Cerita Empat Sutradara Dokumenter Menembus Batas Negeri

    Medcom - 14 Agustus 2020 14:52 WIB
    Cerita Empat Sutradara Dokumenter Menembus Batas Negeri
    Salah satu cuplikan dokumenter yang mengambil latar lokasi di Sabang (Foto: dok. Eagle Institute)
    Jakarta: Perayaan kemerdekaan kerap menjadi momen bagi para sineas untuk mengeksplorasi kreatif mereka. Tahun ini empat dokumenteris mencoba membuat karya yang memotret masyarakat di perbatasan negeri mulai dari Sabang, Merauke, Miangas hingga Rote. Ini merupakan bagian dari program Melihat Indonesia yang bertajuk Merajut Nusantara Secara Digital.

    “Ada empat film yang akan ditayangkan dalam program nanti, seluruhnya mengambil angle
    cerita di perbatasan negeri. Untuk efisiensi waktu jadi kita membagi menjadi empat tim yang
    nantinya dibagi menjadi empat judul short film yaitu Asa di Negeri Timur, Surga di Malole, Satu
    Harapan di Titik Nol dan Suara dari Utara,” tutur Gilang Akbar sutradara film Asa di Negeri
    Timur yang mengambil latar belakang syuting di Merauke, Papua tersebut.

    Fokus Film ini bercerita tentang bagaimana jaringan aksesibilitas internet dan telepon di daerah
    perbatasan, kini dapat membantu masyarakat sekitarnya dalam berbagai sektor seperti
    ekonomi, kesehatan, pariwisata hingga pendidikan.

    Wisnu Prasetyo sutradara film Surga Nusa Malole mengatakan Tantangan di setiap daerah
    ketika syuting itu berbeda-beda. Karena konten dibagi menjadi empat kategori yang
    disesuaikan dengan potensi di sana.

    “Aku buat film di Rote yang tujuan awalnya angkat soal potensi wisata. Tapi kita tahu semua
    karena pandemi ini pariwisata kita lumpuh, jadi kita harus pintar-pintar ambil angle cerita,”
    ungkap Wisnu.

    Film lainya yang mengambil cerita perbatasan Sabang Aceh berjudul Satu Harapan di Titik Nol
    yang mengangkat kisah para nelayan kawasan tersebut di era digital. 

    “Film Satu harapan di titik nol memfokuskan cerita pada kisah para nelayan yang kini mendapat
    kemudahaan dalam melaut. selain GPS para nelayan juga kini selalu membawa handphone
    ketika melaut. Karena sinyal sudah bagus mereka bisa memasarkan ikan sambil perjalanan
    pulang,” tutur sutradara asli kelahiran Aceh tersebut.

    Dari semua tim produksi, nampaknya proses syuting di Miangas lah yang paling menyita energi.
    Butuh waktu hingga 10 hari agar tim bisa sampai ke pulau tersebut.

    “Kami sempat berhari-hari tertahan di Melonguane, talaud, tidak bisa menyebrang karena tidak
    ada kapal laut yang beroperasi, akhirnya dua kali sewa kapal speedboat milik warga tapi tetap
    tidak bisa menembus lautan, sampai akhirnya kami mendapat bantuan menaiki pesawat dari
    salah satu perusahaan pemerintah,” ungkap Eko Rejoso sang sutradara Suara dari utara. 

    Keempat sutradara yang tergabung dalam project film merajut Nusantara secara digital ini
    merupakan lulusan program Eagle Awards Documentary Competition yang rutin
    diselenggarakan oleh Eagle Institute Indonesia setiap tahunya.

    Cerita lengkap terkait film ini bisa dilihat dalam program dokumenter Melihat Indonesia
    dengan judul Merajut Nusantara Secara Digital yang tayang pada minggu 16 Agustus
    2020 di Metro TV pukul 10.30 wib.
     

    (ASA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id