Arkipel 2019 Usung Tema Bromocoroh

    Agustinus Shindu Alpito - 20 Agustus 2019 18:50 WIB
    Arkipel 2019 Usung Tema Bromocoroh
    Otty Widasari tengah membacakan pidato kuncinya pada Forum Festival ARKIPEL bromocorah – 7 th Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival. (Foto: Dok. Arkipel)
    Jakarta: Festival film Arkipel kembali digelar untuk ketujuh kali. Pada tahun ini, Arikpel digelar pada 18 hingga 26 Agustus 2019, di dua lokalsi di Jakarta, yaitu GoetheHaus dan Museum Nasional.

    Pada tahun ini, Arkipel mengusung tema Bromocorah. Tema ini dipilih mengacu pada fenomena sosial di Indonesia, sejak era pra-kemerdekaan hingga hari ini. Di mana para "bromocorah" memiliki peran signifikan di masyarakat. Termasuk soal realasi kekuasaan, relativitas hukum, jaringan politik-kebudayaan, dan kesejahteraan sosial.

    Bromocorah sendiri diambil dari kata "bramacorah" yang menurut kamus Bahasa Indonesia berarti orang yang melakukan pengulangan tindak pidana.

    "Mengambil istilah lokal khas Indonesia dan meyakininya sebagai kata yang memiliki pengertian yang lentur, ARKIPEL memosisikan “bromocorah” sebagai konsep progresif yang menyimpan banyak kemungkinan interpretatif bagi sinema, baik di ranah eksperimentasi bahasa/estetika, praktik produksi, maupun sudut pandang dalam menerjemahkan gejala-gejala global sekarang ini," seperti tertulis dalam keterangan pers.

    Arkipel membuka tujuh program dalam festival tahun ini, yaitu Kompetisi Internasional, Kuratorial Bromocorah, Candrawala - local landscape of now, Presentasi Khusus, Penayangan Khusus, Forum Festival, dan Pameran Kultursinema.

    Total 50 film dari 33 negara masuk dalam festival ini. 28 film di antaranya masuk dalam program Kompetisi Internasional. Terdapat 2 film produksi Indonesia yang lolos ke program Kompetisi Internasional.

    Empat juri dipilih untuk menjadi juri dalam kompetisi itu, mereka adalah Hafiz (Indonesia), Mahardika Yudha (Indonesia), Akbar Yumni (Indonesia), dan Scott Miller Berry (Kanada).

    Forum Lenteng selaku komunitas yang menggelar Arkipel merupakan kelompok yang kerap berdiskusi tentang ragam fenomena sosial-budaya-politik. Mereka secara konsisten mengangkat sinema sebagai medium yang dianggap peka terhadap perubahan dan dinamika sosial.

    “Gagasan festival ini adalah menyuarakan bagaimana persoalanpersoalan
    kebudayaan dapat dibaca dalam kurun waktu tertentu. Idealnya, festival film dapat menjadi event yang menghadirkan capaian puncak sutradara-sutradara dari berbagai kalangan, baik secara estetika dan kontennya,” jelas Hafiz Rancajale selaku Direktur Artistik Arkipel.
     

    (ASA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id