WISATA

4 Destinasi Wisata untuk Menjelajahi Kain Tenun setelah Pandemi

Gervin Nathaniel Purba
Jumat 16 Oktober 2020 / 20:41
Jakarta: Indonesia kaya akan seni dan budaya. Wisata budaya di Indonesia dapat dijelajahi oleh para wisatawan yang ingin berlibur #DiIndonesiaAja. Tak hanya berkunjung ke candi dan museum, wisatawan juga bisa menjelajahi budaya dalam bentuk kain-kain tradisional dan memahami nilai filosifinya yang unik. 

Kain tenun merupakan salah satu ragam kain tradisional yang mudah ditemukan di Indonesia. Yang membuat kain tenun menjadi salah satu kain tradisional Indonesia adalah proses pembuatannya yang masih menggunakan cara tradisional.

Apa saja kain tenun tersebut dan di mana Anda bisa melihat proses pembuatannya? Berikut ini lima lokasi wisata untuk menjelajahi ragam kain tenun khas Indonesia yang dapat Anda kunjungi setelah pandemi usai.



1. Ulos, Sumatera Utara



Desa Siambat Dalan, Toba (Foto:Dok.Kemenparekraf)

Kain tenun ulos merupakan kain khas kebanggaan suku Batak. Biasanya dibuat oleh para wanita penenun di Tongging, Paropo, dan Silalahi di pesisir barat laut Danau Toba.

Kain ulos biasanya dibuat secara tradisional dengan benang kapas yang diwarnai ke dalam pewarna alami dari tanaman. Biasanya membutuhkan waktu pembuatan hingga berbulan-bulan.

Meski demikian, saat ini proses pembuatan ulos di beberapa tempat sudah lebih modern dengan memanfaatkan ATBM (alat tenun bukan mesin), benang jadi, dan pewarna sintetis. Selain lebih modern, proses pembuatan ini pun dapat menekan biaya dan menghasilkan kain ulos tradisional dengan harga yang lebih terjangkau.

Didominasi dengan warna merah, hitam dan putih, kain ulos ini memiliki berbagai macam filosofi, fungsi, dan makna. Sebagai contoh, kain ulos yang biasa digunakan pada acara pernikahan adat Batak adalah ulos ragi hotang.
Ulos ragi hotang menjadi simbol ikatan kasih sayang seperti rotan yang ikatannya dipercaya paling kuat.

Wisatawan yang tertarik untuk membeli ulos akan berkunjung ke Pematang Siantar, Balige, atau menyusuri toko suvenir dan kios kerajinan tangan di sekitar Tomok atau Tuktuk. 

Sebelum membeli kain ulos, perhatikan tekstur bahannya. Kain ulos hasil tenunan tradisional biasanya memiliki tekstur lebih kasar dibandingkan kain yang dibuat dengan mesin dan menggunakan pewarna sintetis.



2. Tenun Endek & Gringsing, Bali



Proses Pembuatan Tenun Endek (Foto:Shutterstock)

Tenun endek adalah salah satu kain tenun ikat khas Bali yang kembali ramai diperbincangkan setelah masuk ke dalam koleksi spring/summer 2021 peragaan busana Paris Fashion Week yang diselenggarakan oleh rumah mode ternama, Dior.

Kain tenun endek memiliki motif beragam. Beberapa di antaranya bahkan dianggap sakral. Beberapa motif yang dianggap sakral ialah motif encak saji dan patra. Kain endek dengan motif tersebut hanya digunakan untuk kegiatan keagamaan atau kegiatan di pura.

Meskipun mulai ramai diperbincangkan, sayangnya tenun ikat endek Bali makin surut produksinya karena kekurangan penenun dari kalangan muda. Selain proses pembuatannya yang masih tradisional, selembar kain endek sepanjang 2,5 meter membutuhkan waktu pembuatan sekitar satu bulan.

