Ini Film Pemenang Eagle Awards 2019

    Dhaifurrakhman Abas - 21 November 2019 07:00 WIB
    Ini Film Pemenang Eagle Awards 2019
    Pengumuman pemenang Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2019 (Foto: Medcom/Abas)
    Jakarta: Tiga dari lima film finalis dokumenter terpilih menjadi pemenang ajang Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2019 di CGV Grand Indonesia pada Rabu 20 November 2019. Juara pertama diberikan pada film Paguruan 4.0.

    Film garapan Abdi Firdaus dan Lyanta Laras Putri itu menceritakan perjuangan para tenaga pendidik sekolah-sekolah di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Meski tinggal di pelosok desa, para pendidik  berusaha mengikuti perubahan global terkait kemajuan teknologi.

    Sementara juara kedua digaet film berjudul Torang Ma Ampung. Film garapan Maryani dan Fahimatukannah itu bercerita mengenai  seseorang yang berupaya membuat perkampungannya diterangi listrik. Kampung itu terletak di Jorong Bukit Malintang, Kecamatan Sungai Aur, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera barat.

    Sosok inspiratif itu bernama Pak Suhdi, seorang pelopor pembangunan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro). Suhdi menggagas pembangunan PLTMH karena prihatin saat anak-anak di kampung tifak bosa belajar karena mati listrik.

    Di tempat ketiga disabet film berjudul Jejak Sinyal di Kaki Egon karya Theresia Sude Malinto dan Katarina Makthildis. Film ini menceritakan perjuangan masyarakat Sikka, NTT mendapatkan sinyal.

    Hal itu juga dirasakan Wilhelmina, seorang gadis Desa Natakoli berusia 26 tahun yang merasakan susahnya mendapatkan sinyal di tengah keluarganya yang sedang sakit. la susah payah memanjat pohon untuk dapat menghubungi petugas kesehatan di Puskesmas.

    Tiga film ini telah melalui tahap seleksi dari ratusan proposal yang diserahkan peserta. Ketiga film itu telah dipilih oleh sineas ternama seperti Anggy Umbara, Sha Ine Febriyanti dan Yandy Laurens.

    Sementata itu Presiden Direktur Metro TV Suryopratomo berharap ajang EADC 2019 dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia pentingnya media komunikasi untuk menyatukan bangsa dari ujung Barat hingga Timur Indonesia. Pasalnya, Indonesia harus terus berproses untuk menjadi Indonesia.

    "Sejarah besar Indoensia dimulai saat Presiden Soekarno meluncurkan satelit Palapa. Satelit itu berhasil menghubungkan kita sebagai negara kepulauan terbesar," katanya di CGV Grand Indonesia, Rabu 20 November 2019.

    Selain itu dia berharap film domumenter ini dapat menggerakkan sineas muda untuk selalu berkreativitas. Apalagi film-film dokumenter sanggup menggambarkan fenomena yang terjadi dengan cara yang menghibur.

    "Metro TV dan Eagle Award bangga bisa menghasilkan sineas muda. Kita jadi bisa melihat realitas di daerah. Mudah-mudahan ini bisa menjadi inspirasi bahwa kita bisa memberikan yang terbaik untuk negeri ini," tandasnya.

     



    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id