BEKraf: Kru Film Masih Sangat Kurang

    Cecylia Rura - 20 September 2019 21:00 WIB
    BEKraf: Kru Film Masih Sangat Kurang
    Endah Wahyu Sulistianti, Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah BEKraf di Jakarta Pusat, Jumat, 20 September 2019. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
    Jakarta: Suburnya industri film Indonesia rupanya belum selaras dengan jumlah pekerja film di balik layar. Meski konten dan investor terpenuhi, kebutuhan SDM disadari pemerintah setelah berbincang dengan para produser film.

    "Kru film kita masih sangat kurang. Jadi layar juga dibutuhkan, kru film juga dibutuhkan. Jadi curhatan teman-teman asosiasi produser ini ketika mereka mau produksi film, kru sinematografer dan kameramen dipakai, tarik sana (proyek lain) harus nunggu dulu," kata Endah Wahyu Sulistianti, Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah dari Badan Ekonomi Kreatif ditemui di Jakarta Pusat, Jumat, 20 September 2019.

    Gairah industri film belum diimbangi tenaga pekerja non-artis di bidang perfilman dan sekolah-sekolah formal untuk film. Persoalan ini menyebabkan pihak rumah produksi kerap berebut kru saat memproduksi film.

    Sutradara Mouly Surya juga sepakat Indonesia  kekurangan pendidikan formal untuk film. Sineas yang kini juga menjuri di kompetisi HOOQ Filmmakers Guild hingga musim ketiga itu memaparkan Singapura menjadi pesaing terberat Indonesia di Asia Tenggara dalam perfilman. Sebab, mereka mumpuni sejak ilmu dasar perfilman lewat pendidikan formal.

    "Singapura negaranya kecil tapi penulisnya jago-jago karena edukasinya mereka. Akhirnya kita melihat, kualitas SDM. Awalnya pendidikan dan menurut saya dari Singapura menarik karena mereka punya edukasi yang sangat maju," kata Mouly Surya belum lama ini.  

    "Secara general pendidikan mereka memang lebih bagus. Bisa dilakukan. Kita enggak usah ngomongin film, maksudnya segala sistem sama sekolah film mereka lebih banyak," imbuhnya.

    Produser Fourcolours Films, Ifa Isfansyah, adalah salah satu sineas yang menggagas sekolah film Akademi Film Yogyakarta, dulunya bernama Jogja Film Academy. Sutradara film Sang Penari itu membuka program studi D3 Produksi Film dan Televisi serta kursus pendek. Selebihnya, belajar film baru sebatas komunitas.


     



    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id