WISATA

Menparekraf: Pramuwisata Harus Tingkatkan Kapasitas Diri Pasca Pandemi

A. Firdaus
Jumat 26 Februari 2021 / 15:34
Jakarta: Sebagai garda terdepan di sektor pariwisata, pramuwisata mengalami dampak besar dengan adanya pandemi covid-19. Setidaknya, ada 7 ribu pramuwisata di Bali yang terkena dampaknya.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahudin Uno, mengajak pramuwisata agar meningkatkan kapasitas diri. Terutama dalam memahami konsep pariwisata berkelanjutan yang akan menjadi tren pariwisata ke depan.

“Kita lihat dampak pandemi ini sangat berat. Hampir tujuh ribu lebih pramuwisata yang ada di Bali terkena dampaknya. Ada yang sudah makan tabungan, makan hasil jual aset, dan bahkan pulang ke kampung halaman untuk menjadi pedagang, petani, dan nelayan. Namun begitu, saya optimistis pramuwisata di Bali akan pulih kembali,” ujar Menparekraf Sandiaga Uno dalam kegiatannya berkantor di Bali, saat bertemu dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI).

Untuk itu Menparekraf Sandiaga mengajak para pramuwisata agar mengusung optimistis dalam upaya membangkitkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Salah satunya dengan meningkatkan kapasitas diri dalam beradaptasi dan berinovasi melihat perubahan tren pariwisata ke depan.

Menparekraf menjelaskan perubahan tren saat ini adalah sustainable tourism. Wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi jumlahnya akan lebih sedikit, tapi lebih berkualitas dan story telling terhadap suatu destinasi akan lebih kuat.


Setidaknya, ada 7 ribu pramuwisata di Bali yang terkena dampaknya. (Foto: Kemenparekraf)

Pramuwisata merupakan salah satu komponen penting dalam jasa pariwisata. Sebagai garda terdepan dalam menyambut para wisatawan yang datang ke suatu destinasi wisata, pramuwisata hadir untuk menceritakan atau memberikan informasi mengenai destinasi dari hulu ke hilir.

“Kalau dulu satu pramuwisata melayani kurang lebih 40 orang. Sekarang mungkin rasionya satu banding empat. Saya selalu bilang tren pariwisata ke depan sudah bisa terbaca, akan lebih localize, customize, dan smaller in size.  Ini juga merupakan bagian daripada adaptasi dan inovasi menuju ecowisata atau wisata berbasis alam,” pungkas Menparekraf.

Kemenparekraf juga akan meningkatkan sertifikasi kompetensi untuk 2.100 SDM pariwisata, yang meliputi industri hotel, restoran, pramuwisata, SPA dan MICE. Yang di tahun sebelumnya hanya 1.600 SDM yang tersertifikasi.

Dalam membantu pramuwisata, Menparekraf juga akan merencanakan program prakerja. Karena melalui program ini ada insentif tunai serta pelatihan.

“Mudah-mudahan hal ini bisa kita akselerasi segera. Saya dengan jajaran Kemenparekraf lainnya akan bekerja keras, untuk menyelamatkan satu persatu dari tujuh ribu pramuwisata yang ada di Bali. Untuk itu, kita tetap harus optimis serta berkolaborasi,” ujar Menparekraf.

Di samping itu, Menparekraf menjelaskan tren lainnya yang ia sebut dengan pandemic winner, yaitu safe and healthy tourism destination. Destinasi yang menerapkan safety and healthy tourism dapat meningkatkan sektor pariwisata sebesar 4 hingga 5 kali lipat. Oleh karena itu, pemulihan pariwisata khususnya wisatawan nusantara, sangat bergantung pada komitmen kita terhadap penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE.
(FIR)