Derita Karantina Haji Masa Silam

    Sobih AW Adnan - 15 Juli 2019 17:51 WIB
    Derita Karantina Haji Masa Silam
    ILUSTRASI: Kapal yang akan membawa jemaah haji Indonesia ke tanah suci, Tanjung Priuk, 1938. Het Nationaal Archief/Kemenag.go.id
    Jakarta: Pada akhir abad 19, masyarakat internasional diresahkan berita tentang menyebarnya penyakit ganas yang sangat menular. Fenomena tersebut dianggap dampak negatif dari teknologi transportasi laut yang kian berkembang.

    Kapal-kapal, kata mereka, tidak cuma menghubungkan orang-orang. Tetapi juga mengantarkan penyakit-penyakit yang dideritanya.
      
    Demi menyudahi ancaman tersebut, negara-negara besar berkumpul dalam sebuah konferensi penanggulangan wabah. Salah satu yang amat disoroti adalah pertukaran penyakit yang sangat potensial muncul pasca-ibadah haji. 

    Baca: Mengenang Haji Jalur Laut

    Belanda, Rusia, Turki, dan Prancis mengimbau agar setiap negara menerapkan aturan karantina bagi para calon haji. Siapa pun yang hendak berhaji, mereka diharuskan menjalani pemeriksaan kesehatan intensif di lokasi tertentu agar bisa dipastikan steril dari ancaman segala penyakit.

    Mursyidi dan Sumuran Harahap dalam Lintasan Sejarah Perjalanan Jemaah Haji Indonesia (1984) menceritakan, konsekuensi dari aturan itu adalah setiap haji yang hendak berlabuh di Jeddah, Arab Saudi harus turun selama tiga sampai tujuh hari di Pulau Kameran atau Kamerun, sebuah pulau terpencil yang terletak di dekat Laut Merah. 

    "Mereka terpaksa mandi dengan menggunakan air laut dan makan seadanya," tulis Mursyidi.

    Terserang penyakit baru

    Penderitaan jemaah haji masa itu, ternyata tidak cuma dialami saat keberangkatan. Ketika pulang dan akan menginjakkan kembali kakinya di Tanah Air, mereka pun masih harus melalui proses tak manusiawi.
     
    Persis dikisahkan sejarawan Alwi Shahab dalam Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe (2001), terhadap jemaah haji Indonesia, Pemerintah Hindia Belanda mewajibkan secara ketat aturan karantina sebelum mereka kembali ke kampung halaman.
     
    Dipilihlah Pulau Onrust. Di pulau yang berjarak sekitar 14 kilometer dari Jakarta inilah para jemaah harus tertahan tiga sampai sepuluh hari sesuai dengan kelancaran pemeriksaan kesehatan yang mereka alami.
     
    "Jemaah yang baru pulang dari Tanah Suci pertama kali harus turun di Pulau Cipir, seberang Onrust, kemudian dicek oleh dua petugas. Usai pemeriksaan, para haji diharuskan mengganti pakaian dengan seragam karantina yang steril. Kemudian mereka mandi dan diperiksa seorang dokter. Jika diketahui mengidap atau membawa bibit penyakit menular, mereka diharuskan tinggal di stasiun karantina Pulau Cipir, yang dibangun bersamaan dengan karantina Onrust pada 1911," tulis Alwi.
     
    Alih-alih pemeriksaan kesehatan, tak sedikit dari jemaah haji yang akhirnya malah wafat lantaran kekurangan makanan dan terserang penyakit baru. Selidik demi selidik, kondisi pulau sebenarnya memang tidak bersahabat bagi kehidupan manusia.
     
    "Yang menyedihkan, di Onrust jenazah-jenazah para haji itu dimakamkan di sembarang tempat dan tidak memperhatikan arah kiblat," tulis Alwi, masih dalam buku yang sama.



    (SBH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id