Jerih Payah Tukang Becak untuk Naik Haji

    Antara - 11 Juli 2019 15:39 WIB
    Jerih Payah Tukang Becak untuk Naik Haji
    Jamaah calon haji kelompok terbang (kloter) pertama melambaikan tangannya saat menuju ke pesawat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (7/7/2019). ANTARA FOTO/Abriawan Abhe.
    Solok: Seorang tukang becak asal Kota Solok, Sumatera Barat, Samsunur, 58, bersama istrinya, Kasmawati, 55, akan melaksanakan ibadah haji  tahun ini. Pasangan tesebut merupakan warga Kelurahan Aro IV Korong, Kecamatan Lubuk Sikarah, Sumatera Barat.

    Samsunur bisa memboyong istrinya ibadah haji lantaran mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sejak beberapa tahun lalu.

    "Saya dan istri mendaftar haji pada 2011, harusnya jatah berangkat 2020, tapi Alhamdulillah dimajukan menjadi 2019," kata Samsunur di Solok, Kamis, 11 Juli 2019.

    Samsunur menyebut jika pekerjaannya sebagai penarik becak tidak menghalangi niatnya untuk pergi ke Tanah Suci Arab Saudi. Dengan penghasilan sekitar Rp40 ribu hingga Rp75 ribu perhari, ia dan istrinya tetap bisa menyisihkan penghasilannya sejak 2004.

    "Anak saya belum bisa membantu, karena ada yang sudah berkeluarga tapi baru cukup untuk keluarganya," ungkap Samsunur.

    Sejak tahun 1985 atau pertama narik becak, Samsunur memakai becak kayuh namun pada 2007 baru memakai becak motor. Hampir 34 tahun ia menjadi tukang becak.

    Samsunur memiliki langganan orang pasar seperti penjual sate, bubur candil, buah-buahan, petani untuk mengangkut pupuk atau benih, orang menjual baju dan lainnya.

    "Semua yang bisa saya angkut muatannya, pasti dibantu dengan tarif sesuai pemberian mereka. Tidak saya patok, terkadang diberi Rp5 ribu, Rp7 ribu bahkan lupa dibayar," jelas Samsunur.

    Samsunur menerapkan sistem bayar seikhlasnya ke setiap pelanggan dan orang yang memakai jasanya.

    Kemudian Samsunur pindah ke Solok pada 1985 saat menikah dengan Kasmawati. Dulu istrinya membantu keuangan dengan berjualan makanan ringan seperti kerupuk kuah di depan rumah. Sejak operasi kista pada 2010, Kasmawati tidak lagi menjual kerupuk.

    Tapi ayah dengan lima orang anak ini tidak pernah mengeluh untuk dapat mewujudkan rukun Islam yang kelima tersebut. Pada Juni sebelum manasik haji, ia akhirnya dikabarkan salah satu rombongan haji lainnya jika jatahnya dapat dimajukan di 2019.

    Samsunur dan istrinya mengaku sangat senang dan bersyukur mendengar kabar tersebut. Merekapun berangkat haji pada Rabu, 10 Juli 2019 menuju Embarkasi Padang terlebih dahulu.



    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id