Ernest Prakasa Kritisi Krisis Kru di Tengah Mekarnya Industri Perfilman

    Cecylia Rura - 30 Mei 2019 11:41 WIB
    Ernest Prakasa Kritisi Krisis Kru di Tengah Mekarnya Industri Perfilman
    Ernest Prakasa (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
    Jakarta: Sutradara, penulis naskah sekaligus komedian Ernest Prakasa mengkritisi kurangnya tenaga kerja di industri perfilman. Topik ini diangkat dalam cuitan berantai di Twitter sekaligus memaparkan alasan menggandeng sutradara dan penulis debut untuk film Ghost Writer.

    Dalam cuitan Ernest, dia menilai tiga tahun belakangan perfilman Indonesia sangat subur dan banjir investor. Hal ini menjadi titik balik masa lalu ketika para sineas dengan jumlah pekerja cukup bersusah payah mencari investor.

    "Sekarang, investor menyerbu perfilman Indonesia, kita tidak lagi kekurangan pemodal. Masalahnya, yang mengerjakan filmnya siapa? Sekarang ini perfilman kita tengah mengalami krisis crew," tulis Ernest, Kamis, 30 Mei 2019.

    Pekerja perfilman yang dimaksud adalah sineas di lingkaran perfilman seperti penata artistik dan penata kamera. Dia menilai, ada hambatan regenerasi tenaga kerja di dunia perfilman.

    "Kita enggak cukup cepat meregenerasi orang untuk merespon pertumbuhan industri," lanjut Ernest.

    Lantas, apakah Ernest sendiri telah melakukan langkah untuk regenerasi?

    Belakangan Ernest Prakasa mulai menggelar kelas menulis naskah skenario di beberapa kota. Buah dari kelas menulis itu dituangkan dalam film Ghost Writer yang menggunakan naskah dari Nonny Boenawan, peserta kelas menulis Ernest.

    Kesempatan ini digunakan Ernest untuk memulai debut Bene Dion sebagai sutradara film. Sebelumnya, Bene Dion ikut menyutradarai beberapa episode serial Cek Toko Sebelah yang tayang melalui platform streaming film. Dia juga menulis naskah untuk film Suzzanna Bernapas dalam Kubur dan Warkop DKI Reborn.

    "Gua pikir, kenapa enggak sekalian menjadikan ini proyek yang bukan hanya memberi ruang bagi penulis debutan, tapi juga sutradara," cuit Ernest.

    Bulan lalu, Joko Anwar turut mengkritisi SDM perfilman di Indonesia. Tak jauh berbeda dengan Ernest, dia mengkritisi tenaga film tidak hanya kekurangan dari segi kuantitas tetapi perlu diperhatikan kualitasnya. Dia juga memberi saran kepada pembuat film agar tidak asal membuat film sementara Indonesia menjadi pusat perhatian.

    Kabar kekurangan kru film ini juga telah sampai ke telinga Presiden Joko Widodo tahun lalu. Dia menyarankan, SMK sekaligus prasarana dan tenaga pendidiknya perlu dikembangkan.


     



    (ASA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id