Ulasan Film Joker

    Cecylia Rura - 04 Oktober 2019 14:33 WIB
    Ulasan Film Joker
    Joaquin Phoenix sebagai Joker (Foto: warnerbros)
    Jakarta: Pelawak tunggal Arthur Fleck gagal menjadi orang lucu. Pekerjaan si pria tua lajang kesepian, yang juga anak mama, sebagai badut sewaan menambah derita dan pilunya di tengah kekacauan kota Gotham pada 1981.

    "Ini perasaanku saja, atau orang-orang di luar sana semakin gila?" kata Arthur dalam sesi konsultasi rutin dengan dokter kejiwaannya setelah babak belur dihantam segerombolan remaja.

    Arthur merespons lawan bicara dengan tawa patologis, reaksi yang tidak semestinya. Penyakit ini disebabkan kelainan saraf dan trauma di kepala. Tawa ini membawanya pada situasi salah tafsir dan mengancam nyawanya.

    Meski tinggal di sebuah apartemen kumuh bersama Penny Fleck, ibu Arthur, mereka yakin punya hubungan keluarga dengan Thomas Wayne, borjuis di Gotham, ayah Bruce Wayne. Penny dulu bekerja di istana Keluarga Wayne dan disinyalir memiliki hubungan asmara.

    Fakta yang mungkin dikaburkan dalam bingkai klise hubungan gelap majikan dan asisten rumah tangga menyematkan romantisasi tersendiri. Penny rajin memberi kabar dan menantikan Wayne membalas suratnya. Dia bahkan rutin menyaksikan Wayne di televisi saat orasi.

    Arthur mendapat julukan Joker dari seorang presenter televisi, Murray Franklin yang bersikap manis padanya dalam sebuah reality show setelah sukses memecah tawa penonton dengan tawa maniaknya. Tersanjung dengan pujian "Anak Baik", Joker tak segan menyambut hangat tawaran manis Murray untuk kembali tampil di TV dan mencoba menampilkan aksi perdananya dalam entitas Joker.

    Joker menampilkan dialog alegoris tentang sekat tipis antara komedi dan tragedi. Baginya, komedi adalah pendapat subyektif. Dia menertawakan setiap tragedi berdarah dalam hidupnya yang dianggap penuh rekayasa. Joker membersihkan orang-orang yang berbohong dan mengganggunya. Praktisnya, dia membersihkan masalah dengan menghabisi sumber masalah.

    Sikap pesimistis Joker dalam hidup bak menarik ulur empati, mempermainkan pikiran lawan bicara dan menempatkan diri sebagai korban dalam skema situasi playing victim atas dasar sakit hati. Tawa patologis itu berubah menjadi ciri khas yang tak disesali untuk menertawakan tragedi hidup sepi dan terabaikan.

    Joker mendapat panggilan sayang Happy dari ibunya sejak kecil. Prinsip ini diorkestrasi lagu Smile dari Jimmy Durante yang menyiratkan pesan untuk selalu tersenyum dalam menghadapi keadaan. Scoring musik lawas yang menyematkan lagu-lagu Frank Sinatra menunjukkan Joaquin Phoenix sebagai aktor underrated dengan kemampuan menari yang sangat baik saat merayakan kemerdekaan hidupnya.

    "Ibuku selalu mengatakan untuk tersenyum dan memasang wajah bahagia. Dia bilang aku punya tujuan untuk membawa tawa dan sukacita ke dunia," kata Joker.

    Kisah badut yang menertawakan tragedi kehidupannya ini menuntut Joaquin Phoenix mengubah drastis bentuk tubuhnya menjadi kurus kering. Dia menonjolkan tulang rongga dadanya dalam setiap adegan shirtless.

    Sinematografi kelam dan warna-warna temaram memberi nuansa bittersweet kehidupan Joker dalam pengandaian-pengandaian hidup "What If" yang membuatnya bahagia. Termasuk hubungan asmara.

    Joker menjadi gambaran sikap paling anarki yang memberontak atas hak kemerdekaan hidupnya. Selain merindukan pelukan seorang ayah, dia merasa dikhianati kenyataan pahit dari ibunya. Sepatutnya memang tak ditonton bersama anak-anak yang belum bisa menafsirkan pesan-pesan alegoris serta adegan eksekusi nyawa tanpa ampun dalam film psycho-bloody-thriller ini.

    Kisah Joker kali ini disinyalir menjadi film standalone bagian dari label DC Black yang tak berhubungan dengan cerita DCEU. Dalam laporan LA Times Agustus lalu, sutradara Todd Phillips menawarkan label DC Black kepada Warner Bros. dengan cerita karakter-karakter komik DC yang lebih dewasa, gelap dan kejam.

    Siap menertawakan tragedi bersama Joker?

    Joker

    Sutradara: Todd Phillips
    Penulis naskah: Todd Phillips, Scott Silver
    Produser: Todd Phillips, Bradley Cooper, Emma Tillinger Koskoff
    Distribusi: Warner Bros. Pictures
    Pemain: Joaquin Phoenix, Frances Conroy, Zazie Beetz, Robert De Niro, Brett Cullen
    Durasi: 122 menit
    Klasifikasi LSF: 17+
    Rilis di bioskop Indonesia: 2 Oktober 2019


     



    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id