Saat ini, Pemerintah Kota Denpasar sedang berupaya melakukan promosi dalam rangka pelestarian budaya. Yuk, coba telusuri lebih jauh mengenai tenun ikat ini apabila kalian berwisata ke Bali setelah pandemi selesai nanti.

Sementara itu, Tenun Gringsing Bali adalah salah satu kain tenun termahal di Indonesia yang proses pembuatannya hingga lima tahun. Kain ini adalah salah satu kain tenun tradisional yang menggunakan teknik dobel ikat dan memiliki nilai filosofis tinggi.

Berasal dari kata "gring" yang berarti sakit dan "sing" yang berarti tidak, kain gringsing dipercaya dapat menolak bala dan menyembuhkan penyakit. Uniknya lagi, kain gringsing merupakan satu-satunya kain tenun dengan teknik dobel ikat yang dapat ditemukan di Indonesia.

Untuk melihat langsung proses pembuatan kain Gringsing, wisatawan bisa berkunjung ke Desa Tenganan, di Karang Asem, Bali. Biasanya, warga sekitar akan menggunakan benang katun yang terbuat dari kapas keling atau kapas berwarna hitam sebagai medianya.



3. Tenun Sasak, Lombok



Wanita dan Tenun Sasak (Foto:Dok.Kemenparekraf)

Kain Sasak Lombok merupakan kain tenun yang dibuat dari bahan-bahan alami. Bahkan, proses pembuatan kain ini dimulai dari memintal kapas pilihan menjadi gulungan benang, pewarnaan dengan pewarna alami, dan kemudian diproses dengan alat tenun tradisional oleh para penenun suku Sasak.

Bahan pewarna kain biasanya berasal dari hasil kekayaan alam di sekitar pulau, seperti dedaunan, akar, biji-bijian, hingga kulit pohon. Misalnya, warna biru atau abu-abu didapatkan dari daun suji dan daun mangga. Warna merah berasal dari biji pinang dan akar mengkudu.

Proses pewarnaan yang unik dan padat dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal inilah yang membuat tenun Sasak Lombok memiliki daya tarik unik bagi para wisatawan mancanegara dan lokal yang berkunjung ke Pulau Lombok.

Yang unik, keterampilan menenun diajarkan kepada para perempuan suku Sasak sejak remaja. Tidak sedikit wisatawan yang kemudian tertarik untuk ikut mencoba langsung proses pembuatan tenun Sasak Lombok yang masih tradisional ini.

Bagi Anda yang tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tenun Sasak Lombok dan kearifan budaya yang dimiliki suku Sasak, Desa Sukarara dan Desa Sade merupakan destinasi wisata yang layak dimasukkan ke dalam bucket list liburan.



4. Tenun Alor, NTT


Meskipun tak sepopuler kain tenun lainnya, kain tenun Alor mulai diburu wisatawan mancanegara karena nuansa etnik yang unik dan kental. Selain itu, seluruh kain tenun dari Alor masih menggunakan pewarna alami.

Terdapat lima jenis kain Tenun di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari kelimanya, tenun yang paling mudah ditemukan di Alor adalah tenun foit yang dikenal dengan nama sotis atau lotis. Jenis tenun ini biasanya memiliki dua motif yang berbeda di dalam satu kain tenun.

Motif yang paling sering ditemukan pada tenun Alor adalah motif kenari, sesuai dengan julukan Alor sebagai Pulau Kenari. Rumah produksi pembuatan tenun milik Mama Syariat Libana di Dusun Ula, Desa Alor Besar, merupakan salah satu lokasi paling populer untuk melihat keindahan kain tenun khas Alor ini.

Nah, dari kelima kain tenun di atas, kira-kira kain tenun mana yang paling memikat untuk Anda eksplorasi setelah pandemi selesai nanti? Yuk, siapkan wishlist untuk berwisata #DiIndonesiaAja yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dengan mengeksplorasi keindahan budaya.
(ROS)