YOUR FASHION

Karya Kami. Sambut Ramadan dan Lebaran

Yatin Suleha
Jumat 02 April 2021 / 23:05
Jakarta: Fashion memang selalu menarik. Dari gaya busana dapat terlihat karakteristik yang ingin dibangun oleh kepribadian masing-masing orang.

Tulisan Dina AH dalam "The Modest Fashion Movement: Goals, Key Players, and Problems to Address" via Bellatory mengungkapkan bahwa pergerakan modest wear terus berkembang sejak memasuki tahun 2000-an. 

Penulis Hannah Almassi memaparkan tren modest wear terkenal di UK dan Eropa sebagai istilah dari preferensi fashion yang termotivasi dari religiositas (pengabdian terhadap agama). Tren ini banyak dipengaruhi oleh fashion para hijaber yang menginspirasi rumah-rumah mode dunia sampai ke Paris, Milan, London, hingga New York.

Yang menjadikannya menarik adalah fashion modest wear telah bergerak dari potongan baju muslim tradisional, sehingga terjadi fashion yang 'mengawinkan' dari (apa yang perlu) dipercayai (dari agama) menuju pakaian yang dikenakan.

Dengan kata lain, modest wear masih bisa dipadu-padankan dengan aneka baju (atau celana) modern dan berbagai bagiannya tidak menunjukkan lekuk tubuh secara nyata. Gampangnya modest wear pakemnya bergaya pakaian yang sopan. 

Dan salah satu fashion kebangaan dalam negeri yaitu Kami. menjadi salah satu yang terus berkembang hingga saat ini. Digawangi tiga perempuan cantik, Istafiana Candarini (Irin) selaku CEO, Nadya Karina (Karin) sebagai Creative Director, dan Afina Candarini sebagai Finance Director Kami. menjadi salah satu brand fashion ternama di Indonesia.


kami
(Tiga perempuan pendiri Kami. dari kiri-kanan Afina Candarini, Istafiana Candarini, dan Nadya Karina. Foto: Dok. Kami.)
 

Awal mula Kami. berdiri


Berawal dari hanya membuat aneka aksesori seperti kalung chunky dan scarf, Kami. di tahun 2009 memulai dari media sosial (Facebook). Tak lama dari itu momentum Kami. menyatu dengan launching Hijabers Community/HC (komunitas pertama yang menjadi wadah fashion hingga studi islami), menjadikan Kami. lebih berkembang lagi.

"Tahun 2009 tuh emang eranya orang-orang suka pakai (kalung) chunky necklace, yang gede-gede, itu banyak yang suka, kita bikin kayak gitu," ucap Karin. 

"Nah, awalnya tuh kita dari situ. Nah, dari situ tuh kita banyak explore bahan-bahan, kan kalau si necklace kalau pakai bahan yang kaya gini-gini tuh dia seratnya keluar. Nah dulu tuh ada yang bahannya kalau digunting itu dia jadi ngelinting bahannya, bahan kaos," sahut Irin.

"Ngelihat bahannya itu kok lucu banget, enak banget si kaosnya, nah akhirnya kita develop si scarf leher. Awalnya kecil aja 150 x 30 kali 50 kali, kita bikin tie dye gitu awalnya, dengan warna soft pastel-pastel, ya udah terus di 2010 bertepatan sama berkembangnya Hijabers Community kebetulan mereka tertarik banget sama fashion gitu kan mereka gimana caranya urban muslim nih bisa tetap gaya gitu kan (dengan pakai) jilbab," kenang Irin.

HC memakai karya dari Kami. "Mereka pengin banget ngebawa Islam tapi not in conventional way," sahut Karin. Dari sejak itu, Kami. terus melaju pesat.

Ngomong-ngomong soal berdirinya Kami. juga dilatarbelakangi dari pengalaman pribadi Irin. Ia terkenang akan sulitnya menemukan baju muslin yang modern. Sentuhannya bergaya dan tetap dalam pakem baju muslim. 

"Aku dulu cari baju tuh dulu rasanya, kalau kita belinya khusus baju muslim ya, itu rasanya aduh asli beneran kayak bu guru," kenang Irin sambil tertawa. "Sementara usia kita masih di 20-an," tambah Irin. 

Kegelisahan tersebutlah yang mendatangkan ilham untuk menciptakan sebuah karya apik anak muda, yang tak terasa sudah dijalani selama 12 tahun.

Di tahun 2010 Kami. secara volume naik hingga 1000 persen. Momentum Kami. yang dipakai dalam launching Hijabers Commuity berbuah manis.

"Dia sampai ninggalin kuliah," tunjuk Karin sambil tersenyum ke Irin. Terbayang produksinya kenang Irin per hari hingga ratusan piece. "Yang ngegunting (bahan) itu sampai 20 orang," aku Irin. Bisnis saat itu bisa dibilang cuan. Sehingga 'lahan' ini perlu dibangun secara lebih mendalam dan serius dari tiga perempuan cantik ini.



(Kami. Loungewear yang nyaman saat ber-wfh. Video: Dok. Kami./@kamiidea)
 

Kami. sambut Ramadan dan Lebaran


Modest wear dari Kami. memang cantik dan menarik. Yang berbeda dari fashion modest wear dengan brand lain yaitu kualitas bahan yang dibuat. Irin bilang yang utama dari passion tiga perempuan ini adalah craftmanship dalam pembuatannya.

Aksesori, payet, bordir, print menjadi detail yang dipikirkan secara matang. Kami. juga siap hadir di momen Ramadan dan Lebaran yang sebentar lagi datang. Irin mengatakan di momen Lebaran Kami. juga mengeluarkan sarimbit atau seragam keluarga.  

Kalau kamu melihat (biasanya batik) sering dipakai oleh mama, papa, dan anak-anaknya mudahnya seperti itu. Namun Kami. menghadirkan yang lebih keren lagi, bukan sarimbit yang seperti disebutkan barusan, melainkan memainkan tone atau warna senada.

Ini ada alasannya karena, "Suami kadang-kadang risih ke mana-mana seragaman persis sama. Di tahun kedua kita develop (sarimbit) yang serasi aja. Jadi eggak persis sama suami istri, tapi cocok dipakai satu tema. Satu tone," papar Irin.

"Penginnya si bapak-bapak pakai setelah Lebaran juga tetap pakai. Bukan sekedar biar istri senang," kelakar Karin. 

Berbagai seri dalam sentuhan Kami. tersedia dari mulai Kami. Basic yang polos-polos, Kami. First dengan sentuhan lebih formal dan premium, Kami. Loungewear yang nyaman dipakai walau di dalam rumah sambil wfh dan masih banyak lagi. 

Janika juga akan meramaikan busana di momen Lebaran dari Kami. Janika yang berarti God is Precious, akan bermotif Skandinavia dengan pattern khas ala Utara Eropa lho. Hm, sudah enggak sabar sambut puasa dan Lebaran memakai Kami.?

Jangan bingung karena terdapat 17 toko di berbagai daerah seperti Medan, Pekanbaru, Lombok, Yogyakarta dan puluhan lainnya selain online. Jadi, selamat memilih dan berbelanja ya!
(TIN)