Dokumenter Michael Jackson, Mengungkap Pelecehan Seksual sang Raja Pop

    Purba Wirastama - 27 Januari 2019 17:18 WIB
    Dokumenter Michael Jackson, Mengungkap Pelecehan Seksual sang Raja Pop
    Michael Jackson (Foto: Dok AFP)
    Utah: Leaving Neverland, film dokumenter tentang Michael Jackson garapan sutradara Dan Reed, mengejutkan para penonton di Sundance Film Festival 2019. Film berdurasi empat jam ini mengungkap pengakuan dua pria yang menjadi korban kekerasan seksual sang Raja Pop itu sejak anak-anak.

    Leaving Neverland, yang judulnya diambil dari nama properti mewah milik Jackson, tayang perdana di Sundance pada Jumat, 25 Januari 2019. Film ini akan dirilis oleh Channel 4 dan HBO pada Maret mendatang.

    Menurut laporan Variety, sesi penayangan empat jam itu mengungkap banyak hal mengejutkan dan mengganggu tentang kekerasan seksual Jackson dari sudut pandang Wade Robson dan James Safechuck, dua pria yang mengaku sebagai korban. Bahkan pihak festival menyediakan layanan kesehatan bagi penonton yang tertekan dan butuh konseling segera.

    James, lewat film itu, bercerita bahwa banyak tempat di Neverland yang punya celah tersembunyi dengan tempat tidur. Dia dilecehkan oleh sang raja pop itu di banyak tempat, termasuk bilik terkunci berdinding cermin satu arah di bioskop dan loteng di stasiun kereta.

    Kala itu, James kecil juga pernah diberikan bingkisan perhiasan mahal atas kontak seksual itu. Menurut James, Jackson bilang ke penjaga toko bahwa perhiasan adalah hadiah untuk seorang perempuan dan bahwa James diajak karena ukuran tangan mereka sama. Dia diancam akan dipenjarakan bertahun-tahun jika melapor.

    Baca juga: Lima Lagu Favorit Virzha

    Sementara itu Wade kecil pernah dibelikan mesin faksimili. Dari mesin ini, Wade kecil menerima berbagai "surat cinta" dari Jackson. Saking banyaknya, ibu Wade mengatakan "ruang keluarga bisa dipenuhi faksimili".

    Saat remaja, Wade pernah diperkosa. Pada hari berikutnya, sekretaris pribadi Jackson memaksa Wade untuk melenyapkan pakaian dalamnya yang berdarah.

    Banyak protes berdatangan terkait pemutaran film ini, baik dari pihak Jackson maupun para penggemar. Bahkan menurut The Guardian, kedua subyek dokumenter dan sutradara mendapat ancaman pembunuhan dari penggemar. Sementara itu, situs web IMDB yang memuat informasi film ini juga sempat diacak-acak oleh penggemar.

    Dalam wawancara dengan TMZ, Wade menyatakan gembira atas dampak positif yang bisa dibawa filmnya bagi para penyintas pelecehan seksual anak-anak. Tujuan utamanya, peningkatan kesadaran dan penceganan.

    "Ini lebih dari sekadar soal Michael," kata Wade.

    "Saya tidak bisa mengubah apa yang terjadi pada saya, tetapi yang saya bisa lakukan sekarang adalah membuat dampak kecil bagi orang lain. Bagi saya, ini soal kesadaran, membantu penyintas lain, dan pencegahan," tuturnya.

    Jauh sebelum film ini dibuat, Wade dan James pernah menjadi saksi dalam sidang pengadilan kasus pelecehan seksual anak-anak yang dituduhkan ke Jackson. Kala itu, mereka menyangkal tuduhan kontak seksual dan Jackson dinyatakan bebas.

    Namun beberapa tahun setelah Jackson meninggal, Wade dan James mulai mengungkap cerita sebaliknya. Mereka mengaku mengalami kekerasan seksual sejak usia tujuh tahun dan 10 tahun. Mereka baru benar-benar menyadari dampak buruk kejadian itu secara psikologis setelah dewasa.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id