6 Sinopsis Film Dokumenter Indonesia di IF/Then Asia Tenggara 2020

    Cecylia Rura - 10 Juni 2020 20:40 WIB
    6 Sinopsis Film Dokumenter Indonesia di IF/Then Asia Tenggara 2020
    Film Homebound. (Foto: Dok. In-Docs)
    Jakarta: Enam dari 19 proyek dokumenter yang difasilitasi program IF/Then Asia Tenggara 2020 berasal dari Indonesia. Mereka berkesempatan bertemu dengan para mentor dan industri dokumenter internasional dalam acara yang digelar pada 17-23 Juni 2020 secara virtual.

    IF/Then Asia Tenggara tahun ini adalah edisi kedua setelah digelar pada 2018. Program ini terjadi atas kerja sama lembaga nirlaba dokumenter di Indonesia, In-Docs dan Tribeca Film Institute, didukung Kedutaan Amerika Serikat untuk Indonesia.

    Berikut enam sinopsis film dokumenter Indonesia di program IF/Then Asia Tenggara 2020 merujuk keterangan resmi dari In-Docs:

    1. Hi Boy (Indonesia)

    Rahmi Murti (Sutradara), Wini Angraeni (Produser)

    Logline: Hiroki sering dirundung di sekolah. Namun, setelah bergabung di grup penggemar K-Pop di sekolahnya, ia menemukan lingkaran baru yang suportif yang membantunya mengumpulkan kekuatan untuk menerima dirinya sendiri.

    Sinopsis: Hiroki, remaja gempal berusia 14 tahun, bersekolah di sebuah sekolah swasta di Bali. Kebanyakan temannya adalah perempuan dan dia sering dirundung karena badannya yang gemuk. Hiroki sering tidak dianggap oleh anak laki-laki di sekolahnya. Saat pelajaran olahraga, mereka tidak mengajak Hiroki ikut bermain basket atau sepakbola, bahkan mengabaikannya ketika Hiroki meminta untuk ikut bermain.

    Hiroki bahkan diberi nama panggilan, “Pusat Gempa”. Walaupun sering kesal dan sedih, Hiroki mencoba untuk tidak begitu ambil pusing, tapi ejekan teman-temannya berdampak negatif terhadap imaji tubuhnya. Di rumah, Hiroki biasa mendengarkan musik K-pop, salah satunya boyband BTS. Hiroki merasakan energi positif dari lirik-lirik lagu BTS yang liriknya ia cari di Youtube.

    Beberapa teman perempuan Hiroki di sekolah juga penggemar K-pop. Hiroki datang ke acara-acara K-pop dan bergabung dengan fanboy dan fangirl dari banyak fandom di Bali. Dengan inilah Hiroki sejenak melupakan ejekan-ejekan yang ia terima di sekolah. Hiroki menemukan lingkarannya sendiri.

    2. Homebound (Indonesia)

    Ismail Lubis (Sutradara), Nick Calpakdjian (Produser)

    Logline: Meninggalkan keluarga demi bekerja di luar negeri selama bertahun-tahun itu sulit. Namun, terkadang pulang kampung itu jauh lebih sulit.

    Sinopsis: Sebagai pekerja rumah tangga dan ibu tunggal dari Indonesia, Tari akan pulang ke Jawa Tengah pada tahun 2020 setelah 6 tahun bekerja di luar negeri di sebuah panti jompo di Taiwan. Tari meninggalkan Indonesia untuk mencari penghasilan yang lebih baik dari yang ada secara  lokal, dan ingin membuktikan kepada almarhum ayahnya bahwa ia dapat menjadi mandiri, berpendidikan, dan bertanggung jawab atas keluarganya. Tetapi Tari bingung tentang masa depannya.

    Dia mempertanyakan apakah dia dapat menggunakan sumber dayanya yang baru untuk bekerja. Berasal dari keluarga Muslim konservatif, dia berjuang dengan bagaimana dia akan berhubungan dengan ibunya setelah terkena gaya hidup yang dia rasa telah membebaskannya. Seperti banyak pekerja migran Indonesia, Tari pernah menikah, tetapi suaminya meninggalkannya untuk wanita lain.

    Anak-anaknya telah dirawat oleh ibunya sendiri. Dia meninggalkan Indonesia untuk kehidupan yang lebih baik. Tetapi Tari juga sangat berbeda. Dia bekerja di panti jompo swasta dengan upah dan kondisi yang lebih baik daripada kebanyakan. Dia belajar di universitas dan menjadi penulis yang diterbitkan. Putranya lulus dari sekolah menengah atas. Dia telah menggunakan kesempatannya untuk meningkatkan hidupnya.

    Tari melambangkan impian bagi banyak pekerja rumah tangga. Tari bukan tanpa kesulitannya. Sebagai seorang remaja, dia hamil dan menikah. Ibunya sendiri menyalahkannya atas kematian ayahnya dan dia telah ditipu secara finansial oleh pekerja pabrik di Taiwan. Tetapi, dia tetap positif. Pada bulan Agustus 2020, Tari berencana untuk pulang ke Semarang, Jawa Tengah.

