Butuh Regenerasi, The Panas Dalam Buat Kelas Film Musim Hujan

    Aditya Prakasa - 25 Juni 2019 18:52 WIB
    Butuh Regenerasi, The Panas Dalam Buat Kelas Film Musim Hujan
    Kelas Musim Hujan (Foto: dokumentasi Kelas Musim Hujan)
    Bandung: Jutaan bahkan film telah berhasil diciptakan dan ditonton untuk menghibur masyarakat Indonesia. Namun sayangnya, Indonesia saat ini masih kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk membuat film-film.

    Untuk menjawab tantangan tersebut dan regenerasi para pembuat film, kini telah diadakan Film Kelas Musim Hujan di Kota Bandung. Kegiatan itu diadakan oleh The Panas Dalam Movie yang telah sukses menciptakan film Dilan 1990 dan Dilan 1991.

    "Kelas Film Musim Hujan ini tujuannya untuk regenerasi filmmaker di Kota Bandung khususnya. Kalau sudah banyak (SDM), otomatis produksi film jadi semakin banyak," kata Direktur The Panas Dalam Movie Dani Rahman usai kegiatan Kelas Musim Hujan di Bandung Creative Hub (BCH), Kota Bandung.

    Diakui Dani, saat ini untuk membuat film yang berkualitas di Indonesia masih mengalami kendala soal kekurangan SDM. Dengan diadakannya Kelas Musim Hujan, dia berharap mampu menciptakan generasi baru yang memiliki potensi untuk memproduksi film.

    "Saat pembuatan film Dilan, Baracas dan Koboi Kampus, jujur kami (The Panasdalam Movie) merasa kekurangan kru dari Bandung, baik kru yang sudah di atas atau masih pemula, khususnya pemula. Kami sulit mencari potensi-potensi itu, akhirnya kami bikin Kelas Musim Hujan ini," kata Dani.

    Dani mengatakan, fasilitas lengkap soal produksi film, saat ini masih berada di Jakarta. Namun dia juga berkeinginan untuk membuat Kota Bandung menjadi kota yang mampu memproduksi banyak film berkualitas.

    "Tujuan kita juga menggeser poros produksi dari Jakarta ke Bandung, tapi ekosistem di sini belum terbentuk utuh. Bandung sangat cocok jadi pusat film di Indonesia karena di negara lain juga poros industri film itu bukan di kota kapital. Seperti di Amerika Serikat itu Hollywood di California, Cannes di Perancis, dan Mumbai di India," kata Dani.

    Tantangan lainnya dalam perfilman, yaitu masalah finansial. Dani mencontohkan, meski keuntungan yang didapat dari film Dilan berkali-kali lipat, namun modal yang dibutuhkan untuk dua sekuel film Dilan 1990 dan 1991 masing masing bisa mencapai Rp20 miliar.

    "Memang masalah finansial karena kita juga harus mengurusi soal izin lokasi syuting yang enggak murah juga. Tapi kalau fimnya sukses, otomatis menggaet industri lain. Contoh kasusnya film Dilan yang paling mudah, walaupun kita gak produksi secara ofisial (merchandise) tapi banyak orang yang mendapatkan manfaat baru. Di Bandung itu lokasi syuting Dilan dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata," ucap Dani.

    Terkait urusan permodalan produksi film pendek para peserta, Kelas Film Musim Hujan menggandeng Nevix, platform digital permodalan khusus dunia perfilman. Hal itu bisa mempermudah para pembuat film untuk tetap mampu menciptakan film berkualitas.

    “Nevix sendiri memang konsen di industri perfilman, karena yang dilihat growth dari industri ini sangat bagus, sangat menarik. Angkanya mencapai 50 juta (penonton) di tahun 2018, itu film Indonesia saja,” kata Ragil Raditya, CEO Nevix.

    Ragil menjamin permodalan produksi film yang diberikan oleh Nevix bisa menjaga idealisme film agar tidak tercampur dengan kepentingan bisnis.

    “Karena ada juga proses pembuatan film berhenti di tengah jalan, mereka kekurangan dana. Ada juga yang masukin sponsor tapi akhirnya esensi film jadi rusak, penonton di Indonesia itu kritis-kritis loh," ujar dia.

    Untuk menjamin hal tersebut, Ragil mengatakan jika Nevix menggunakan sistem permodalan dengan mencari investor sebanyak-banyaknya dengan  mempublikasikan terlebih dahulu ide project film yang sudah siap untuk diproduksi.

    Keuntungan untuk investor nantinya akan disesuaikan dengan jumlah uang yang diberikan sesuai kesepakatan. Selain itu, Nevix nantinya akan ikut mengatur manajemen finansial agar pembukuan produksi film bisa lebih teratur.

    “Untuk berkontribusi itu bisa dari minimum Rp100.00. Mungkin enggak dapat profit sharing dari filmnya, tapi dia sudah berkontribusi ke film itu.  Dia bisa dapat eksklusif merchandise misalnya, tiket premier misalnya. Dan yang pasti, penjualan tiket premier sudah terjadi sebelum film dibuat,” kata Ragil.

    P. Aditya Prakasa



    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id