Bisakah Film Indonesia Mengikuti Jejak Parasite di Oscar?

    Cecylia Rura - 20 Februari 2020 08:00 WIB
    Bisakah Film Indonesia Mengikuti Jejak Parasite di Oscar?
    Bong Joon Ho mendapat banner ucapan selamat di Baekyang Hall, Yonsei University, Sinchon-dong, Seodaemun-gu, Seoul atas keberhasilan di Oscar 2020. (Foto: via Yonhap News)
    Kemenangan film Parasite di Oscar 2020 mewabah, membangkitkan gairah perfilman di Asia. Tahun ini akan dikenang sebagai sejarah Asia mendapat panggung perdana melalui Korea Selatan meraih Best Picture, Best Original Screenplay, Best Director, dan Best International Feature Film di penghargaan tertinggi bagi insan perfilman dunia selama 92 tahun terakhir.

    Indonesia sebagai sesama rekan berdarah Asia, apakah berpotensi bernasib serupa? Kritikus dan pengamat film Wina Armada Sukardi memaparkan, kemenangan Parasite dapat memacu adrenalin sineas Indonesia berkarya lebih optimis melahirkan film-film hebat bermutu internasional. Namun, hal ini belum sepenuhnya mendapat dukungan dari pemerintah.

    "Potensi kita sangat besar, tapi belum terotasi dengan optimal. Belum ada perencanaan matang. Industri film juga oleh negara masih terpinggirkan sehingga negara harus lebih hadir untuk menunjang perfilman. Harus ada strategi perfilman yang terarah dan jelas. Ini belum ada. Jadi masing-masing kerja sendiri. Tapi potensinya besar," papar Wina Armada Sukardi saat dihubungi Medcom.id setelah kemenangan Parasite di Oscar 2020.

    Soal pemerintah Indonesia yang menaungi pun belum ada payung yang jelas. Industri film seperti dioper dari badan satu ke badan lain. Secara titel, jelas kita sempat memiliki Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm). Pada tahun 2020 berganti nama menjadi Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru (PMMB) berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan. Struktur organisasi pun berganti, kini dikepalai Ahmad Mahendra.

    Pusbangfilm hadir bersama Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) di bawah Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sama-sama berdiri pada 2015. Bekraf kemudian mengadakan Akatara sebagai ajang perjodohan para investor dan sineas sejak 2017. Ini berarti industri film sempat mendapat perhatian dari sejumlah badan pemerintah. Untuk menaungi organisasi turunan perfilman dan aktivitasnya ada Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang berdiri pada 2014.

    Merujuk Undang Undang No. 33 tahun 2009 tentang Perfilman, organisasi BPI terdiri dari masyarakat atau insan yang terlibat dalam penyelenggaraan perfilman. Dalam situs resminya tertulis tugas BPI adalah menyelenggarakan festival film dalam negeri, mengikuti festival luar negeri, menyelenggarakan pekan film di luar negeri, mempromosikan Indonesia sebagai lokasi syuting film asing, memberikan masukan untuk kemajuan film Indonesia, melakukan penelitian dan pengembangan perfilman, memberikan penghargaan, menfasitilitasi pendanaan pembuatan film tertentu bermutu tinggi.

    Meski begitu, sineas Indonesia masih bekerja mandiri. Selaras dengan pendapat Wina Armada, Ketua Komite Festival Film Indonesia periode 2018-2020 Lukman Sardi berpendapat sineas Indonesia kini masih bekerja sporadis. Pemerintah yang memayungi industri film pun kerap berpindah tangan. Sebagai insan film, Lukman Sardi merasa pemerintah kurang serius memerhatikan industri film di Indonesia.

    "Sekarang problem-nya film beberapa kali berpindah-pindah. Sempat di pariwisata kreatif, departemen pendidikan kebudayaan, sempat ada Pusbangfilm. Problem-nya masih menganggap film 'yaudah' proses kreatif saja. Mereka belum melihat bahwa film ini punya efek yang besar banget untuk sesuatu," kata Lukman kepada Medcom.id di Jakarta Selatan.

