WISATA

Lava Tour Mengenang Satu Dekade Erupsi Gunung Merapi

A. Firdaus
Sabtu 10 Oktober 2020 / 07:10
Sleman: Tepat pada periode Oktober 2010, Gunung Merapi erupsi. Letusan, awan panas, dan hujan abu mengusir warga yang tinggal di sekitaran lereng Gunung Merapi untuk bergegas pergi ke daerah radius aman, sekira 15-20 km dari puncak Merapi.

Setidaknya menurut data yang dilansir data BNPB, korban jiwa akibat erupsi Gunung Merapi 2010 sebanyak 347 orang. Termasuk juru kunci Gunung Merapi, Raden Ngabehi Surakso Hargo, atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan. Sedangkan warga yang mengungsi mencapai 410 ribu jiwa.

Bisa dibilang, erupsi Gunung Merapi pada 2010 lebih berbahaya dibandingkan dengan kejadian pada 2006. Bahkan Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, mengatakan kalau erupsi ini merupakan yang terbesar, karena terjadi penghancuran kubah lava yang menghasilkan awan panas sejauh 15 km ke Kampung Gendol.


Pengunjung melihat foto saat-saat Gunung Merapi erupsi (Foto: Forwaparekraf)

Kini 10 tahun berlalu, kondisi sekitaran lereng Gunung Merapi telah menjadi obyek wisata favorit bagi siapa saja yang menyukai petualangan. Beberapa jasa wisata Lava Tour Merapi, banyak yang menawarkan untuk jalan-jalan menyusuri tempat-tempat monumental pasca erupsi 2010 silam dengan menggunakan jeep.

Gaya.id saat diundang Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) berkesempatan untuk menjajal Lava Tour dengan menjelajahi Lereng Gunung Merapi. Berikut tempat-tempat yang kami singgahi selama menjalani Lava Tour:

1. Sisa hartaku di Musium Mini



Tampak pintu depan kediaman Sriyanto. (Foto: A. Firdaus)

Merapi tak Pernah Ingkar Janji, Bencana Bukan Akhir dari Segalanya, Bencana adalah suatu Awal Perubahan dan Habis Sudah Semua. Itu sederet ungkapan perasaan warga yang selamat dari keganasan erupsi yang melintas ke tempat kediaman mereka.

Ya, rumah milik Sriyanto, salah satu yang masih tersisa bangunannya. Meski tak serapi dulu, kediaman Sriyanto yang memiliki tiga bagunan ini dijadikan Musium Mini untuk mengenang dahsyatnya erupsi Gunung Merapi satu dekade silam.


Dua tivi dan satu laptop masih tersusun rapi, meski tak berfungsi. (Foto: A. Firdaus)

Tak hanya ungkapan yang dituliskan di tembok kediaman Sriyanto, beberapa barang yang juga terkena semburan awan panas ini juga ada meski sudah diselimuti debu. Sebut saja, dua unit televisi, satu laptop, hingga perabotan rumah seperti gelas yang meleleh. Yang menarik, hanya Al quran yang kertasnya masih terlihat jelas.

"Musium Mini ini terletak 7 km dari puncak Merapi. Wilayah ini Desa Petung. Ada 113 KK yang terkena dampak erupsi Gunung Merapi pada 2010. Sisa barang-barang ini terkena dari wedus gembel dan awan panas," ujar Tri Wiyono, pemandu wisata lava tour kami.

Di Musium Mini ini juga terdapat dua unit sepeda motor, serta kerangka sapi yang merupakan milik Sriyanto, yang juga terkena awan panas. Ada juga jam yang menjadi saksi erupsi terjadi dengan menunjukkan jam 12.05. Juga langsung hangus terbakar.



Kitab suci Al Quran masih terlihat tak begitu rusak. (Foto: A. Firdaus)

"Perhatikan juga kamar yang enggak boleh dimasuki. Juga ada barang antik yang dikumpulkan warga dan sebagian punya bapak Sriyanto," terang Wiyono.

Musium Mini ini memiliki tiga bangunan. Selain rumah kediaman pak Sriyanto, ada juga sanggar yang biasa digunakan untuk pementasan dan sebuah kandang sapi.

"Wayang-wayang milik Sriyanto juga masih ada. Wayangnya enggak terbakar. Sebab kebetulan wayangnya disimpan dan ada kaitannya dengan mistik," paparnya.

