WISATA

Membedakan Rapid Test Antigen dengan Rapid Test Biasa

Raka Lestari
Rabu 16 Desember 2020 / 19:25
Jakarta: Perayaan Natal dan Tahun Baru tinggal menghitung hari. Meski pandemi covid-19 belum berakhir, bukan berarti minat masyarakat untuk berlibur terhenti.

Bagi kamu yang ingin tetap pergi menikmati liburan, terutama ke luar kota, pemerintah berencana untuk mewajibkan melakukan rapid test antigen bagi warga yang bepergian ke Jakarta dan Bali pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kebijakan tersebut masih dikaji bersama kementerian dan lembaga terkait.

Akan tetapi, Gubernur Bali I Wayan Koster sudah memberikan aturan khusus bagi para wisatawan yang ingin berkunjung ke Pulau Dewata selama libur Nataru. Sesuai Peraturan Gubernur Bali Nomor 46 Tahun 2020, di mana pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN) melalui udara yang menuju ke Bali, wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif swab tes PCR, paling lama 2x24 jam sebelum keberangkatan.

Sedangkan bagi yang melakukan perjalanan memakai kendaraan pribadi melalui transportasi darat dan laut, wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif rapid test antigen, paling lama 2x24 jam sebelum keberangkatan.

Jika selama ini orang mengenalnya rapid test, apa perbedaan rapid test biasa dengan rapid test antigen? Berikut ini adalah penjelasannya, dikutip dari Health:
 

Rapid test antigen


Jenis tes diagnostik ini sering disebut rapid test karena waktu penyelesaiannya jauh lebih cepat daripada tes PCR. Tes ini juga lebih murah, sehingga sering digunakan untuk melakukan skrining massal seperti di bandara.

Penyedia layanan kesehatan akan mengusap bagian belakang hidung atau tenggorokan untuk mengumpulkan sampel yang akan diuji. Berbeda dengan tes PCR yang memerlukan waktu berhari-hari untuk mengetahui hasil tes.

Hasil repid test antigen ini bisa diketahui dalam waktu satu jam atau kurang. Beberapa tes antigen dapat dilakukan langsung di kantor penyedia layanan kesehatan, yang berarti kamu tidak perlu pergi ke lab untuk melakukan pengujian.
 

Rapid test antibodi


Tes ini mencari antibodi terhadap virus korona, dilakukan dengan mengambil sampel darah melalui tusukan jari atau pengambilan darah dari pembuluh darah di lengan. Antibodi adalah protein yang diproduksi oleh sistem kekebalanmu untuk melawan benda asing, seperti virus.

Tes ini tidak dapat mendiagnosis infeksi virus korona aktif. Antibodi tidak dapat dideteksi sampai setidaknya beberapa hari setelah infeksi dimulai.

Menurut Mayo Clinic, tes ini tidak direkomendasikan sampai setidaknya 14 hari setelah gejala awal muncul. Jika kamu melakukan tes terlalu awal, sedangkan sistem kekebalan tubuh masih meningkatkan pertahanannya, maka kemungkinan tidak akan memberikan hasil yang akurat.
(FIR)