Jejak Para Jagoan Komik di Jagad Sinema Indonesia - Medcom

    Jejak Para Jagoan Komik di Jagad Sinema Indonesia

    Purba Wirastama - 01 Maret 2019 14:38 WIB
    Jejak Para Jagoan Komik di Jagad Sinema Indonesia
    Ilustrasi Sri Asih (BumiLangit)
    Valentine yang dibintangi Estelle Linden tercatat sebagai film adaptasi komik jagoan Indonesia pertama abad ini, tetapi nasibnya tragis. Tiga hari setelah tayang di sejumlah kecil bioskop dua tahun silam, Valentine langsung ditarik sendiri oleh Skylar Pictures karena persoalan teknis.

    Sejak saat itu hingga nanti Gundala, yang rencananya dirilis pada 2019, belum ada lagi film adaptasi komik jagoan di Indonesia. Film adaptasi komik secara umum pun sebetulnya masih terhitung jari. Dalam tiga tahun terakhir, baru ada Si Juki the Movie: Panitia Hari Akhir dan Terlalu Tampan. Berikutnya lagi bakal ada adaptasi atas komik Eggnoid, Flawless, dan Sarimin.

    Jika bicara film adaptasi komik jagoan atau kepahlawanan hari ini, mau tak mau perhatian tertuju pada Hollywood dengan puluhan judul film superhero yang didominasi Marvel dan DC. Setelah era X-Men, Spider-Man, Batman, dan Fantastic Four, kini ada film-film shared universe dengan tokoh seperti Iron-Man, Guardians, Ant-Man, Joker, dan Harley Quinn.

    Popularitas genre film ini tampak lewat angka komersial. Dari jajaran 20 film Amerika terlaris sepanjang masa, tujuh di antaranya merupakan film adaptasi komik superhero, mulai dari Avengers: Infinity War hingga Aquaman.

    Apakah perkembangan genre serupa di Indonesia berangkat dari kesuksesan Hollywood? Bisa tidak, tetapi lebih mungkin iya. Namun, apakah genre ini, atau film-film kepahlawanan yang mengusung karakter jagoan dari komik, adalah hal baru di Indonesia? Tentu saja tidak.

    Valentine memang film pertama untuk abad ini, tetapi hanya yang pertama dalam 27 tahun terakhir. Selama dua dekade pada 1970-1990, layar lebar Indonesia punya sedikitnya 25 film panjang adaptasi komik jagoan, mulai dari Si Buta Gua Hantu hingga Jaka Sembung dan Dewi Samudra.

    Mundur lagi ke era pasca-kemerdekaan, sejarah perfilman kita juga punya Sri Asih, yang konon adalah film superhero adaptasi komik pertama.


    Sri Asih

    Karakter Nani Wijaya alias Sri Asih diciptakan Raden Ahmad Kosasih dan muncul pertama kali dalam buku komik berseri "Sri Asih" terbitan Melodie Bandung 1954. Komik laris dan punya sekian episode. Misalnya Sri Asih di Singapura, Sri Asih vs Si Mata Seribu, dan Sri Asih dan Bajak Laut. Ada pula kisahnya yang terbit di Majalah Komik edisi ke-16 pada 15 Agustus 1954.

    BumiLangit, studio komik yang kini menaungi lisensi karakter ini, menulis Sri Asih sebagai titisan Dewi Sri dari kahyangan. Kekuatannya setara 250 pria dewasa, mampu terbang dan bela diri, serta menyimpan ilmu pamungkas berubah menjadi raksasa yang mampu menggandakan diri. Sehari-hari, dia adalah Nani Wijaya yang bekerja di Biro Penyelidikan Kriminal.

    Marcel Bonneff, dalam buku Komik Indonesia (1998), menuliskan tahun 1954 sebagai salah satu titik perubahan dalam perjalanan komik Indonesia. Pada masa ini, para komikus melihat keberhasilan komik Amerika dan melakukan transposisi cerita dengan melokalkan tokoh-tokoh populer sesuai lingkugan kala itu.

