Ulasan Si Doel The Movie

    Agustinus Shindu Alpito - 29 Juli 2018 07:00 WIB
    Ulasan Si Doel The Movie
    Cuplikan trailer Si Doel The Movie (Foto: YouTube Falcon)
    Sosok Si Doel dalam perkembangannya bukan saja sekedar tokoh fiksi tentang anak Betawi yang berjuang menggapai cita-cita tinggi di tengah berbagai problematika sosial budaya yang melekat pada zamannya. Si Doel kini adalah bagian dari ikon Betawi dan atau anak Jakarta itu sendiri. 

    Melalui Si Doel, ribuan anak Betawi terpacu untuk bersekolah tinggi-tinggi. Juga lewat Si Doel, budaya Betawi dikenal luas oleh masyarakat luar Jakarta. Baik lewat novel maupun serial televisi.

    Bisa dibilang, Si Doel The Movie adalah bagian dari ambisi kembali menghidupkan tokoh Si Doel yang selama ini mungkin telah terkubur karakter-karakter fiksi lain yang mencuri hati masyarakat melalui film. Ini bukan kali pertama Rano mengangkat kembali Si Doel pasca serial televisi Si Doel Anak Sekolahan yang tayang sebanyak 124 episode di televisi (1994-2003). Pada 2005, Rano membuat serial Si Doel Anak Gedongan, disusul dengan Si Doel Anak Pinggiran (2011).

    Baru pada 2018 akhirnya Rano mengangkat Si Doel ke "level" yang lebih tinggi, melalui layar lebar. Bukan lagi medium televisi. Atau mungkin kembali ke "fitrah" karena pada mulanya Si Doel memang merupakan sebuah novel yang diangkat ke film bioskop (Si Doel Anak Betawi - 1972 dan Si Doel Anak Modern - 1976).

    Baca juga: Laporan Eksklusif Premier Si Doel The Movie di Belanda

    Si Doel The Movie adalah sebuah konsep yang matang dari Falcon Pictures bersama Karnos Film untuk benar-benar membuat Si Doel hidup lagi. Mereka mengemas kisah Si Doel dengan penuh perhitungan. Cerita drama yang lebih kompleks, visual yang estetis dan segala sesuatu yang digemari masyarakat film era kini. Termasuk melibatkan band yang sukses secara komersial, Armada, untuk membawakan ulang lagu Si Doel Anak Betawi.

    Bermula dari kepergian Si Doel ke Belanda, konflik cinta segitiga antara Doel, Sarah dan Zaenab kian rumit. Mereka bertiga adalah karakter protagonis. Justru hal ini yang membuat cerita Si Doel menarik. Seakan tidak ada satupun tokoh yang pantas disalahkan atas konflik cinta segitiga ini. Hal itu membuat kita yang menonton ikut geregetan dan "baper" dengan apa yang terjadi.

    Si Doel terbang ke Belanda bersama Mandra untuk memenuhi undangan Hans yang butuh beberapa pernak-pernik untuk festival budaya Tong Tong Fair. Tak disangka, Doel justru bertemu Sarah di sana. Padahal, Si Doel telah hidup bersama Zaenab di Jakarta.

    Doel tidak bisa serta-merta memilih satu di antara dua, Sarah atau Zaenab. Karena Doel terikat tanggungjawab, juga komitmen. Posisi Doel benar-benar dihadapkan pada situasi "buah simalakama."

    Seperti film drama lain, tumpuan utama adalah pada kualitas naskah dan akting. Beruntung film ini melewati dua hal itu. 

    Harus diakui, Mandra punya peran besar dalam Si Doel The Movie. Banyolan Mandra membuat film ini begitu cair. Kita tak begitu saja dihanyutkan oleh peliknya drama romantika Doel, Sarah dan Zaenab. Tetapi juga dibuat terhibur dengan tingkah Mandra yang selalu hadir nyaris di tiap peristiwa-peristiwa penting dan juga genting dalam film ini. 

    Hal lain yang perlu diapresiasi adalah bagaimana Rano Karno selaku sutradara mempertahankan orisinalitas Si Doel Anak Sekolahan. Rano mempertahankan pemain-pemain asli Si Doel Anak Sekolahan. Mereka yang sudah berpulang pun tidak dipaksakan masuk dalam cerita melalui pemeran pengganti. 

    Ulasan Si Doel The Movie
    Para pemeran Si Doel The Movie saat premier di gedung pertunjukan Pathe Tuschinski, Amsterdam, Belanda (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)

    Mengutip pernyataan Rano soal Si Doel The Movie, film ini adalah awal dari perjalanan panjang. Rano menyiapkan beberapa kemungkinan soal kelanjutan Si Doel, persiapan itu termasuk dengan menggaet Rey Bong. Aktor muda yang berperan sebagai Dul, anak Doel dengan Sarah. Melalui Dul, Rano berencana akan kembali mengangkat kehidupan masyarakat Betawi sekaligus membangun hubungan ayah-anak yang sempat terputus setelah kepergian Babe (Benyamin Sueb).

    "Soal edukasi budaya Betawi, harus dari anaknya Doel, Dul. Anak ini lahir di Eropa, di Belanda. Dia harus mencari lagi akarnya (sebagai keturunan Betawi), Menarik ini konsep, seperti Benyamin (Babe) dan Doel," kata Rano kepada Medcom.id di Amsterdam, beberapa waktu lalu.

    Baca juga: Maudy Koesnaedi Beri Alasan Kenapa Penonton Harus Menjadi Tim Zaenab

    Si Doel The Movie memang bukan satu-satunya film atau serial lawas yang dihidupkan kembali di dunia perfilman Indonesia belakangan ini. Tetapi setidaknya Si Doel The Movie punya daya tarik tersendiri karena masih menghadirkan pemeran utama yang sama dengan Si Doel Anak Sekolahan yang kita kenal selama ini. Sebuah hal yang sulit dilakukan film-film "remake" Indonesia lainnya. Meski demikian, mereka tidak semata menjual nostalgia. Rano bersama tim produksi sebisa mungkin mempertahankan roh Si Doel sebagai ikon Betawi, tapi juga relevan dengan kebutuhan konten drama dalam film. Jika Si Doel The Movie adalah awal dari perjalanan panjang, Rano dan tim produksi sudah mengawali perjalanan itu dengan baik.

    Si Doel The Movie tayang serentak di bioskop pada 2 Agustus 2018.


     



    (ASA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id