dari realitas yang terjadi dengan pelaku seni rakyat di masa genting itu. Kala ketika represi orde baru lahir dan bertahan hingga berusia 32 tahun.

"Bapak diapain sama orde baru?"
"Saya diperiksa. Diinterogasi. Untung Gus Dur menyelamatkan saya,"
"Saat itu beliau tokoh NU?"
"Ya, sudah berpengaruh nama Gus Dur saat itu. Mereka tanya, siapa yang bisa jamin bahwa kamu bukan PKI? Saya kasih nama Gus Dur dan nomor teleponnya, mereka nggak berani," kalimat Pak Tohari berjeda.
"Dua belas jam,"
"Bapak diperiksa 12 jam?"
"Bukan, ini perjalanan kita 12 jam lagi,"
"Oooooh", saya menertawakan diri sendiri.

Penulis <i>Ronggeng Dukuh Paruk</i> akan Berhenti Menulis?
Foto: Antara/Teresia May

Berhenti Menulis?

Di kota Leipzig , Jerman, Ahmad Tohari dipajang sebagai pengisi acara pertama di gerai Indonesia. Dalam pekan kepenulisan di kota belahan timur Jerman itu, topik komunisme di Indonesia medio 1965 yang didalami Ahmad Tohari, banyak diminati. Selain diskusi, mata acara di gerai Indonesia juga dilengkapi penayangan potongan film Sang Penari, yang diadaptasi dari novel karangannya. Penampilan tarian oleh seorang ronggeng, tentu tak terlewatkan.

Selain trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, kumpulan cerpen Mata Yang Enak Dipandang, akan diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan dijual di Negeri Panser itu. Ia akan berdampingan bersama Sembilan judul yang ditulis penulis Indonesia lain, sebagai titel yang dibeli hak cetak dan jualnya dalam helatan Leipzig Book Fair.

“Lagi nulis apa Pak sekarang?” Tanya saya pada suatu ketika.
“Anak muda sekarang berubah cepat, saya kesulitan menulis karena itu. Saya kan menulis buat anak muda. Ngapain buat yang tua-tua?”

Pada kesempatan lain, Pak Tohari mengucapkan sebuah pengakuan mengejutkan. Ia akan mengurangi frekuensi dan kecepatan menulis. Katanya ia merasa, sudah saatnya tongkat estafet kepenulisan diserahkan ke generasi yang lebih muda.

“Saya kira setelah pulang dari Amerika, mungkin akan pindah fokus dari pemikiran sastra dan fokus ke pengabdian sosial,” ujarnya.

Pada pertengahan Mei mendatang, Pak Tohari akan mengunjungi Negeri Paman Sam untuk keperluan penerjamahan novel Bekisar Merah. Setelah itulah, ia meyakini akan jadi babak baru dalam pengalaman kepenulisannya.

Meski demikian, kakek lima cucu ini tetap menyatakan bahwa menulis akan terus menjadi bagian dari hidupnya. Terlebih, Pak Tohari kini sedang terus mengembangkan sebuah majalah berbahasa lokal Banyumas. Ancas, demikian nama si majalah. “Ancas berarti tujuan, cita-cita, orientasi,” ujarnya menutup kisah.

(FIT)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id