Ulasan Film Mantan Manten

    Purba Wirastama - 03 April 2019 14:48 WIB
    Ulasan Film Mantan Manten
    Atiqah Hasiholan dalam Mantan Manten (Foto: Visinema Pictures)
    Yasnina begitu terpukul. Sebagai manajer investasi di Jakarta, dia memiliki jasa besar dengan mendatangkan klien kelas kakap bagi perusahaan. Namun di luar dugaan, Iskandar, rekan dan sekaligus ayah dari tunangannya, berkhianat dan membuat dirinya didepak dari perusahaan setelah mereka menghadapi masalah besar.

    Semua hartanya ludes. Rencana pernikahan tidak pasti. Surya (Arifin Putra), calon suaminya, tidak bisa membantu banyak. Kendati pengacara tidak yakin mereka menang, Yasnina (Atiqah Hasiholan) tetap ingin melawan secara hukum. Sebuah rumah di Tawangmangu, aset terakhirnya yang aman karena belum balik nama, hendak dijual untuk menjadi modal perlawanan tersebut.

    Masalah dan setitik harapan ini menuntun Yasnina pada Maryanti (Tutie Kirana), dukun paes manten terhormat di sekitar Solo yang tidak punya penerus. Maryanti adalah pemilik rumah itu sebelumnya, tetapi masih tinggal di sana karena suatu hal. Maryanti bersedia melepaskan nama pemilik sertifikat, tetapi dengan syarat: Yasnina harus membantunya sebagai asisten dukun paes manten.

    Yang belum Yasnina tahu, seluruh rangkaian peristiwa itu ternyata saling terkait dan tampak serba kebetulan. Kendati dia punya kehendak bebas, seolah-olah pengalaman dan pilihannya adalah suratan takdir yang membawanya ke titik itu. Titik hidup yang memberinya kesempatan memahami keikhlasan.

    Gagasan utama film ini, seperti yang digaungkan oleh produser Anggia Kharisma dan Kori Adyaning, adalah tentang ketangguhan perempuan dalam titik terendah hidup. Gagasan ini dibungkus lewat kisah kehilangan Yasnina dan perjuangannya mendapatkan dirinya kembali.

    Namun sebetulnya, perjalanan kisah ini menawarkan banyak gagasan menarik lain untuk dibicarakan. Misalnya, tradisi dan ritual paes manten Jawa yang masih dijaga erat, kehidupan tidak adil bagi orang-orang di luar lingkaran kekuasaan, ironi orang-orang yang teguh menjaga tradisi tetapi mengabaikan komitmen, betapa orang-orang jahat sepertinya sulit mendapat ganjaran, atau bagaimana kehendak bebas menjadi suatu bentuk kemewahan.

    Yasnina mewakili orang-orang tangguh dan berbakat dari kalangan bawah, tetapi lebih sering kalah dari orang-orang besar yang tidak lebih baik. Dia juga mewakili orang-orang tanpa latar belakang dan akar budaya jelas, tetapi mendapat tempat bukan karena garis keturunan. Namun pada akhirnya, tetap ada harga yang harus dibayar.

    Dengan banyak gagasan itu, aspek penceritaan film ini rasanya masih bisa lebih baik. Namun para pemain memberikan penampilan luar biasa yang membuat film ini lebih kuat. Hampir seluruhnya memberikan penampilan terbaik, terutama Tutie Kirana dan Atiqah Hasiholan. Tanpa banyak dialog pun, akting Tutie sebagai Maryanti mampu membuat orang segan.

    Ardy, asisten Yasnina yang diperankan oleh Marthino Lio, adalah tokoh yang tidak kalah penting karena lewat perspektifnya, penonton mampu lebih dekat dengan kisah Yasnina secara emosional.

    Apakah Yasnina akhirnya menang melawan Iskandar? Itu persoalan lain hari. 



    Mantan Manten

    Sutradara: Farishad Latjuba
    Penulis naskah: Farishad Latjuba dan Jenny Jusuf
    Produser: Anggia Kharisma dan Kori Adyaning (Visinema Pictures)
    Rilis Indonesia: 4 April 2019
    Klasifikasi LSF: 13+
    Durasi: 102 menit
     



    (ASA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id