YOUR FASHION

Esteem Need dan Self Actualization, Pemicu Kelas Menengah Membeli Barang Palsu

A. Firdaus
Sabtu 07 Mei 2022 / 15:15
Jakarta: Belakangan banyak pemberitaan mendalam yang membahas tentang kelas menengah doyan membeli barang palsu. Fenomena ini terjadi mayoritas dilakukan oleh Generasi Milenial.

Hal ini, menurut Psikolog Efnie Indrianie, didasari oleh kebutuhan dasar seseorang dan bukan sebuah tren. Menurutnya, ada dua kebutuhan yang menjadi seseorang membeli brand atau barang palsu.

"Dua di antara need tersebut adalah esteem need dan self actualization. Esteem need mendorong seseorang untuk memiliki status dan dikenal," ujar Efnie kepada Medcom.id.

Sementara self actualiazation, mendorong seseorang untuk mewujudkan kemampuan dirinya. Hal inilah yang membuat milenial menjadi tergiur untuk menggunakan barang palsu.

Kendati demikian, Efnie mengatakan kalau aktivitas ini bukan sebuah beban. Justru ini karena adanya dorongan dari dua kebutuhan di atas.

"Oleh karena itu, di saat kondisi keuangan belum memadai, untuk memenuhi dorongan memiliki barang bermerek terkenal dan mahal maka barang palsu jadi solusinya," jelas Efnie.

Membeli barang palsu, di Indonesia tentu ada sanksinya. Meski demikian, hukum yang ada tak menyurut niat mereka membeli barang atau brand palsu.

Pada umumnya, masih menurut Efnie, masyakarakat umum akan menjadi takut jika sanksi diberlakukan dengan tegas dan ada shock therapy tertentu. Artinya ada seseorang yang diberikan sanksi hukum yang cukup memberatkan dan kejadian ini menjadi viral.

Padahal, membeli barang palsu secara psikologis juga akan memberikan dampak negatif. Salah satunya akan menurunkan self esteem seseorang yang bisa berujung pada perasaan rendah diri yang berkepanjangan," tandas Efnie, yang juga penulis buku SURVIVE menghadapi Quarter Life Crisis tersebut.
(FIR)