WISATA

Ragam Kekayaan Alam dan Kuliner Indonesia di Rakernas NasDem, dari Kopi hingga Mutiara

A. Firdaus
Kamis 16 Juni 2022 / 20:26
Jakarta: Partai NasDem menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada Kamis 15 Juni 2022 hingga Jumat 17 Juni 2022. Hari pertama Rakernas berjalan meriah karena diadakan Parade Budaya DPW dari masing-masing daerah.

Selain Parade Budaya, Rakernas Partai Nasdem juga menggelar Donor Darah dan dihiasi sekira 38 booth DPW. Mulai dari Kopi (DPW) Aceh, Batik (DPW Jawa Tengah), obat herbal pembesar alat vital (DPW Kalimantan Timur), sampai Mutiara Laut (DPW Nusa Tenggara Barat).
 

UMKM Binaan NasDem Aceh


Fevi yang merupakan Koordinator Booth DPW Aceh mengatakan, selain membawa produk andalannya seperti Kopi Gayo, ia juga memboyong beberapa merchandise dan kerajinan yang dibawanya langsung dari Aceh. Seperti Minyak Nilam yang merupakan aroma terapi, Kain Aceh, Topi Meukutop, Peci Aceh, Songket ada yang dibuat menggunakan tangan maupun mesin.

"Semua produk ini adalah hasil dari binaan DPW NasDem Aceh dan diproduksi langsung dari Aceh," ujar Fevi saat diwawancarai Medcom.id.



"Topi Aceh (Meukutop), syal perempuan, dan kain Aceh paling laris. Untuk harga syal berkisar dari Rp100 ribu hingga Rp300 ribu," sambung Fevi.

Untuk syal ada yang dibordir dengan motif khas Gayo seperti motif Tebing Sembilan yang dibuat dengan cara manual atau tanpa mesin. Ada juga bordiran Pucuk Rebung khas Aceh Besar.
 

Kopi wine yang tak memabukkan


Bergeser ke Booth Kementerian Pertanian, ada yang menarik perhatian yaitu Kopi Geulis dari Sumedang. Kopi yang disajikan ini memiliki 14 varian kopi arabica, salah satunya kopi wine. Proses sampai keringnya, Wine biasanya 40 hari.

"Kopi ini melewati proses fermentasi utuh dan setelah cukup waktu baru dikupas. Sebelum dijemur, kopi mengalami proses pembusukan atau fermentasi yang dibungkus dengan karung atau bahan lain (misalnya plastik) yang tidak kedap udara. Biasanya memakan waktu 40 hari," ujar Ayi Awang Hayati, pemilik Kopi Geulis.


Mutiara Air Laut NTB


Di booth DPW Nusa Tenggara Barat, terdapat beberapa keindahan dalam hiasan mutiara. Ada dua jenis mutiara yang diboyong ke Rakernas Nasdem ini, yaitu Mutiara Air Laut dan Mutiara Air Tawar.



Untuk membedakan kedua mutiara ini, terletak dari bentuknya. Mutiara Air Laut memiliki tekstur bulat, sedangkan Mutiara Air Tawar lebih berbentuk pipih. "Selain itu kami juga menyediakan merchandise kerajinan kayu Sirkuit Mandalika," kata Fitri.
 

Mandau seharga Rp25 juta


Melipir ke Booth DPW Kalimantan Timur, Medcom.id menemukan beberapa produk unik di sini. Di antaranya Amplang Batu Bara, Terasi Bubuk dari Bontang, Sirup, Udang Papay dan Ikan Asin dari Bontang, Gami yang merupakan Ikan yang sudah dicampur sambal.

Sementara itu, Erna yang mengkoordinir booth Kalimantan Timur menjelaskan sejarah Mandau, senjata khas Dayak yang penuh mistis. Terpampang di booth-nya Mandau yang sudah berusia 4 generasi. Erna pun tak sembarang menjual, karena dia harus tahu dulu karakter pembelinya.



"Saya ingin memperkenalkan kerajinan khas Dayak yang kini seperti punah. Untuk itu saya memberanikan diri untuk menjualnya ke sini (Jakarta)," ujar Erna.

"Mandau merupakan senjata khas Suku Dayak, kalau pun ada orang yang berani membelinya, saya juga harus lihat dulu karakter orangnya. Kalau si pembeli orang baik maka Mandaunya akan baik, begitu sebaliknya. Harganya Rp25 juta," jelas Erna.

DPW Kalimantan Timur juga menjual obat herbal, seperti Minyak Buntal. Minyak ini merupakan homemade yang berguna untuk membesarkan alat vital laki-laki, atau payudara dan bokong wanita.

"Untuk bisa mendapatkan minyak ini, diambil dari Ikan Buntal yang dijemur dan diambil minyaknya saja, tanpa kandungan lain. Saya menjualnya dari ukuran 10 ml (Rp100 ribu) dan 35 ml (Rp300 ribu)," jelas Erna.
(FIR)