Film Indonesia Berpotensi Sukses seperti Parasite, Asal...

    Cecylia Rura - 12 Februari 2020 19:00 WIB
    Film Indonesia Berpotensi Sukses seperti Parasite, Asal...
    Lukman Sardi. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
    Jakarta: Kemenangan film Parasite dalam Oscar 2020 ikut membanggakan sejumlah insan film Indonesia. Kemenangan ini sekaligus menjadi prestasi perwakilan Asia mencetak sejarah di ajang penghargaan tertinggi bagi insan film di dunia. Ketua Festival Film Indonesia periode 2018-2020, Lukman Sardi melihat potensi besar Indonesia mengadaptasi kesuksesan Parasite.

    "Sangat (berpotensi). Ini sebenarnya bisa menjadi motivasi buat Indonesia bahwa Parasite membawa sebuah cerita yang hampir terjadi di banyak dunia. Keluarga miskin, keluarga kaya," ungkap Lukman Sardi kepada Medcom.id di Jakarta Selatan.

    Lukman menilai, pemerintah masih menganggap film sebelah mata. Sementara di Korea Selatan, pada pelaku kreatif difasilitasi dan didukung penuh untuk memproduksi film berkualitas.

    "Permasalahannya adalah bagaimana pemerintah kita punya blue print yang kuat tentang film Indonesia. Korea membangun industri filmnya enggak sebentar. Itu campur tangan pemerintahnya besar sekali," ungkapnya.

    Korea Selatan tampak serius mendukung industri kreatifnya berkembang. Hal ini tampak dari beberapa sektor industri seperti musik K-pop, budaya, hingga film menjadi buah bibir di berbagai negara. Hal ini tentu berdampak pada sektor lain seperti pariwisata dalam diplomasi melalui industri kreatif.

    "Ini yang harus disinergikan. Enggak bisa filmmaker kerja sendiri. Filmmaker harus bikin film tapi selama tidak ada peraturan-peraturan yang bisa mendukung mereka, itu akan sulit," kata Lukman.

    Hal lain yang meresahkan, industri film kini tak jelas sektor pemerintah mana yang menaungi dengan serius. Sebut saja saat masih ada Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf), program Akatara menjadi mak comblang bagi calon produser dengan sineas. Sementara itu Pusbang Film ini dilebur dengan beberapa unit kerja menjadi Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru (PMMB).

    "Sekarang problem-nya film beberapa kali berpindah-pindah. Sempat di pariwisata kreatif, departemen pendidikan kebudayaan, sempat ada pusbang film. Problem-nya masih menganggap film 'yaudah' proses kreatif saja. Mereka belum melihat bahwa film ini punya efek yang besar banget untuk sesuatu," kata Lukman.

    Pernyataan selaras juga dipaparkan pengamat film Wina Armada tempo hari. Dia menuturkan, pemerintah memiliki andil besar dalam memajukan industri perfilman Indonesia.

    "Potensi kita sangat besar, tapi belum optimal. Belum ada perencanaan yang matang. Industri film juga oleh negara masih terpinggirkan sehingga negara harus lebih hadir untuk menunjang perfilman. Harus ada strategi perfilman yang terarah dan jelas. Ini belum ada. Jadi masing-masing bekerja sendiri," kata Wina kepada Medcom.id.

    Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film) pada akhir Januari lalu resmi berganti nama menjadi Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru (PMMB). Instansi ini merupakan peleburan Pusbang Film dengan beberapa unit kerja berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan. Ahmad Mahendra telah dilantik sebagai Direktur PMMB.
     



    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id