YOUR FASHION

Jokowi 'Kepincut' Keindahan Jaket Bomber Motif Khas Dayak Sintang

Mia Vale
Rabu 08 Desember 2021 / 15:32
Jakarta: Kalau sudah kepincut, apa pun bisa berubah. Ya, itulah yang terjadi pada Presiden Jokowi saat mampir ke salah satu gerai di lobi Bandara Tebelian Kabupaten Sintang, Kalimantam Barat. 

Awalnya, ia tertarik melihat kain tenun ikat Sintang yang dipajang oleh gerai tersebut. Presiden Jokowi pun memutuskan untuk masuk ke gerai tersebut sebelum meresmikan Bandara Tebelian, Rabu, 8 Desember 2021.

Saat itu, Jokowi bersama Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri PUPR d Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji. Mereka melihat-melihat kain tenun ikat sintang yang merupakan produksi UMKM setempat.

"Di satu pojok lobi Bandara Tebelian, Sintang pagi ini, saya mendapati gerai yang memajang kain tenun ikat Sintang yang menarik," tulis Jokowi melalui akun resmi Instagramnya @jokowi, Rabu, 8 Desember 2021.


jaket sintang jokowi
("Saya memilih jaket bomber yang langsung saya kenakan ini. Kainnya bermotif manok, yang ditenun pengrajin Desa Umin Jaya dan penjahit dari UMKM Kota Sintang," tutur Jokowi di akun Instagramnya @jokowi. Foto: Dok. Instagram resmi Joko Widodo/@jokowi)


Rupanya, Jokowi jatuh cinta dengan jaket bomber berbahan tenun ikat Sintang tersebut. Ia pun langsung memutuskan untuk membeli jaket tersebut. Bahkan, jaket bomber bermotif manok atau tali pengikat kaki ayam yang didominasi warna merah itu langsung dipakainya untuk peresmian Bandara Tebelian Sintang.

Seperti yang berhasil dikutip dalam keterangan biro pers Sekretariat Presiden, awalnya Jokowi tampak tertarik untuk membeli kain tenun. 

Namun, para menteri dan Gubernur Kalbar, Sutarmidji merayu Jokowi untuk membeli jaket, dengan alasan untuk mempromosikan kain tenun Sintang. Tanpa pikir panjang, Jokowi akhirnya memilih jaket seperti yang disarankan para rombongan. 

"Saya memilih jaket bomber yang langsung saya kenakan ini. Kainnya bermotif manok, yang ditenun pengrajin Desa Umin Jaya dan penjahit dari UMKM Kota Sintang," tutur Jokowi di akun instagramnya tersebut. 

Tak hanya Jokowi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pun membeli seulas kain tenun yang juga langsung dipakai.


jokowi pakai jaket sintang
("Saya memilih jaket bomber yang langsung saya kenakan ini. Kainnya bermotif manok, yang ditenun pengrajin Desa Umin Jaya dan penjahit dari UMKM Kota Sintang," tulis Jokowi dalam postingan di Instagramnya @jokowi. Foto: Dok. Instagram resmi Joko Widodo/@jokowi)
 

Kain tenun sintang


Tak salah jika Presiden Jokowi memutuskan untuk langsung memakai jaket bomber dengan bahan kain tenun ikat Sintang. Ini karena keindahan alami yang dihasilkan. Dilansir dari Peluangusaha-kontan, warna dari kain tenun sintang berasal dari bahan baku tumbuh-tumbuhan, seperti kunyit dan cabai. Motif dibuat dengan mengikat-ikat benang dan membentuk gambar tertentu kemudian baru ditenun. 

Motif kain tenun sintang sangat menarik karena dibuat menggambarkan kehidupan dan kepercayaan masyarakat Dayak, seperti gambar dewa atau corak etnik kedaerahan. Selembar kain tenun seukuran selimut membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan dengan menggunakan alat tenun yang terbuat dari kayu dan bambu yang biasa disebut ‘gedokan’.

Dilansir dari Kikomunal-indonesia dan Dkv Binus New Media, ada beberapa jenis kain Sintang yang pembuatannya masih banyak dilakukan dengan cara manual ini.

Saat ini kain tenun ikat memiliki perbedaan, yaitu tenun ikat Dayak asli dan tenun ikat moderen. Perbedaannya adalah, kain tenun ikat dayak asli masih menggunakan bahan benang dan warna dengan bahan alami melalui proses secara tradisional yang dikenal dengan istilah kain besuoh.

Pewarnaan memanfaatkan daun, akar, batang, kulit, buah, umbi, maupun biji dari tumbuh-tumbuhan. Yang banyak dipakai misalnya mengkudu, jerenang, daun kayu leban, bunga tarum dan sebagainya.

Sedangkan kain tenun ikat moderen menggunakan bahan benang yang sudah jadi dan menggunakan zat warna kimia tanpa melewati persyaratan adat yang disebut dengan kain mata. Hal ini yang menyebabkan beberapa proses yang mengandung nilai ritual sudah tidak lagi dilakukan.
(TIN)