WISATA

Nepal van Java, Menyambut Sunrise dengan Lautan Awan Berlatar Gunung Sumbing

A. Firdaus
Jumat 09 Oktober 2020 / 06:38
Magelang: Kamu mungkin sudah mendengar Nepal van Java di media sosial? Ternyata ungkapan itu bukan sekadar celotehan biasa atau gambar di dunia maya.

Ungkapan tersebut ternyata benar adanya ketika Gaya.id mengunjungi Dusun Butuh, Kaliangkrik, Temanggung, Jawa Tengah. Ya, Dusun Butuh merupakan daerah di mana kamu bisa melihat awan dari atas dengan latar Gunung Sumbing, plus rumah-rumah yang berundak-undak dan terusun rapi.

Untuk bisa berada di sana, kamu harus menempuh perjalanan sejauh 23,5 km dari Magelang Kota, atau sekira satu jam untuk bisa sampai di Dusun Butuh. Tentunya dengan kendaraan yang harus kuat untuk menanjak.



Dusun Butuh punya pemandangan yang mirip dengan Namche Bazaar, Nepal. (Foto: A. Firdaus)

Dusun Butuh mulai viral pada tahun ini. Viralnya dikarenakan area pemukimannya mirip dengan Namche Bazaar, salah satu daerah di Nepal. Maka disebutlah dengan Nepal van Java.

Usut punya usut, ternyata ada program penataan yang dilakukan pihak dusun. Program itu pun mengubah pesona dari Dusun Butuh sendiri, yang mulanya hanya menjadi jalur pendakian para pendaki ke Gunung Sumbing, kini berubah sebagai destinasi wisata foto dengan memamerkan perpaduan pedesaan dengan pesona alam bak Nepal van Java.


Salah satu pemandangan yang tersaji saat pagi hari di Kaki Gunung Sumbing. (Foto. A. Firdaus)

Dusun Butuh sendiri berada di ketinggian 1.620 mdpl dengan berpunduduk 610 kk atau 2.500 jiwa. Di sana kamu juga bisa mandi air panas, lantaran toilet atau kamar mandi di sana mempunyai alat pemanas air. Kemudian kalau mau buang air kecil, cukup bayar seikhlasnya.

Jika kamu ingin ke sana, pastikan berangkat sedari subuh. Kebetulan Gaya.id yang diundang oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) harus berangkat sejak pukul 3.30 WIB, atau setengah 4 subuh, karena titik awalnya dari Kota Yogyakarta.

Saat perjalanan, kabut yang menyambut kerap mengganggu pandangan mata. Jadi diusahakan bagi pengendara untuk berhati-hati, karena rutenya pun terus menanjak.


Aisyah, salah satu wisatawan lokal yang mengaku baru pertama kali ke Dusun Butuh, meski rumahnya hanya berjarak satu desa dari Kaliangkrik. (Foto: A. Firdaus)

Sesampainya di sana sekira pukul 5.30 pagi. Langit pun sudah terlihat cerah membiru. Sementara matahari, masih malu-malu menampakkan wujudnya di balik Gunung Merbabu.

Sampai di Dusun Butuh tepatnya di Pasar Kaliangkrik, kamu akan menemukan beberapa jasa ojek yang menawarkan untuk perjalanan ke Punthuk Nepal, yang merupakan spot foto favorit.

Sebab, di situ kamu bisa melihat pemukiman Dusun Butuh dari atas. Lantaran rutenya cukup terjal, maka kamu akan menaiki motor trail, yang biayanya sekira Rp35 ribu.
 

Tiga keindahan dalam satu pandangan


Perjalanan sejak jam setengah 4 subuh, terbayar lunas ketika sampai di Punthuk Nepal. Pemandangan yang kamu dapatkan berupa matahari yang ingin terbit, pemukiman indah Desa Butuh, hingga lautan awan yang berada di bawahmu. Plus jika menoleh ke belakang, hamparan sayuran menghijau berjejer rapi dengan latar puncak Gunung Sumbing.

Dan, kami termasuk rombongan yang beruntung. Apa sebab? Karena menurut warga sekitar, jarang-jarang bisa menemukan lautan awan dengan pemandangan cerah seperti foto di bawah ini. Perpaduan sempurna bukan!



Dusun Butuh dengan panorama lautan awan. (Foto: A. Firdaus)



Manusia-manusia kuat dan ramah


Usai puas berfoto dan menikmati matahari terbit, kami juga disambut dengan ramah oleh para warga Dusun Butuh. Mereka kerap menyapa, meski sedang berjalan susah payah, lantaran trek yang menanjak.

"Kami enggak merasa terganggu dengan kehadiran para wisatawan di sini. Kami senang mereka datang kemari," ujar warga Dusun Butuh Asnawi saar ditanya Gaya.id terkait banyak wisatawan yang datang ke Dusun Butuh.


Asnawi warga Dusun Butuh, Kaliangkrik yang ingin memanen sayurannya di kaki Gunung Sumbing. (Foto: A. Firdaus)

Mereka mayoritas sudah berusia senja. Ada yang 50 tahun, hingga 80 tahun. Tak jarang, kami melihat warga yang mendaki gunung tanpa menggunakan sendal, Walau begitu, mereka tetap menyapa kami dengan senyuman.


Meski usia yang telah senja, mereka tetap rutin melakukan aktivitas menanam sayuran di kaki Gunung Sumbing. (Foto: A. Firdaus)

O iya, mereka pagi-pagi berjalan ke Kaki Gunung Sumbing untuk mengambil hasil panen mereka, berupa cabai atau aneka sayuran seperti wortel serta kol.

Menarik bukan? Mari berburu foto alam yang indah ke Dusun Butuh, tanpa harus mendaki dengan susah payah. Tapi jangan lupa untuk mencuci tangan, menjaga jarak, dan juga memakai masker, serta menjaga kesopanan ketika berada di desa orang.
(FIR)