Mengapa Joker dan Parasite Populer?

    Cecylia Rura - 23 Januari 2020 10:00 WIB
    Mengapa Joker dan Parasite Populer?
    Film Joker (Foto: warnerbros)
    Jakarta: Parasite dan Joker menjadi dua film populer mendominasi daftar nominasi Academy Awards ke-92. Kedua judul film ini memiliki potensi besar memperebutkan Piala Oscar 2020.

    Secara jumlah, film Joker unggul dengan 11 nominasi. Sementara Parasite memeroleh 6 nominasi. Mereka bersaing dalam kategori Best Picture, Best Director, dan Film Editing.

    Apa yang membuat keduanya begitu populer dan diperbincangkan? Sementara itu ada film Irishman, 1917, dan Once Upon a Time in Hollywood dengan 10 nominasi. Marriage Story, Jojo Rabbit, dan Little Women menemani Parasite dalam barisan peraih 6 nominasi.

    Sebelum film standalone Joker dirilis, alter-ego dari Arthur Fleck itu sudah memiliki penggemar fanatik yang mengikuti alur cerita Batman. Pemberitaan tentang Joker sejak awal produksi menggema dan menarik antusias penggemar DC Comics tepatnya pada 2018 saat Joaquin Phoenix diumumkan sebagai Young Joker untuk latar waktu 80-an Gotham City.

    Sebelum tiba di tangan Joaquin Phoenix, tongkat estafet pemeran Joker digilir kepada sejumlah aktor. Melansir Insider, aktor Cesar Romero adalah aktor pertama yang memerankan Joker dalam film panjang pertama Batman pada 1966. Saat itu Batman diperankan Adam West.

    Jack Nicholson mengambil alih peran Joker dalam Clown Prince of Crime (1989) yang disutradarai Tim Burton. Kemudian hadir aktor asal Australia Heath Ledger untuk peran Joker di The Dark Knight (2008) dengan sutradara Christopher Nolan. Ledger meninggal dunia pada usai 28 tahun setelah memerankan Joker dan meraih Piala Oscar.

    Jared Leto muncul sebagai Joker baru dalam Suicide Squad (2016). Jared Leto mendapat banyak kritik atas perannya. Dia pun tampak kurang menikmati memerankan tokoh supervillain tersebut karena banyak adegan Joker yang dipangkas.

    Joaquin Phoenix terpilih sebagai pemeran Joker untuk film standalone yang disutradarai Todd Philips. Dalam wawancara yang dikutip dari CinemaBlend, dia melakukan banyak spontanitas untuk mendapatkan gerak-gerik otentik Joker.

    Box Office Mojo mencatat, total pendapatan kotor yang diperoleh film Joker (2019) sebesar 1,069 miliar dolar AS atau setara Rp14,5 triliun. Angka ini fantastis untuk film berbujet 62,5 juta dolar AS atau setara Rp853 miliar.

    Indonesia menyumbang angka pendapatan kotor sebesar 13,5 juta dolar AS setara Rp184 miliar. UK yang terdiri dari empat negara Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia berkontribusi dengan 72,5 juta dolar AS setara Rp989 miliar, menyusul Jepang dengan 46,7 juta dolar AS setara Rp637 miliar. *(angka berdasarkan kurs Senin, 20 Januari 2020, 1 dolar AS setara Rp13,653,-).

    Joker versi Joaquin Phoenix hadir saat isu kesehatan mental ramai diperbincangkan di dunia. Menurut data terakhir dari World Health Organization pada 2016, pria berusia 10-29 tahun memiliki angka bunuh diri lebih tinggi dari perempuan. Sebanyak 79 persen kasus bunuh diri terjadi di negara dengan penduduk berpenghasilan menengah ke bawah pada 2016. Bunuh diri menempati peringkat ke-18 sebagai penyebab orang meninggal di tahun itu.

    Euforia tentang kesehatan mental pun makin populer ditumpangi dengan pemberitaan sejumlah selebriti dan publik figur dunia yang bunuh diri. Di antaranya Chris Cornell (2017), Chester Bennington (2017), Kim Jong Hyun (2017), Avicii (2018), Kate Spade (2018), Anthony Bourdain (2018), Sulli (2019), dan Jeon Misun (2019). Produksi film Joker dilangsungkan pada Mei 2018.

    Namun, korelasi isu kesehatan mental dan penggambaran sebab-akibat perwatakan tokoh Arthur Fleck dalam Joker dinilai tak berhubungan. Film Joker dinilai sebagai pemicu masyarakat makin membicarakan tentang isu kesehatan mental.

