YOUR FASHION

Sentuhan Agusta dalam Tie-Dye yang Indah

Yatin Suleha
Minggu 28 Maret 2021 / 20:46
Jakarta: Tie-dye atau ikat celup merupakan salah satu tren fesyen yang berulang dan sedang tren saat ini. Dalam Wikipedia disebutkan tie dye adalah teknik mewarnai kain dengan cara mengikat kain dengan cara tertentu sebelum dilakukan pencelupan. 

Di beberapa daerah di Indonesia, teknik ini dikenal dengan berbagai nama lain seperti pelangi atau cinde (Palembang), tritik atau jumputan (Jawa), serta sasirangan (Banjarmasin). Teknik ikat celup sering dipadukan dengan teknik lain seperti batik misalnya.

Harpers Bazaar melansir tren tie dye masih akan terus eksis di tahun 2021 ini. Bahkan banyak desainer fashion dunia membuat koleksi tie dye untuk koleksi musim semi 2021. 

Sebut saja Christoper Kane, Tom Ford hingga Christian Dior. Keunikan motif tie dye ada pada coraknya yang tidak akan sama satu sama lain, karena proses pembuatannya sangatlah bergantung pada cat dan ikatan pada kain yang melibatkan kreativitas pembuatnya.

Tren tie dye di Indonesia menarik banyak pelaku usaha kecil dan menengah. Tak terkecuali bagi Agusta. Perempuan yang sebelumnya berjualan minuman di sebuah kampus di Semarang ini tak bisa lagi melakukan kegiatannya sejak perkuliahan dilakukan secara online. 

Agusta mencari cara untuk tetap mendapatkan pendapatan dengan berjualan masker melalui platform e-commerce. Seiring waktu, Agusta melihat potensi kain motif tie dye menjadi tren yang banyak dicari.

“Saya ikuti apa yang sedang tren, soalnya kalau enggak begitu saya enggak ada pemasukan,” ujarnya. 


tie
(Agusta bangkit dan berikan karya tie dye dalam fashion yang indah. Foto: Istimewa)


Berbekal keinginan untuk belajar, Agusta menemukan kursus membuat tie dye yang bersertifikat di Pintaria, sebuah platform kursus online yang juga merupakan mitra Kartu Prakerja. 

Agusta beruntung karena dirinya bisa memenuhi syarat mendaftar sebagai penerima kartu Prakerja dan lolos di gelombang ke-14. 

Ia menggunakan saldo Kartu Prakerja di Pintaria untuk belajar membuat kain tie dye. Kini, Agusta tak hanya berjualan masker di platform e-commerce, tapi juga kain tie dye yang ia akui cukup laris. Kain tie dye ia jual rata-rata seharga Rp100 ribu.

Novistiar Rustandi, CEO Pintaria mengatakan apresiasinya kepada para peserta Prakerja yang membuka usaha kreatif di bidang fashion. 

“Kami senang jika kursus yang kami tawarkan bisa meningkatkan jumlah pelaku usaha kreatif di Indonesia. Pintaria memiliki kelas yang beragam bagi peserta yang ingin membuka usaha kreatif di bidang fashion, diantaranya membuat kain shibori, tie dye, dan membuat masker kain,” paparnya.

Masyarakat yang ingin mengikuti kursus Prakerja di Pintaria bisa mengunjungi Pintaria.com/kartuprakerja dan memilih berbagai program yang ditawarkan dengan durasi kursus yang cepat, materi yang interaktif dan bersertifikat. Terus berkreasi dan beradaptasi, salah satu kunci sukses jalani karier di tengah pandemi.
(TIN)