    3. How To Sell Piety (Indonesia)

    Yovista Ahtajida (Sutradara)

    Logline: Eksperimen seorang seniman membuat musik Islami yang sukses sambil membongkar hubungan industri budaya pop dan kesalehan massa Indonesia.

    Sinopsis: HOW TO SELL PIETY (ISLAM.INC) mendokumentasikan eksperimentasi proyek seni multimedia oleh Yovista Ahtajda, seorang seniman yang sering menggunakan Islam dan kaitannya dengan Kapitalisme sebagai tema dalam seninya. Yovista merespon pola industri media dan hiburan yang menghasilkan nilai-nilai Islam dengan menciptakan dirinya sebagai komoditas: penyanyi dan penulis lagu "viral" musik religi.

    Dia berkonsultasi dengan berbagai ahli dengan latar belakang yang beragam: musik, iklan, hingga sejarah untuk mencari formula ampuh menjual musik hit dan kesalehan kepada massa. Berdasarkan penelitian dan temuannya, ia bereksperimen dengan musiknya, dengan harapan penjualan musiknya sukses. Dibuat dalam gaya tutorial YouTube, film ini mengkritik banalitas media dalam menjual Islam, sambil mempertanyakan batas-batas bentuk film dokumenter yang telah mapan.

    4. Looking for Haven (Indonesia)

    Andi Hutagalung (Sutradara, Produser), Tedy Pasaribu (Produser)

    Logline: Khawatir dengan kepunahan burung-burung pantai di sepanjang pantai timur Sumatra, Nchay, seorang peneliti, mendedikasikan hidupnya untuk melindungi burung-burung tersebut dan ekosistem mereka.

    Sinopsis: Chairunas Adha Putra (Nchay) meneliti burung air selama 11 tahun di sepanjang kawasan pesisir pantai timur pulau Sumatera. Melintasi perjalanan jauh dengan tantangan yang selalu berbeda di setiap lokasi pengamatan dan penelitian. Bertemu pemburu dan kondisi perubahan fungsi lahan pesisir mendorongnya untuk turut mengedukasi pengenalan dan persoalan burung air kepada masyarakat di kawasan pesisir.

    Dengan pembiayaan seadanya, ia terus mengampanyekan hasil-hasil penelitiannya kepada lembaga burung internasional dan pemerintah, membuat jurnal penelitian dan berkontribusi foto-foto temuannya. Dalam perjalanannya, Nchay menemukan sebuah pulau mangrove, seluas 400an hektar tak berpenghuni dan tak berstatus hukum yang jelas, tempat berkembang biaknya Milky Stork, burung terancam punah yang hanya tersisa 1.600 individu di dunia, dan ini menjadikan tantangan terberat dalam perjuangannya.

    5. Rabiah and Mimi (Indonesia)

    Arfan Sabran (Sutradara), Nick Calpakdjian (Produser)

    Logline: Rabiah dan Mimi, ibu dan anak, mengabdikan hidup mereka untuk memberikan pelayanan kesehatan di pulau-pulau terpencil di Laut Flores, Indonesia.

    Sinopsis: Film kami dimulai pada tahun 2020, ketika Mimi yang sedang hamil besar bersiap untuk kelahiran anak ketiganya dalam waktu dekat. Dia baru saja pulang dari bekerja di pulau-pulau di Laut Flores dan kembali rutin merawat kedua anaknya, mempersiapkan mereka untuk sekolah dan kegiatan keluarga mereka.

    Saat dia di rumah, suaminya pergi bekerja di sebuah pulau terpencil dan ibunya, Rabiah, mengambil alih mengurus tugas-tugas Mimi di rumah karena belum ada pengganti resmi yang ditawarkan. Bertemu dengan Rabiah di pulau-pulau, kita mendapatkan wawasan tentang bagaimana sistem medis bekerja, tantangan yang dihadapi, dan mendengar bagaimana itu telah (atau belum) berubah selama 30 tahun Rabiah bekerja.

    Ketika saatnya tiba, kami melakukan perjalanan kembali ke Sulawesi dengan Rabiah, meninggalkan pulau tanpa perawat medis saat ia membantu putrinya melahirkan. Di rumah bersama Mimi, bayinya yang baru lahir, dan Rabiah, kami melanjutkan kisah itu melalui kehidupan keluarga mereka dan ritual yang dilakukan dengan seorang bayi yang baru lahir. Kami tinggal bersama Mimi ketika ibunya kembali ke pulau sampai Mimi dan bayinya cukup kuat untuk kembali bekerja.