    Mengapa Joker dan Parasite Populer?
    Joker (Foto: warnerbros)

    Melansir Insider, Psikiatri Profesor Dr. Ziv Cohen mengatakan ada stereotip yang salah bahwa korban perundungan memiliki gangguan kesehatan mental hingga berubah menjadi sosok alter seperti Joker. Dia mencontohkan, Joker tak memiliki ciri-ciri spesifik penderita skizofrenia yang memercayai hal delusional dan tak memiliki motivasi untuk melakukan hal produktif. Karakter Joker juga dinilai tak menunjukkan adanya perilaku bipolar. Sebab, karakternya memiliki kontrol diri yang baik.

    "Dia pemikir yang sangat jernih, dapat melakukan tindak kejahatan rumit, diatur dengan baik, sangat termotivasi, dan mampu berinteraksi dengan orang lain pada tingkat lebih tinggi seperti memanipulasi. Selain itu, dia tidak menunjukkan bukti pemikiran delusi sama sekali," kata Cohen.

    Cohen menambahkan, Joker cenderung pada sikap psikopati atau gangguan kepribadian dengan perilaku antisosial yang persisten, gangguan empati dan penyesalan, memiliki sifat pemberani, dan egois. Tindak kriminal terjadi disebabkan bukan karena penyakit mental melainkan bukti psikopati dalam kehidupan sehari-hari. Penderita penyakit kejiwaan justru cenderung menjadi korban kriminal daripada sebagai pelaku.

    Sementara itu di Indonesia, popularitas Joker dapat disebabkan faktor euforia para pecinta film superhero dan promosi hingga viral di internet. "Parasite fenomenalnya memang karena viral. Kalau Joker, pertama promosinya. Sejak sebelumnya kita sudah dengar sebelumnya Joker-Joker-Joker. Pas nonton, (shock). Ya, tapi sepanjang tahun berapa film kayak begitu? Ada Joker, Avengers, Captain Marvel," kata Ade Armando, Direktur Komunikasi Saiful Mujani Research and Consulting di Jakarta Pusat.

    Parasite dan Fenomena Hallyu

    Parasite hadir di bioskop Indonesia sejak 24 Juni 2019 melalui distribusi dari CBI Pictures. Sutradara Bong Joon Ho menggambarkan realita kesenjangan sosial melalui keluarga Park dan Kim. Parasite kian menggema setelah berhasil menjadi film Asia yang masuk dalam nominasi Oscar 2020.

    Secara angka, Parasite memeroleh total pendapatan kotor 139 juta dolar AS setara Rp1,9 triliun. Memang jauh jika dibandingkan dengan perolehan total pendapatan kotor film Joker. Sementara itu, Amerika Serikat berkontribusi dengan pendapatan kotor 28 juta dolar AS setara Rp84 miliar. Kendati cukup laris di Amerika, Bong Joon Ho menolak jika dilibatkan dalam proyek film Marvel. Sebab, dia merasa tidak ada kecocokan satu sama lain dengan pihak Marvel.

    "Saya tidak pernah berpikir Marvel akan menginginkan sutradara seperti saya," ungkapnya dalam podcast The Big Ticket, dilansir dari Indie Wire.

    Apa yang kemudian membuat Parasite begitu populer di antara film-film Asia lain sehingga mampu menembus nominasi Oscar ke-92? Jika dilihat di Indonesia, popularitas Parasite dapat ditumpangi dengan fenomena hallyu. Penggemar segala macam produk dan aktivitas hiburan dari Korea Selatan di Indonesia memiliki pasukan besar untuk menggemakan hal berbau konten sang idola. Hal ini tampak ketika sejumlah idola mereka hadir di Indonesia. Popularitas ini pun tak terlepas dari pembicaraan di masyarakat.

    "Ada faktor Korea. Penonton CGV yang pecinta Korea itu satu. Pecinta Korea kemudian ngomong, sehingga orang seperti saya yang enggak suka Korea, 'serius bagus?'. Akhirnya nonton," kata Ade Armando.

    Mengapa Joker dan Parasite Populer?

    Film-film Boong Joon Ho juga tak jarang mengangkat kisah kesetaraan seperti pada Snowpiercer (2013) dan Okja (2017). Bong Joon Ho juga populer dengan drama kriminal Memories of Murder (2003), serial pembunuhan berantai di Korea Selatan. Cerita berangkat dari kisah nyata yang terjadi atas kasus pembunuhan 10 perempuan tahun 1986 dan 1991 di Seoul. Drama ini turut dibintangi aktor Song Kang Ho, salah satu pemain utama dalam film Parasite.

    Joker dan Parasite begitu menggema setelah viral di internet. Di luar aktivitas promosi, Joker sendiri sudah memiliki penggemar tetap yang mengikuti kisah Batman dalam DC Universe. Parasite berangkat dari Korea Selatan dengan pertumbuhan industri hiburan yang kian pesat baik di bidang musik maupun film. Rekam jejak sutradara Bong Joon Ho dan kerangka cerita yang berangkat dari fenomena sekarang ikut menarik penonton baru.

     



    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id