Jika kamu minat berkunjung datang ke Musium Mini, diharapkan untuk membaca peraturan yang ada ya. Sebab, barang-barang koleksi di sini tidak boleh disentuh dan juga harus menjaga perkataan.

2. Bunker Kaliadem


Beranjak dari Musium Mini, kami melangkah ke Bunker Kaliadem, yang hanya berjarak 3,5 hingga 4 km dari Puncak Merapi. Sejatinya, fungsi dari bunker ini adalah untuk tempat berlindung jika terjadi awan panas atau erupsi.


Bunker Kaliadem berlatar belakang Gunung Merapi. (Foto: Forwaparekraf)

"Sekarang tak berfungsi lagi dan dijadikan tempat wisata. Di dalamnya ada gudang dan kamar mandi. Bunker ini didirikan pada 2001 dan di ketinggian 2970 mdpl," terang Wiyono.

Sebelum adanya bunker, tempat ini merupakan sebuah kampung. Kampung yang cukup besar, namun habis tersapu erupsi.

3. Petilasan Mbah Maridjan


Agak sedikit turun, kami tiba di Kecamatan Cangkringan. Petilasan yang masih berjarak 4 km dari Puncak Merapi ini merupakan saksi bisu kesetiaan Mba Maridjan sampai akhirnya wafat dalam keadaan sujud saat erupsi 2010.


Makam tersebut menjadi penanda posisi terakhir Mba Maridjan saat terkena erupsi Gunung Merap. (Foto. A. Firdaus)

Petilasan Mba Maridjan merupakan sebuah area yang memiliki tiga bangunan dan satu masjid. Terkecuali masjid yang merupakan bangunan baru, seluruh kondisi bangunan yang berbentuk joglo itu telah direnovasi. Namun barang-barang peninggalan Mbah Maridjan masih bertahan.

Bangunan pertama lebih berisi sebuah mobil evakuasi dan dua sepeda motor milik Pak Asih, anak Mbah Maridjan.

Menurut Wiyono selain Mba Maridjan yang meninggal karena disapu erupsi, ada enam warga dan Relawan PMI, Tutur Priyanto serta wartawan Vivanews, Yuniawan Wahyu Nugroho juga menjadi korban. Mereka mencoba menyelamatkan warga yang masih ada di daerah tersebut yang terjadi pada 26 Oktober 2010. Namun tak selamat, lantaran ada erupsi susulan malam harinya.


Mobil untuk mengevakuasi Mbah Maridjan. (Foto: A. Firdaus)

Sementara bangunan kedua, kita akan menemukan sebuah makam dengan foto besar Mbah Maridjan. Makam itu bukan merupakan tempat Mba Maridjan dikubur, melainkan sebuah penanda titik di mana terakhir kali Mbah Maridjan tersambar erupsi dalam keadaan sujud.

"Ada juga pondopo untuk menerima tamu. Sebelum adanya erupsi 2010, biasanya mbah menerima wisatawan atau tamu negara bertamu. Setelah erupsi tepatnya saat weekend, istri mbah Maridjan biasanya datang berziarah," jelas Wiyono.


Tempat Mbah Maridjan menerima wisatawan atau tamu dari pemerintah. (Foto: A. Firdaus)

Kini takhta juru kunci Gunung Merapi berpindah ke anaknya Mbah Maridjan yaitu Pak Asih.

"Juru kunci diangkat oleh Keraton. Untuk menjadi juru kunci bukan sembarang orang. Paling tidak dia punya ilmu Kejawen. Di samping itu mewarisi ilmu dari bapaknya. Dia tinggal di Huntap atau hunian tetap yang telah disiapkan pemerintah. Semua warga yang di kampung, telah habis," terangnya.

4. Offroad Kali Kuning


Perjalanan kami mengenang 10 tahun Erupsi Gunung Merapi ditutup dengan sebuah keceriaan. Yaitu offroad menggunakan jeep di sekitaran Kali Kuning.


Melintasi kubangan kali bekas aliran lava dari Gunung Merapi. (Foto: Forwaparekraf)

Persisnya kami tak menyusuri Kali Kuning, akan tetapi hanya berkeliaran di satu titik kali dengan medan berbatu dan sesekali kami pun basah-basahan, meski air di Kali Kuning itu tak banyak. Tempat ini juga cocok untuk melakukan foto-foto dengan jeep berlatar Kali Kuning.
(FIR)