PFN Ingin Bioskop Rakyat Diperbanyak

    Medcom - 21 Februari 2020 18:48 WIB
    PFN Ingin Bioskop Rakyat Diperbanyak
    Bioskop Rakyat Indiskop di Pasar Jaya Teluk Gong (Foto: MI)
    Jakarta: Keterbatasan jumlah layar di seluruh Indonesia dengan harga tiket menonton film yang relatif tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat, mendorong Perum Produksi Film Negara (PFN) mencari solusi yang sekaligus bisa menjadi peluang bagi kaum milenial. Perum PFN telah mengubah Studio 3 menjadi inkubator start-ups bidang film, sebagai tempat belajar sekaligus praktek mengelola Bioskop Rakyat.

    Saat ini di Indonesia baru ada 2000-an layar, sementara kebutuhan keseluruhannya hampir 10.000 layar di 521 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Minat nonton film Indonesia setiap tahunnya terus meningkat. Ini waktunya bagi anak muda Indonesia untuk dapat berkreasi dan berkarya dalam dunia industri perfilman.

    "Belajar dari sukses pelaksanaan percobaan Bioskop Rakyat di Gedung Jasindo, Kota Tua yang dibuka selama berlangsungnya Festival Perempuan dalam Film, Seni dan Budaya pada Desember 2019 lalu, kami melihat bahwa konsep Bioskop Rakyat bisa dilanjutkan di tempat lain. Salah satunya adalah di studio PFN. Fasilitas yang ada di PFN memungkinkan bioskop rakyat ini berkesinambungan. Kami berharap program ini bisa menjadi inkubator lahirnya Bioskop Rakyat di tempat lain, yang dikelola oleh para pecinta film atau komunitas film," kata sineas Erwin Arnada dalam keterangan tertulisnya.

    Inisiatif mendekatkan Kompleks Studio dan Kantor Pusat Perum PFN kepada masyarakat, juga terkait dengan rencana kerjasama antara PT WIKA Realty dengan Perum PFN di atas lahan seluas 2 hektar milik PFN ini di mana akan dibangun sebuah kompleks dengan 4 Studio Produksi Film dan Creative Hub yang rencananya siap pada 2023.

    (PFN) juga membuka kantornya untuk publik di luar kalangan perfilman. Bukan saja untuk menimbulkan kesadaran akan pentingnya peran negara dalam pengadaan film yang bermutu dan bernilai pendidikan, serta berpijak pada kebudayaan nasional.

    Inisiatif mengizinkan pagelaran the last Ideal Paradise oleh seniman ternama Claudia Bosse di beberapa studio dan area kompleks PFN, juga membuktikan komitmen Perum PFN dalam perannya membangun manusia Indonesia seutuhnya. The last Ideal Paradise adalah sebuah instalasi dan karya spesifik-lokasi yang diselenggarakan Goethe-Institut Indonesien.

    "Film adalah suatu bentuk kesenian, dan kesenian merupakan bagian dari budaya. Manusia yang utuh, idealnya mempunyai keterminatan pada budaya secara utuh pula. Tidak saja mengapresiasi film, tetapi juga melengkapi diri dengan keterminatan pada bentuk seni lainnya, khususnya yang berinteraksi langsung antar-manusia, semisal teater dan pertunjukan hidup lainnya," kata Direktur Utama Judith J. Dipodiputro tentang alasan mendukung pagelaran yang merupakan hasil kerjasama seniman dari empat negara.

    "Harapan kami, diawali kerjasama dengan Goethe-Institut Indonesien ini, semakin banyak seniman dan budayawan yang menyadari bahwa Studio produksi film juga bisa bertransformasi menjadi panggung pertunjukkan yang baik, terutama dalam kelangkaan gedung pertunjukan di negara kita," imbuh Rita M. Darwis, Kepala Produksi Multiple Platforms.

     



    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id