    Sri Asih misalnya, disebut sebagai imitasi atas superhero Amerika dengan kemampuan mirip Superman. Pada tahun yang sama, John Lo menciptakan karakter komik Nina Gadis Rimba. Karakter Sri Asih dan Nina Gadis Rimba juga pernah terbit sebagai satu kompilasi.

    John Lo juga membuat komik Puteri Bintang dan Garuda Putih, yang punya musuh bebuyutan dengan julukan Mr. Setan. Lalu ada lagi komikus Kong Ong, yang membuat komik jagoan Kapten Komet yang dianggap mirip Flash Gordon.

    Sebelum Sri Asih, sebetulnya sudah ada sejumlah komik lain sejak era 1930-an, termasuk Put On karya Kho Wan Gie. Konon, Put On adalah komik strip pertama dan cikal bakal bisnis komik Nusantara.

    Jejak Para Jagoan Komik di Jagad Sinema Indonesia
    Sampul komik Sri Asih di Macao karya RA Kosasih terbitan 1954 (Patina Antique)

    Para komikus BumiLangit termasuk yang meyakini sejarah itu. Namun bagi mereka, komik Sri Asih menjadi penting dan fenomenal karena dianggap sebagai superhero komik pertama di Indonesia. Selain itu, ini adalah komik pertama dengan format terbitan buku dan dibuat oleh maestro komik RA Kosasih.

    "Sri Asih bisa dianggap sebagai komik yang pertama kali terbit dalam bentuk buku komik. Sebelumnya, komik strip di surat kabar," kata General Manager BumiLangit Is Yuniarto kepada Medcom.id di kawasan Cipete, pertengahan Februari 2019.

    RA Kosasih sendiri adalah komikus kelahiran 1919, yang kemudian dihormati oleh generasi berikutnya sebagai Bapak Industri Komik Indonesia.

    "Kami anggap dia sebagai bapak komik Indonesia, di mana karyanya begitu banyak dengan beragam genre – humor, superhero, wayang, silat," kata Andy Wijaya kepada Medcom.id. Andy adalah Commercial General Manager di BumiLangit Entertainment Corpora, perusahaan induk pemilik BumiLangit Comics.

    "Dia (Kosasih) berkarya sampai tangannya sudah mulai seperti parkinson. Itu yang membatasi dia berkarya hingga 1980-an. Dia mulai berkarya dari 1954," imbuh Andy.

    Hikmat Darmawan, kurator dan kritikus komik, pernah membeberkan salah satu alasan kepada Medcom Files (dulu kanal bernama Telusur), kenapa Kosasih pantas mendapat predikat demikian. Dia turut membidani kelahiran industri komik yang punya infrastruktur dan model bisnis.

    "Semua dilakukan sendiri oleh Kosasih, mulai dari riset, menulis, gambar – satu komik bisa ratusan halaman. Sangat industrious (rajin dan pekerja keras). Format produknya secara fisik sangat tegas: terbit 64 halaman, hitam putih, ukuran kira-kira setengah majalah," terang Hikmat dalam wawancara tiga tahun silam.

    Pada tahun terbitnya komik Sri Asih, tokoh ini langsung diadaptasi ke film hitam putih berjudul Sri Asih oleh produser-sutradara Turino Djunaidy dan sutradara Tan Sing Hwat, dengan pemeran utama Mimi Mariani.

    Menurut data Katalog Film Indonesia (filmindonesia.or.id), film ini mengikuti kisah Sri Asih dalam menghadapi para bandit dan gerombolan Garuda Hitam. Setelah mengantar sang ibu di stasiun, Sri Asih mendengar bisikan bahwa kereta yang dinaiki ibunya akan meledak di jembatan. Setelah memakai jimat, Sri Asih berubah gesit dan terbang menyusul kereta untuk mencegah insiden tersebut.