    Bisakah Film Indonesia Mengikuti Jejak Parasite di Oscar?
    Lukman Sardi (Foto: Medcom/Cecylia)


    Berkaca dari perilaku pemerintah terhadap industri hiburan Korea, dukungan diberikan bukan dalam waktu sebentar. Mengutip abstraksi jurnal internasional Seung Ho Kwon dan Joseph Kim terbitan September 2014, perhatian terhadap industri hiburan Korea Selatan dimulai dari pemerintahan Kim Dae Jung, presiden Korea Selatan yang menjabat pada 1998-2003. Dukungan tersebut dalam bentuk digitalisasi produksi film dan televisi. Popularitas kultur Korea seperti film, program televisi, lagu, dan game meningkat pesat yang kemudian dikenal sebagai fenomena hallyu oleh dunia.

    Fenomena Hallyu dan Fanatisme K-Pop di Indonesia

    Fenomena hallyu kemudian mengubah persepsi pemerintah terhadap film dan televisi dari persoalan sensor dan kontrol politik menjadi gabungan elemen dasar dari pembangungan ekonomi nasional. Kebijakan ini berlanjut pada masa pemerintahan Roh Moo Hyun yang menjabat periode 2003-2008.

    Secara substansial, pemerintahannya mempromosikan pengembangan terintegrasi industri kreatif, berkaitan dengan industri teknologi dan teknologi informasi dan komunikasi. Pertumbuhan ini didukung sejumlah chaebol (pebisnis konglomerat yang menjadi kekuatan ekonomi Korsel) dengan output membawa perubahan internasional dan menghasilkan serial televisi serta film kompetitif pada akhir 90-an.

    Kwon dan Kim juga menjelaskan, pemerintah Korsel secara agresif mempromosikan pengembangan teknologi produksi film dan televisi, mendukung tenaga terampil untuk dapat melakukan ekspansi secara global.

    Perkembangan teknologi kini pun meningkatkan permintaan penggemar untuk konten hiburan di beberapa negara Asia Timur termasuk Jepang, Cina, dan Taiwan. Pada masa pemerintahan Lee Myung Bak, Korea Selatan memprioritaskan hallyu dengan mensubsidi partisipasi perusahaan Korea dalam acara internasional. Pada masa subur hallyu, pemerintah menaruh perhatian khusus terhadap dukungan finansial dan diplomasi Korea tentang distribusi konten budaya.

    Tak hanya dari sektor pemerintahan dan konglomerat, dukungan melalui promosi yang dilakukan media Korea Selatan secara agresif memberitakan perkembangan K-Pop, drama, games, dan reality show yang kini banyak peminat di beberapa negara. Kemenangan Parasite dapat dikatakan sebagai puncaknya Korea Selatan kini memimpin dunia hiburan. Popularitas itu juga akibat dari dampak viral di media sosial dan promosi di lingkaran pergaulan.

    "Pecinta Korea kemudian ngomong, sehingga orang seperti saya yang enggak suka Korea, 'serius bagus?'. Akhirnya nonton," kata Ade Armando, Direktur Komunikasi Saiful Mujani Research and Consulting di Jakarta Pusat.

    Bisakah Film Indonesia Mengikuti Jejak Parasite di Oscar?
    BTS grup Korea yang mendunia (Foto: via soompi)

    Keperkasaan hiburan K-Pop mendunia juga telah dibuktikan dengan angka. Melansir Yonhap, The Korean Foundation, yayasan yang berafiliasi dengan kementerian luar negeri dalam laporannya pada awal Januari 2019 menuliskan, kelompok hallyu dunia ada sejumlah total 89,19 juta anggota di tahun 2018. Hasil ini menunjukkan peningkatan 22 persen atau sebesar 16,07 juta dari tahun 2017. Angka tersebut diperoleh berdasarkan kegemaran terhadap budaya, aktor, klub penggemar hallyu di dunia yang diambil terakhir pada Desember 2018. Ada 1,843 klub penggemar hallyu di 113 negara, tidak termasuk Korea Selatan.

