Pengalaman Berharga Prisia Nasution dari Film Sang Penari dan Sokola Rimba

    Cecylia Rura - 02 Juli 2020 20:46 WIB
    Pengalaman Berharga Prisia Nasution dari Film Sang Penari dan Sokola Rimba
    Prisia Nasution dalam Ngobrol Daring Studio PFN dan Medcom.id, Kamis 2 Juli 2020.
    Jakarta: Aktris Prisia Nasution mendapat peran utama dalam film Sang Penari dan Sokola Rimba. Kedua film tersebut sangat lekat dengan kearifan lokal Indonesia. Prisia melakukan pendekatan budaya ketika mendalami karakter Srintil di Sang Penari.

    "Bagaimana caranya mereka berinteraksi satu sama lain, cara mereka makan, mereka duduk pun beda, jadi justru pas aku ke Banyumas sudah bawa bekal waktu masih di Jakarta, coba terapkan di sana tapi pastinya banyak serapan-serapan juga yang diambil dari lokal," kata Prisia Nasution dalam Ngobrol Daring bersama Studio PFN dan Medcom.id, Kamis 2 Juli 2020.

    Pendekatan budaya untuk peran Srintil di Sang Penari diakui membutuhkan waktu kurang lebih setahun. Prisia yang tak memiliki latar belakang budaya Jawa menggabungkan idenya tentang Srintil dengan Ifa Isfansyah yang memang memiliki latar belakang budaya Jawa.

    "Aku berusaha bagaimana caranya kami membentuk karakter Srintil dari dua kepala ini jadi satu, di kepala Mas Ifa Srintil seperti ini, di kepalaku Srintil seperti ini akhirnya nyambung," kata Prisia Nasution.

    Sedangkan untuk peran Butet Manurung dalam film Sokola Rimba, Prisia Nasution meminta waktu dua minggu lebih awal kepada Riri Riza untuk berkenalan dengan anak-anak lokal. Sebab, sulit untuk menjelaskan proses syuting film kepada anak-anak di Sokola Rimba yang tak bersentuhan dengan teknologi.

    "Untuk masuknya saja susah, bukan cuma lokasi, untuk masuk ke hati anak-anak Rimba juga susah karena mereka sering sakit hati juga sama orang luar, orang kita yang sudah berbajulah, sering dianggap bodoh, sering sikerjai, dijahati, jadi mereka sendiri untuk penerimaan kita susah," jelas Prisia.

    "Aku bilang sama Mas Riri, boleh enggak aku datang dua minggu sebelumnya karena aku mau interaksi langsung sama mereka, mau belajar bahasa langsung sama mereka supaya ketika kami bisa hidup bareng aku makan apa yang mereka makan," kata Prisia.

    "Mereka bisa sepercaya itu juga sama aku, semoga pada saat kami interaksi benar-benar enggak ada lagi border antara orang kota yang pura-pura jadi bu guru, enggak ada yang pura-pura jadi murid," lanjutnya.

    Prisia Nasution pun memuji akting para anak-anak Sokola Rimba. Sebab, mereka merespons natural tanpa referensi menonton televisi atau medium apapun. "Benar-benar mereka pakai rasanya mereka," kata Prisia.

    Hal lain yang mengharukan ketika Prisia Nasution yang sudah terikat secara batin dengan anak-anak Sokola Rimba harus berpisah. Anak-anak Sokola Rimba merasa sudah terikat sehingga ikut emosional ketika mengetahui profesi Prisia Nasution yang harus beranjak dari Sokola Rimba.

    "Untuk masuk saja diterima sebagai warga lokal berat, ketika sudah masuk, lagi dekat-dekatnya harus cabut, justru bagian-bagian itu yang seru tapi kadang-kadang berat juga," terang Prisia.

     



    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id