Ulasan Film Bumi Manusia

    Cecylia Rura - 15 Agustus 2019 13:43 WIB
    Ulasan Film Bumi Manusia
    Bumi Manusia (Foto: dok. falconpictures)
    Surabaya: Pramoedya Ananta Toer menulis Bumi Manusia sebagai cerita awal Tetralogi Buru yang diterbitkan Hasta Mitra tahun 1980-an. Dari sini, pembaca diajak mengenal sosok Raden Mas Tirto Adhi Soerjo alias Minke, pemuda pribumi Jawa totok yang pernah bahagia bersama Annelies, putri dari pasangan Nyai Ontosoroh dan Herman Mellema. Tirto Adhi Soerjo pun dikenal sebagai tokoh pers dan perintis surat kabar Medan Prijaji.

    Dalam medium film, Bumi Manusia diawali pertemuan Robert Suurhof, siswa HBS campuran Indo Eropa yang mengajak Minke menyaksikan pelantikan Ratu Wilhelmina. HBS dikenal sebagai sekolah bagi anak-anak keturunan Eropa. Beruntung, Minke adalah anak bangsawan. Dia belajar tentang pemikiran Eropa dan membuatnya rajin menulis dalam kolom surat kabar meski dengan nama alias bernuansa Eropa.

    Dengan fasih berbahasa Belanda, Suurhof banyak bicara kepada Minke. Sempat mereka akan pergi berbincang di sebuah kafe perkumpulan orang-orang Eropa, mereka ditolak. Jelas tertulis di dinding, pribumi dan anjing dilarang masuk.

    Suurhof dan Minke berpindah ke restoran Asia, pilihan Minke, untuk berbincang. Dengan rasa sedikit enggan, Suurhof mengiyakan ajakan Minke. Obrolan keduanya tak jauh dari seputar perempuan. Suurhof teringat, temannya bernama Robert Mellema memiliki adik perempuan cantik, Annelies Mellema. Suurhof dan Minke keesokan harinya berkunjung ke Boerderij Buitenzorg, kediaman Mellema. Letaknya tak jauh dari rumah bordil milik Babah Ah Tjong.

    Penghuni Boerderij Buitenzorg sangat dihormati karena lahannya menjadi tumpuan mata pencaharian warga di sana. Meski begitu, sosok Nyai Ontosoroh lebih tersohor karena statusnya sebagai gundik terhormat. Nyai Ontosoroh bukan gundik biasa karena dia yang memiliki kendali atas Boerderij Buitenzorg bahkan Herman Mellema, Eropa totok yang mengajari Nyai tampak lebih terhormat dari perempuan Eropa.

    Pertemuan Minke dan Annelies dimulai sejak kunjungan pertama ajakan Suurhof. Meski Minke tak mendapat sambutan baik dari Robert Mellema yang begitu membenci pribumi, Annelies justru menyambut Minke sebagai teman baru. Tak lama, Minke diajak Annelies bertemu ibunya, Nyai Ontosoroh, sosok yang paling dikagumi Annelies. Terkagum juga Minke terhadapnya dan ada perasaan lega melihat sesama pribumi di kediaman pemilik Boerderij Buitenzorg.

    Di samping kisah asmara Minke dan Annelies, perdebatan Hukum Eropa dan Hukum Islam digambarkan dalam film ini. Pada masa itu, Hukum Eropa begitu diagungkan dan dianggap lebih beradab. Malang nian nasib Minke ketika status pernikahannya yang telah sah secara agama harus terhalang karena Hukum Eropa. Aturan ini pun menunjukkan bagaimana status seorang Nyai yang tak lebih dari seorang gundik.

    Sha Ine Febriyanti, nama yang layak disebutkan pertama sebagai pemeran Nyai Ontosoroh. Dia melampaui ekspektasi dengan akting dan emosi tumpah ruah. Meski Bumi Manusia berulang kali dipentaskan di panggung teater, Ine mewujudkan sosok nyata seorang Nyai yang telah dibentuk terhormat dan berdiri tegap layaknya perempuan Eropa. Layar ini menjadi debut Sha Ine Febriyanti bermain dalam film panjang. Sebelumnya dia lebih dikenal lewat panggung teater dan sempat memerankan Madam Pieters saat Bumi Manusia dipentaskan sekitar 2006.

    Nama kedua, Mawar Eva de Jongh. Wajahnya yang kerap dikenal sebagai pesinetron kini muncul memegang peran besar dalam cerita Bumi Manusia. Aktris muda ini mampu menangkal kandidat kuat lain memerankan Annelies Mellema. Aktingnya dapat disetarakan dengan Sha Ine Febriyanti juga Iqbaal Ramadhan, pemeran Minke.

    Iqbaal, meski sempat ditolak warganet memerankan Minke, mampu menggambarkan sosok pemuda pribumi cendekiawan. Mungkin betul, perfilman Indonesia sedang krisis wajah pribumi sehingga hanya sedikit kandidat untuk peran Minke, dan Iqbaal mampu mengemban tugas berat itu. Ini tugas berat karena pembaca Bumi Manusia berasal dari lintas generasi dan tentu memiliki ekspektasi sendiri.

    Selain tiga tokoh utama, Jerome Kurnia pemeran Robert Suurhof patut diacungi jempol. Wajah riang serta kefasihan berbahasa Belanda sejak menit pertama membuat film Bumi Manusia diawali dengan rasa menyenangkan.

    Kesetiaan sutradara Hanung Bramantyo meladeni penggemar memvisualkan adegan-adegan dalam buku sekitar 500 halaman itu berimbas pada klasifikasi penonton Bumi Manusia. Dalam situs resmi Lembaga Sensor Film, Bumi Manusia mendapatkan klasifikasi usia penonton 17 tahun dan di atas 17 tahun dengan nomor surat 1144/DCP/NAS/17/08.2024/2019. Besar kemungkinan film ini sekaligus menyeleksi penggemar Iqbaal Ramadhan yang ingin menyaksikan idolanya.

    Bumi Manusia ditulis Pramoedya Ananta Toer semasa ditahan di Pulau Buru pada 1970-an. Tiga kisah lain membuntuti cerita ini dalam Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

    Bumi Manusia

    Sutradara: Hanung Bramantyo
    Produser: HB Naveen, Frederica (Falcon Pictures)
    Penulis buku: Pramoedya Ananta Toer
    Penulis naskah: Salman Aristo
    Pemain: Sha Ine Febriyanti, Mawar Eva de Jongh, Iqbaal Ramadhan, Peter Sterk, Whani Darmawan, Giorgino Abraham, Jerome Kurnia
    Durasi: 181 menit
    Klasifikasi LSF: 17+
    Rilis di bioskop: 15 Agustus 2019


     



    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id