    Jika dipilah berdasarkan benua, penggemar hallyu di Asia dan Oceania sebanyak 70,59 juta anggota di 457 klub penggemar, di Amerika Utara dan Selatan sebanyak 11,8 juta di 712 klub, Eropa dengan 6,57 anggota di 534 klub, serta Afrika dan Timur Tengah dengan 230 ribu anggota di 140 klub. Selain menguntungkan di berbagai sektor hiburan dan teknologi, Korea Selatan juga mendapat eksposure di sektor pariwisata dan kuliner.

    CJ E&M Berinvestasi di Film Indonesia

    CJ Entertainment and Merchandising (CJ E&M) didirikan sebagai anak perusahaan dari CJ Group di sektor hiburan, dalam hal ini mereka termasuk chaebol yang menjadi cikal bakal meledaknya hiburan Korea di dunia. CJ Group adalah konglomerat asal Korea Selatan yang juga membawahi anak perusahaan di berbagai sektor seperti makanan dan minuman (CJ Cheil Jedang), logistik (CJ Korea Express), kesehatan, teknologi informasi, dan kecantikan (CJ Olive Networks), dan bioskop (CJ CGV).

    CJ E&M berinvestasi dan menjadi distributor di sejumlah film produksi Indonesia antara lain Catatan Dodol Calon Dokter (2016), Pengabdi Setan (2017), Sweet 20 (2017), Belok Kanan Barcelona (2018), Bebas (2019), Perempuan Tanah Jahanam (2019), Sunyi (2019), DreadOut (2019), dan Hit & Run (2019).

    CJ E&M juga yang telah memproduksi film Parasite, serta sejumlah film Korea populer lain seperti Extreme Job dan Exit. Keterlibatan chaebol bukan tidak mungkin dapat memberi kesuksesan Parasite dan bisa diadaptasi oleh Indonesia. Namun, kembali lagi ketika melihat rekam jejak industri hiburan Korea Selatan bukan waktu sebentar. Amanat menjaga hallyu di dunia dari presiden di era 90-an hingga kini masih bertahan bersama pemerintahan Moon Jae In.

    Terlepas dari persoalan bisnis, Parasite mengangkat tema lumrah yang dapat dialami semua kalangan tak terbatas. Perbedaan kelas ekonomi, tingkat kepercayaan orang kaya yang makin insecure, serta siapa sebenarnya parasit dalam Parasite yang diceritakan oleh Bong Joon Ho.

    Bisakah Film Indonesia Mengikuti Jejak Parasite di Oscar?
    Pemain dan sutradara Parasite di Oscar 2020 (Foto: via variety)

    Sejarah yang ditorehkan Korea Selatan perlahan menggeser Hollywood sebagai kiblat industri hiburan. Bukan tidak mungkin Hallyuwood (Korea Selatan) benar-benar bersinar setelah Hollywood. Wakil Ketua CJ Group Miky Lee pun memaparkan, Bong Joon Ho beserta generasi sekarang adalah produk turunan Hollywood yang sejak lahir disusupi hal berbau Hollywood. Dia mencoba membuat varian sinema baru dari kreator Korea.

    "Generasi kita bahkan generasi Bong Joon Ho menyebut diri kita anak-anak Hollywood karena kita terus diberi konsumsi konten seperti ini. Saya merasa Amerika benar-benar memiliki kebebasan dari berbagai segi kreativitas," ungkap Miky Lee, dilansir dari The Hollywood Reporter.

    Bentuk konten kreativitas Korea dan Indonesia dapat dikatakan sama, kini tak jauh berbeda membahas seputar genre keluarga, drama, dan komedi. Namun, tanpa adanya eksposure dan dukungan pemerintah, Indonesia belum bisa benar-benar berkembang jika hanya bekerja sporadis dan bergantung suntikan dari para chaebol.


     



    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id