    Sekitar 2 bulan akan berlalu dan kami kemudian mengikuti Mimi kembali bekerja. Kembali ke pulau-pulau terpencil, kami menjelajahi tantangan yang dihadapi Mimi setiap hari mengelola pusat kesehatan. Tugasnya tidak hanya untuk merawat orang-orang tetapi juga untuk menyediakan pendidikan dengan harapan hal itu mengurangi kebutuhan untuk perawatan di masa depan ke tingkat yang sama.

    Ketika masalah pecah di pulau-pulau terpencil, Mimi meninggalkan bayi mudanya dengan seorang teman dan melakukan perjalanan dengan perahu lokal melalui laut yang berbahaya untuk merawat orang sakit dan terluka. Masalah yang berkaitan dengan kehamilan, diabetes, malnutrisi, dan berbagai infeksi dari luka dan goresan sederhana harus ditangani. Mimi tidak pernah yakin apa yang akan terjadi setiap kali ia mulai bekerja.

    Hidup bisa keras di pulau-pulau terpencil. Sangat penting untuk menghabiskan banyak waktu dengan Mimi dan keluarganya di pulau-pulau terpencil serta kota asal mereka di Sulawesi. Kami tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi (dan kapan) dalam keadaan darurat medis atau masalah serius tetapi mendokumentasikan keluarga, kehidupan pribadi dan sehari-hari Mimi akan mengungkapkan masalah penting dan menarik untuk dijelajahi.

    Arfan menggunakan pendekatan observasional dan dengan hubungan yang panjang dengan protagonis, ia memiliki kemampuan bawaan untuk menangkap adegan intim dan kuat. Secara visual kami menarik perhatian audiens terhadap keterpencilan lokasi dan jarak yang sangat jauh yang harus ditempuh untuk menjangkau pasien. Bagian timur Indonesia dan lautnya adalah keindahan untuk dilihat dan kita dapat membandingkan ini dengan kenyataan nyata dari pekerjaan mereka

    6. A Sonorous Melody (Indonesia)

    Riani Singgih (Sutradara), Annisa Adjam (Produser), Muhammad Ismail (Co-Produser)

    Logline: Seorang pembuat wayang dan penyanyi bahasa isyarat, membawa kita ke perjalanan hidup mereka sebagai seniman Tuli, yang menggunakan media kreatif untuk menembus batas-batas bertutur konvensional dalam dunia yang termarginalisasi.

    Sinopsis: Mufi dan Ayu merupakan dua seniman tuli yang menggunakan medium seni yang berbeda, Mufi sebagai penyanyi bahasa isyarat dan Ayu seorang pelukis dan pembuat Wayang Sodo. Walau dengan perbedaan medium dalam berkarya, mereka memiliki ambisi yang sama yaitu memberdayakan diri melalui seni bercerita.

    Seorang Tuli di Indonesia hingga saat ini masih kesulitan mendapatkan akses di ruang komunikasi publik termasuk di komunitas seni. Mufi yang tinggal di kota Jakarta masih tetap merasa kesulitan mendapatkan inklusivitas. Walaupun Mufi sudah berkolaborasi dengan seniman musik ternama di Indonesia, Mufi masih harus berjuang untuk mendapatkan tempat agar seorang Tuli dapat mengekspresikan diri.

    Ditambah lagi dengan situasi Mufi yang baru saja kehilangan sang Ayah, di mana beliau lah salah satu suporter terbesar dalam hidupnya. Mufi kini  terus mencari kekuatan untuk bergerak maju dan pantang menyerah. Mufi secara terus menerus beradvokasi untuk memberdayakan kekreativitasan teman tuli khususnya pada bidang seni musik. Mufi kemudian melanjutkan langkahnya dan berpartisipasi sebagai bintang tamu untuk tampil pada salah satu festival musik terbesar di Indonesia.

    Di sisi lain, Ayu yang tinggal di Wonosari, Jogjakarta memiliki kesulitan yang berbeda. Ayu terpaksa berhenti sekolah saat ia duduk di bangku kelas tiga SLB karena kesulitan biaya dan transportasi. Karena itu, Ayu tidak pernah belajar membaca dan menulis apalagi belajar berkomunikasi dengan bahasa isyarat yang sejatinya merupakan kebutuhan mutlak untuk Ayu yang seorang Tuli. Saat ini, Ayu masih bergantung kepada ibunya dalam perihal berkomunikasi.

    Namun ia memiliki beberapa mentor yang menginspirasinya untuk mengasah keterampilan seninya. Ayu kemudian mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pameran seni, kini ia berusaha mengeksplorasi gaya seni yang sesuai dengan pesan apa yang ingin ia ekspresikan melalui karya seninya

    Senandung Senyap adalah perpaduan pembuatan film Veritae dengan adegan surealis yang mempertunjukkan bagaimana Ayu dan Mufi berekspresi melalui seni untuk menceritakan perjalanan keduanya dalam memberdayakan serta mengembangkan kepercayaan diri dan juga menumbuhkan kepercayaan dari sekitarnya.

     

    (ELG)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id