WISATA

Yuk, Melancong ke Bukit Gumitir Sambil Menikmati Madu Klanceng

MetroTV
Rabu 05 Januari 2022 / 16:58
Jember: Tak hanya menyuguhkan pesona alamnya yang indah dan sejuk, kawasan hutan pinus di kaki perbukitan Gumitir, Kabupaten Jember, Jawa Timur, juga menawarkan madu klanceng. Suguhan keduanya membuat pikiran dan badan menjadi sehat secara bersamaan.

Pikiran akan menjadi tenang dengan pemandangan jejeran hutan pinus dan semilir angin sejuk. Di kawasan ini juga tengah naik daun keberadaan lokasi edukasi budidaya madu klanceng. Madu yang dihasilkan oleh lebah trigona.

Wisata edukasi lebah madu klanceng ini didirikan sejak dua tahun lalu. Insiatornya adalah Inspirator Lebah Madu Indonesia (ILMI) yang bekerja sama dengan Perhutani Jember. 

Di area lahan seluas 7 hektare ini, wisatawan dapat bersantai menikmati alam pegunungan sambil melihat secara langsung budidaya madu klanceng. Madu klanceng di sini diklaim menjadi salah satu yang terbaik.

"Lebah trigona di sini memproduksi madu yang tergolong sangat bagus. Jadi, per tiga bulan, jika vegetasinya bagus, madu yang dihasilkan mencapai 1 hingga 5 liter," ujar Ahmad Syahrul Alim, pembudidaya madu klanceng, dalam tayangan Newsline di Metro TV, Rabu, 5 Januari 2022

Lebah trigona merupakan lebah kecil dengan tubuh yang ramping dan hitam dengan sengata yang sangat bersahabat. Madu yang dihasilkan pun unik karena memiliki cita rasa yang sedikit asam.

Baca: 153 Ribu Turis Asing Melancong ke Indonesia di November 2021

Selain rasanya yang unik karena berbeda dengan madu pada biasa, madu klanceng juga berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit 

"Rasanya lebih ke asam manis, tapi lebih dominan ke manis. Soalnya, kita langsung minum dari sarangnya, tidak ada campuran bahan lain," kata Titin Indriyani, pengunjung.

Keberadaan edukasi lebah madu klanceng juga sebagai upaya meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar hutan. Agar lebah-lebah penghasil madu klanceng betah dan bernutrisi, di sekitar budidaya juga ditanam bunga beragam dan sejumlah tanaman herbal. (Alifiah Nurul Rahmania)
(UWA)