    Andy Wijaya menyebut bahwa pembuat film Sri Asih 1954 masih punya relasi keluarga dengan pemilik Melodie.

    "Saya sudah tanya ke pemilik penerbit Melodi. Dia bilang, saudara dia juga yang buat. Jadi, dia enggak menyangka komik Indonesia bisa booming pada saat itu. Dia bikin, langsung booming," ujar Andy.

    Arah perubahan itu segera terganjal dalam waktu singkat karena kebijakan politik pemerintah. Menurut Marcel Bonneff, para pendidik menentang komik dari barat berserta imitasinya, termasuk Sri Asih, karena menganggap komik-komik ini mengusung gagasan berbahaya.

    Kelompok penentang sempat ingin menghentikan penerbitan komik. Namun Melodie dan beberapa penerbit lain berkompromi. Komik tetap berlanjut, tetapi dengan materi yang berakar dari "kebudayaan nasional". Kosasih dan John Lo membuat komik seperti Lahirnya Gatotkaca, Raden Palasara, serta Mahabharata. Kebanyakan bersumber dari kisah pewayangan yang saat itu populer.


    Era Jagoan Silat

    Sejauh catatan Katalog Film Indonesia dan catatan tim BumiLangit, film adaptasi komik jagoan setelah Sri Asih baru ada lagi 16 tahun kemudian. Film pembuka adalah Si Buta dari Gua Hantu (1970) garapan Lilik Sudjio dengan aktor utama Ratno Timoer.

    Film ini diadaptasi dari komik akhir 1960-an karya Ganes TH. Kisahnya mengikuti Barda, putra seorang pesilat yang menuntut balas dendam atas kematian ayahnya, yang terbunuh oleh orang buta bernama Mata Malaikat. Hasrat balas dendam itu juga membuat Barda kehilangan mata sehingga disebut sebagai Si Buta.

    Sejak 1967, cerita silat memang populer. Wiro Sableng adalah salah satu lakon yang muncul dalam novel bersambung. Untuk komik, selain Si Buta, ada tokoh pendekar silat seperti Pandji Tengkorak (Hans Jaladra), Jaka Sembung (Djair Warniwokananda), dan Mandala (Mansyur Daman). Marcel Bonneff mencatat bahwa penerbitan komik era ini punya harapan besar karena ada banyak komikus, banyak pembaca, kebebasan berkarya, serta pasar yang luas.

    Sebelumnya, gaya komik mengalami perubahan cepat dalam hitungan tahun. Ada pewayangan, komik-komik Medan, nasionalisme ala Soekarno, serta roman remaja. Si Buta bukanlah komik atau film silat pertama, tetapi telah menjadi angin besar perubahan.

    "Dulu, masih banyak genre roman, silatnya sedikit. Begitu Si Buta keluar, peta industri komik Indonesia itu (berubah) – genrenya, hampir semua silat," kata Andy.

    "Ganes TH juga pernah bikin komik silat, tetapi enggak laku. Namun begitu dia bikin Si Buta, langsung beng! (meledak)," imbuhnya.

    Film adaptasi Si Buta ternyata juga disukai. Hingga 1985, sedikitnya ada lima film dengan judul atau tokoh Si Buta dari Gua Hantu yang tetap diperankan Ratno Timoer. Tiga film disutradarai Pitrajaya Burnama dan dua terakhir digarap langsung oleh Ratno.


    Jejak Para Jagoan Komik di Jagad Sinema Indonesia

    Dalam kurun waktu 1970-1990, menurut penelusuran Medcom.id, ada 25 judul film bioskop yang diadaptasi dari karakter komik. Kebanyakan tokohnya adalah pendekar atau jagoan dengan kemampuan silat seperti telah disebut di atas.

