Mengapa Parasite Menang Oscar?

    Dhaifurrakhman Abas - 11 Februari 2020 11:10 WIB
    Mengapa Parasite Menang Oscar?
    Parasite (Foto: YouTube)
    Jakarta: Kemenangan film Parasite di ajang Academy Awards atau Piala Oscar 2020 disebut tak lepas dari langkah berani Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS), organisasi yang memiliki hak suara untuk memilih film yang layak juara. AMPAS mematahkan teori bahwa Oscar hanya diperuntukkan golongan kulit putih.

    "Ini jadi film satu-satunya film asing (non Amerika) yang menang kategori Best Picture. Langkah yang berani dari AMPAS, institusi yang menyelenggarakan dan vote Oscar," kata selektor ARKIPEL Festival, Luthfan Nur Rochman, ketika berbincang dengan Medcom.id, Senin 10 Februari 2020.

    Dia mengatakan teori itu terbentuk karena pemenang Oscar di perhelatan sebelumnya mayoritas berasal dari negeri Paman Sam. Ditambah lagi anggota AMPAS kebanyakan berkebangsaan Amerika.

    "Anggota AMPAS itu kan insan film Amerika atau yang diundang oleh institusi. Secara tema otomatis, mungkin para anggota AMPAS lebih tertarik atau banyak yang vote pada tema yg dekat ke mereka, ya seputar ke-Amerika-an," ujarnya.

    Namun teori itu tampaknya sirna seketika film Parasite yang berasal dari Korea Selatan menyabet empat piala Oscar 2020. Film besutan Bong Joon Ho itu memborong penghargaan Best Picture, Best Director, Best Foreign Language, dan Best Original Screenplay.

    Dengan raihan yang didapatkan, Parasite mencetak sejarah baru bagi perfilman Asia. Film ini menjadi yang pertama di meraih penghargaan Best Picture dan Best Original Screenplay sekaligus dalam Academy Awards. 

    Alasan Parasite menang Oscar

    Menurut Luthfan, Parasite bisa menang Oscar karena mengusung beberapa unsur. Pertama, Parasite mengusung tema yang membahas problem kapitalisme yang dirasakan seluruh masyarakat termasuk warga di negeri Paman Sam.

    "Parasite mungkin jadi cukup penting karena dia membahas problem kapitalisme yang udah menerabas batas-batas geografis, walaupun banyak ya film asing lain membahas tema ini," ujarnya.

    Kedua, kata dia, tema kapitalisme di film Parasite diceritakan lewat komedi gelap yang mirip dengan film-film buatan Amerika. Film tersebut juga mudah dimengerti baik insan perfilman hingga penonton awam.

    "Treatment Bong Jon Hoo sangat menarik karena dia bermain di antara bahasa film yg tidak terlalu arthouse, dalam artian tidak berlarut dalam ambilan shot panjang, plot yang sedikit. Selain itu, pendekatan black comedy lazim di film-film Amerika, seperti karya Quentin dan Joel Coen and Ethan Coen menjadikannya ramah pada penonton Amerika secara estetika," paparnya.

    Ketiga, Luthfan bilang, Parasite bisa menang di Oscar didukung pamor yang telau didapat sebelumnya. Film ini menang di British Academy of Film and Television Arts (BAFTA).

    Parasite juga menjadi film non-bahasa Inggris pertama yang memenangkan Screen Actors Guild Award untuk Outstanding Performance by a Cast in a Motion Picture. Sementara di Golden Globe Awards ke-77, film ini berhasil menyabet piala Film Berbahasa Asing Terbaik.

    "Parasite udah jadi pembicaraan ya sebelum  Oscar. Film ini juga dibicarakan kritikus dan akademisi film, baik di media massa, media sosial, web dan jurnal. Jadi reputasinya mendahului filemnya juga," paparnya.

    Eksistensi sutradara Bong Joon Ho juga menjadi alasan kemenangan Parasite di Oscar. Sebelumnya, Bong Joon Hoo telah dikenal karena menggarap film Memories of Murder, The Host hingga Okja. Film-film itu sukses menyabet penghargaan bergengsi dan melambungkan namanya.

    "Menurut saya pamor sutradara hingga pamor dari kritikus atau ahli film mengenai konteks film asing itu bisa membantu programmer atau komite seleksi festival untuk memahami dan dapat menempatkan film di jajaran film yang penting," ucap dia.

    Luthfan memaparkan, Indonesia bisa saja menyabet piala Oscar jika bercermin dari Parasite. Namun hal ini harus didukung oleh seluruh masyarakat Indonesia guna meningkatkan pamor film-film Indonesia agar diketahui dunia.

    "Seperti Korea Selatan kan institusi budayanya mapan ya. Ada Busan Film Festival, jadi banyak duta yang bisa memperluas pemahaman publik mengenai Parasite," paparnya.

    Soal kemampuan sineas Indonesia meracik film pun dirasa sudah cukup baik. Banyak film Indonesia yang berhasil menembus pasar dan penghargaan internasional. Hanya saja, menurut dia, film-film Indonesia mengusung unsur yang rumit.

    "Itu mungkin di Indonesia yg kurang ya, misalnya seperti Kucumbu Tubuh Indahku, yang sangat banyak mengandung ikon-ikon kultural yang publik asing belum tentu langsung bisa membaca maknanya, seperti lengger, reog lah, atau peristiwa 1965," ujarnya.

    Untuk itu, dia berharap masyarakat Indonesia mau saling mendukung jika ingin mencapai Oscar. Dukungan yang solid dipercaya sebagai kunci utama menuju penghargaan bergengsi tersebut.

    "Tugasnya bagi semua ekosistem filem, membuat filem sebagus dan sejujurnya. Untuk kritikus, menulis dengan objektif dan komprehensif, kalau bisa menulis di media internasional. Juga distributor harus bisa distribusi film ke luar negeri," tandasnya.
     



    (ASA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id