WISATA

Pameran Rasa Tiga Seniman Muda

Arthurio Oktavianus Arthadiputra
Rabu 05 Mei 2021 / 14:59
Yogyakarta: Tiga seniman muda menggelar pameran tunggal di Galeri Kohesi Initiative, Jalan Tirtodipuran No.50, Yogyakarta, mulai 1 Mei  - 6 Juni 2021. Seniman tersebut adalah Addy Debil, Ummi Shabrina dan Bernandi Desanda.

Sebanyak 49 karya dipamerkan kepada penikmat seni dengan warna-warna cerah tertuang di atas kanvas. Tema lukisan Addy Debil adalah “Eyes Shut Fantasia”, Ummi Shabrina dengan “Anomaly in Matrimony” dan Bernandi Desanda dengan “Unexpected Lines”. 

Karya Addy Debil menggambarkan diskursus visual yang membahas subjek menutup mata. Ummi Shabrina mempertanyakan kembali makna dibalik kemeriahan acara pernikahan. 


lukisan
(Karya Ummi Shabrina berjudul Red and Blue. Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)


Bernandi Desanda mewakilkan keresahan yang dirasakan hewan dengan penolakan terhadap hierarki di alam liar.

Pameran lukisan di masa pandemi ini dijalankan oleh pihak Galeri Kohesi Initiative dengan protokol pencegahan Covid-19. Seperti menyediakan tempat cuci tangan, pemeriksaan suhu badan, menjaga jarak, pengunjung harus mengenakan masker dan membatasi jumlah per periode kunjungan.

Selain itu, pengunjung yang ingin melihat karya dari tiga seniman muda ini akan dikenai biaya Rp5000, untuk tiket masuk per pengunjung. Dengan waktu pameran Selasa-Minggu, pukul 12.00-19.00 WIB, dan harus reservasi terlebih dahulu. 


lukisan
(Karya Bernandi Desanda berjudul Waiting The Right Moment (Slow but Sure). Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)
 

Benang merah tiga perupa


Lukisan-lukisan karya tiga seniman muda ini seperti untaian benang merah tanpa kesepakatan, tapi menyatu satu sama lain. Benang tersebut terurai berupa clue pada setiap lukisan, yang harus dilihat secara jeli.

Addy Debil, Still Dreaming, seperti menggambarkan kegelisahan ketidak pastian tentang hidup, cinta dan kebahagiaan. Suatu saputan kesedihan yang bersembunyi pada warna cerah nan hidup dan taburan senyum aneka rupa. Guratan kesedihan jiwa yang tersamarkan.

Kegundahannya juga tercurah pada goresan berjudul Upside Down. Tentang perasaan yang dijungkirbalikkan. 

Seperti sedang bertanya pada diri sendiri saat bercermin pada kehidupan. Sesuatu yang tak bisa diutarakan sekaligus tak bisa dilupakan. Putih biru nan membiru.

Ummi Shabrina dalam saputan kuasnya seperti melukis foto dalam kanvas. Wujud perempuan yang dominan dalam lukisan, seperti simbol ungkapan emosi sisi feminis yang coba dituturkan pelukis. Aneka rupa, penuh warna.

Seperti lukisan berjudul Basic Wedding, tentang kemeriahan pesta pernikahan penuh tamu aneka rupa dandanan, jamuan musik dan makanan. Perayaan yang lumrah terjadi di masyarakat Indonesia kebanyakan. Tontonan kebahagiaan tentang pernikahan dan pesta.


lukisan
(Karya Addy Debil berjudul Upside Down. Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)


Lukisan lain, A Theory of Marriage, bertutur tentang gambaran umum (lagi!) akan pernikahan setelah pesta. Dongeng tua happy ending pernikahan adalah beranak pinak, bak teori usang tentang jalan kebahagiaan satu-satunya bagi manusia adalah menikah, tak ada cara lainnya.

Namun, lukisan Red and Blue seperti memberi gambaran lain tentang penikahan. Tentang mencari makna secara personal sesuai lakonnya. Ada tokoh dua insan yang tak bisa dipisahkan, pun pelakon rasa yang terkotak-kotakkan. Semuanya tergantung pilihan: Red and Blue.  

Bernandi Desanda melalui Defence of the Ancients. The Day before the End, mengolaborasikan isi semesta dengan penuh warna dalam satu ruang saputan kuas di atas kanvas putih. Ceria dan menyatu dalam ketidakberaturan. 

Waiting The Right Moment (Slow but Sure), mulai menampakkan sisi liar hewani yang saling memangsa. Secara ciamik pula ia menempatkan karakter hewan yang menunggu giliran mendapatkan jatah. Gejolak yang muncul dalam tenang. Penuh rupa, penuh warna.

Seperti Yin dan Yang, lukisan Self Healing. Animal Portrait Series, disuguhkan sebagai penanda keseimbangan diri. Penikmat seni seperti diajak untuk ikut tenggelam menyatu bersama semesta, secara personal. Menjadi bagian dalam perbedaan. 

(TIN)