FAMILY

Cara Mengatasi Gerakan Tutup Mulut pada Anak

Sandra Odilifia
Selasa 24 November 2020 / 19:05
Jakarta: Pada fase tumbuh kembang, terkadang si kecil tak suka makan apapun atau biasa disebut gerakan tutup mulut (GTM). Tentunya, hal ini bisa jadi mimpi buruk buat orang tua.

Namun tahukah kamu, sebagian besar penyebab GTM adalah pola pemberian makan yang kurang tepat. Menurut dr. Caessar Pronocitro, SpA, untuk mengurangi rasa khawatir, pertama, periksalah status nutrisi anak dengan melihat berat dan panjang badan, serta trennya di kurva pertumbuhan. Kalau posisi dan trennya di kurva baik, kita tidak perlu panik.

"Ingat, jangan membandingkan dengan anak lain yang tampak lebih gemuk, atau galau karena komentar dari mertua dan tetangga bahwa anak kamu tampak kurus," tulis dr. Caessar.

Kedua, evaluasi apakah feeding rules sudah diterapkan. Pola pemberian makan yang tepat akan dapat mencegah dan juga mengatasi GTM. Mengutip dari laman instagram dr. Caessar @caessar_p, begini aturan makan yang harus kamu perhatikan.
 

1. Jadwal


Apakah jam makan si kecil sudah teratur dan konsisten setiap hari? Jika belum, pastikan si kecil makan makanan utama sebanyak tiga kali, dengan dua kali selingan di antaranya. Perlu kamu ingat, waktu makan tidak boleh lebih dari 30 menit ya!
 

2. Lingkungan


Pastikan situasi menyenangkan dan tidak ada paksaan ketika memberi makan. Selain itu, hindari distraksi seperti televisi, gadget, dan mainan. Usahakan si kecil dalam posisi duduk, tidak digendong atau berjalan-jalan.
 

3. Prosedur


Untuk mengatasi GTM, berikan makanan dalam porsi kecil, dan tawarkan tanpa memaksa. Bila 15 menit masih menolak, sebaiknya hentikan proses makan. Pastikan kamu membersihkan mulutnya hanya saat si kecil selesai makan.

Disamping itu, WHO merekomendasikan responsive feeding, yakni pemberian makan dengan memperhatikan tanda lapar dan kenyang anak, sabar dan penuh kasih sayang, serta mengajaknya bicara dengan kontak mata.

Terkadang dibutuhkan 10 hingga 15 kali perkenalan suatu jenis makanan sebelum akhirnya anak mau menerima makanan. Lebih lanjut, dr. Caessar menjelaskan, apabila setelah penerapan yang tepat dan konsisten masih didapatkan permasalahan, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter spesialis anakmu.
(FIR)