    Beberapa judul lain di antaranya Tuan Tanah Kedawung (1970) dan Tjisadane (1971) dari komik karya Ganes TH, Darna Ajaib (1980) dari komik Filipina karya Mars Ravelo, dan lima episode Jaka Sembung dari komik karya Djair. Lalu ada Gundala Putra Petir (1981), yang diadaptasi dari superhero Gundala pengontrol petir ciptaan Hasmi. Ada pula adaptasi Superman berjudul Rama Superman Indonesia (1974) garapan Frans Totok Ars.

    Jaka Sembung Sang Penakluk (1981), yang digarap sutradara dan produser Sisworo Gautama bersama aktor utama Barry Prima, tercatat sebagai film terlaris ketiga tahun itu dengan capaian penjualan tiket 302 ribu lembar.

    Dari tahun-tahun itu, 1977 dan 1983 adalah tahun paling ramai film adaptasi komik jagoan dengan empat hingga enam judul. Dari sekian seniman, komik karya Ganes TH adalah yang paling sering diadaptasi. Total ada 11 judul film berdasarkan karakter komik ciptaannya.


    Gundala dan Jagat Sinema BumiLangit

    Berselang 29 tahun sejak film laga Jaka Sembung dan Dewi Samudra (1990) garapan Atok Sugiarto, kita bersiap menantikan film Gundala versi terbaru garapan sutradara dan penulis Joko Anwar, yang sebelumnya mengerjakan Pengabdi Setan dan serial Halfworlds.

    Screenplay Films dan BumiLangit Studio telah merilis teaser perdana untuk film ini yang terlihat meyakinkan dengan pembaruan cerita. Ada Abimana Aryasatya di sana sebagai aktor utama pemeran Sancaka alias Gundala.

    Lain dulu lain sekarang, termasuk situasi dan strategi bisnis film adaptasi komik semacam ini. BumiLangit adalah perusahaan baru yang aktif sejak 2003 dan telah mengamankan lisensi 1.148 karakter dari berbagai macam komik klasik dan modern.

    Hampir semua karakter populer komik klasik berada dalam pengelolaan mereka. Situs web BumiLangit mencatat setidaknya sembilan kreator asli yang lisensi karya mereka telah diakuisisi. Mereka adalah Kosasih, Ganes, Hasmi, Man, Jan Mintaraga, Wid NS, Nong GM, Banuarli Ambardi, dan Mater.

    "(Penerbit komik) Sraten bikin BumiLangit untuk mengelola karakter (karya) Pak Hasmi. Setelah saya gabung pada 2004, baru kami akuisisi yang lain," ungkap Andy.

    Jejak Para Jagoan Komik di Jagad Sinema Indonesia
    Cuplikan teaser Gundala (Screenplay Films)

    Pengelolaan satu atap ini membuat strategi cerita shared universe atau jagat sinema menjadi sangat mungkin. Andy bercerita bahwa BumiLangit memang telah menyiapkan linimasa cerita bersama untuk para tokoh komik mereka.

    Linimasa tersebut menjadi dasar pengembangan cerita ke beberapa film dan  film Gundala adalah lokomotifnya. Rencananya, mereka membuat satu film setiap tahun bersama perusahaan produksi. Sejauh ini, mereka hendak membuat 10 film.

    Setelah Gundala, ada proyek Si Buta dari Gua Hantu yang naskahnya masih dikembangkan oleh Timo Tjahjanto, sutradara Headshot (2016) dan The Night Comes for Us (2018). Andy belum mau membeberkan informasi untuk delapan proyek berikutnya.

    Kendati tertinggal sekian tahun dari Hollywood dan belum ada proyek film serupa yang terbukti berhasil, Andy yakin bahwa genre film ini masih relevan di Indonesia.

    "Masalahnya, sekarang kita mau jadi trendsetter atau follower? Kalau mau jadi follower, kita tunggu ada yang booming, baru kami ikut," kata Andy.

    "Kayaknya, kita sudah lama berangan-angan ada film Gundala. Kami rasa, ini adalah waktu yang tepat (...). Kami akan berusaha menjadi trendsetter. Kalau Gundala booming, pasti pengikut banyak," tukasnya.


     



    (ELG)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id