Film 'Pulau Plastik' Hadirkan Pendekatan Baru tentang Sampah Plastik

    Sunnaholomi Halakrispen - 30 April 2021 10:00 WIB
    Film 'Pulau Plastik' Hadirkan Pendekatan Baru tentang Sampah Plastik
    Jumpa media Pulau Plastik (Foto visinema)



    Jakarta: Film dokumenter bertajuk Pulau Plastik telah tayang di sejumlah bioskop. Film karya kerjasama Visinema Pictures dengan Kopernik, Akarumput, dan Watchdoc, ini menggambarkan fakta polusi plastik sekali pakai di Indonesia.

    Film yang disutradarai oleh Dandhy D. Laksono dan Rahung Nasution ini menggabungkan jurnalisme investigasi dan budaya populer. Tayangan yang menghadirkan pendekatan baru, menyoroti tentang persoalan polusi sampah plastik yang masih menjadi tugas alias PR (pekerjaan rumah) besar Indonesia.
     
    "Pulau Plastik bukan hanya kolaborasi para produser, film maker, dan karakternya. Tetapi juga kombinasi antara ilmu pengetahuan, aktivisme jalanan, dan seni," tutur Dandhy dalam press conference di Plaza Senayan XXI.
     
    Menurutnya, kolaborasi ini penting di saat alarm peringatan Darurat Sampah di Indonesia yang belum terdengar ke seluruh telinga masyarakat. Sebab, sebagai negara dengan potensi sumber kekayaan laut yang sangat melimpah, Indonesia justru menjadi negara kedua terbesar penghasil  sampah plastik ke laut setelah China.






    Sampah plastik tersebut didominasi oleh plastik yang sulit terurai, salah satunya sampah sedotan plastik yang jumlahnya bisa mencapai 93 juta setiap harinya. Banyaknya sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, menjadi penyebab utama terkontaminasinya lautan yang ada di Indonesia.

    Lantaran demikian, sampah terpecah menjadi mikroplastik, yang kemudian termakan dan masuk ke dalam tubuh biota laut. Selanjutnya, berakhir di hidangan piring masyarakat.
     
    "Eksploitasi mineral secara brutal dan konsumsi plastik dalam kehidupan sehari-hari merupakan jalan pintas menuju kehancuran planet bumi, jika kita tidak melakukan sesuatu, sekarang," paparnya.
     
    Film ini akan membawa penonton mengikuti perjalanan vokalis band rock Navicula asal Bali, Gede Robi, dan ahli biologi dan penjaga sungai asal Jawa Barat, Prigi Arisandi. Keduanya tergerak oleh masalah yang sama, yakni polusi sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan dan minimnya kebijakan untuk mengatasi krisis tersebut.
     
    Robi dan Prigi berusaha mengumpulkan bukti tentang sejauh mana masalah sampah plastik yang sebenarnya dihadapi oleh masyarakat Indonesia. Mereka pun mengelilingi area Jawa, bertemu dengan pakar, aktivis, hingga melakukan penelitian termasuk pada diri mereka sendiri.
     
    Sedangkan di Jakarta, Robi dan Prigi bertemu dengan Tiza Mafira. Seorang pengacara muda yang mendedikasikan dirinya untuk melobi pejabat publik dan sektor swasta untuk mengubah kebijakan tentang plastik sekali pakai.
     
    Kerjasama mereka bertiga serta aktivis lingkungan lainnya untuk mengatasi masalah sampah plastik akan berhasil. Tentunya, jika komunitas, pemerintah, dan perusahaan dapat bersatu dalam mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap plastik sekali pakai.
     
    "Saya sudah berusaha. Terkadang kita tidak perlu melakukan hal-hal besar. Tetapi kita bisa lakukan hal kecil dengan semangat dan cinta. Selama saya masih bisa bersuara, saya tidak akan berhenti berusaha," pungkas Robi Navicula.

     

    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id