Soal Lama Antrean Haji, Indonesia Lebih Baik daripada Malaysia

    Medcom - 28 Agustus 2019 12:58 WIB
    Soal Lama Antrean Haji, Indonesia Lebih Baik daripada Malaysia
    Ilustrasi: Umat Muslim melakukan tawaf keliling kakbah sebagai bagian dari pelaksanaan ibadah umrah di Masjidil Haram. Foto: Antara/Aji Styawan
    Makkah: Indonesia lebih baik dari Malaysia dalam urusan ibadah haji. Ini merujuk pada lama antrean pergi haji antara Indonesia dan negeri jiran itu.

    Tercatat, lama antrean jemaah haji Indonesia pada kisaran 20 tahun. Angka ini dibagi dari jumlah kuota haji Indonesia sebesar 231 ribu orang setiap tahunnya.

    "Untuk Indonesia, kalau dirata-rata, antreannya pada kisaran 20 tahun," kata Konsul Haji KJRI Jeddah Endang Djumali, di Jeddah, seperti dilansir dari Kemenag.go.id, Selasa, 27 Agustus 2019.

    Jemaah haji Indonesia terbagi sampai 529 kelompok untuk pemberangkatan ke Tanah Suci. Biaya penyelenggaraan ibadah haji Indonesia (BPIH) berada pada kisaran USD2.500 atau sebesar 35,6 juta (kurs Rp14.264 per dolar).

    "Dalam Penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, Indonesia melibatkan 4.200 petugas," kata dia.

    Data sistem informasi dan komputerisasi haji terpadu (Siskohat) mencatat antrean haji Indonesia yang terpendek adalah sembilan tahun untuk keberangkatan 2028. Sedangkan antrean terpanjang adalah 41 tahun atau keberangkatan pada 2060.

    Di Asia Tenggara, rekor antrean terpanjang dipegang Malaysia. "Antrean berangkat haji Malaysia sampai 120 tahun. Singapura mencapai 34 tahun," kata Endang.

    Thailand yang notabene negara dengan minoritas muslim memiliki antrean sangat pendek, yakni satu tahun. Sedangkan Brunei darussalam dengan jumlah penduduk yang sedikit, lama antrean berkisar tiga tahun.

    "Sri Langka juga memiliki antrean yang cukup pendek, yakni berkisar satu tahun," ujar Endang.

    Sebelumnya, Ketua Rombongan Tabung Haji Malaysia Dato Sri Syed Saleh bin Syed Abdul Rahmad mengatakan jumlah jemaah calon haji yang telah mendaftar melalui lembaga Tabung Haji Malaysia mencapai 2,5 juta orang. Sementara, jatah kuota haji Malaysia hanya 30 ribu kursi per tahun. Imbasnya, antrean tunggu haji menjadi sangat panjang.
     
    "Sebanyak 80 persen dari kesulurahan kuota digunakan untuk haji reguler. Sedangkan 20 persennya diserahkan kepada syarikat swasta untuk paket haji plus," kata dia saat berkunjung ke Misi Haji Indonesia di Makkah, Rabu, 21 Agustus 2019. 
     
    Karena masa tunggu ratusan tahun, maka Tabung Haji Malaysia melarang warga yang sudah pernah berhaji untuk mendaftarkan kembali. "Dulu ada masa tunggu lima tahun dari pendaftaran haji pertama ke kedua, sekarang sudah tak boleh lagi," kata Dato Sri.
     
    Dia mengatakan jemaah haji Malaysia yang berangkat tahun ini sudah mendaftar 12 tahun sebelumnya. Setelah masa itu, pendaftaran haji melonjak hingga menghasilkan masa tunggu ratusan tahun. (Siti Mazhidawati)





    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id