FITNESS & HEALTH

Catat! Tips Jaga Kebiasaan Hidup Sehat Selama dan Usai Puasa

Media Indonesia.com
Jumat 22 April 2022 / 15:04
Jakarta: Selama Ramadan, kita mendapat kesempatan untuk memulai kebiasaan hidup sehat. Namun, biasanya, setelah Ramadan selesai, kebiasaan ini lambat laun ditinggalkan.

Nah, agar kebiasaan hidup sehat selama Ramadan bisa terus terjaga, ada tipsnya nih. Tips ini dibagikan Kepala Instalasi Rawat Inap RS Tugu Ibu, Depok, dr Setia Pribadi, dalam acara Bincang Teras LPPM ATVI Spesial Ramadhan bertema Tetap Jaga Kebiasaan Sehat Usai Lebaran yang ditayangkan melalui kanal Youtube Teras LPPM ATVI, Kamis, 21 April 2022 malam.

Setia mengatakan perubahan perilaku atau kebiasaan selama puasa mengakibatkan perubahan dalam mekanisme tubuh manusia secara fisiologis, baik fisik maupun mental. "Selama 30 hari melakukan puasa, terjadi keseimbangan atau homeostasis baru," kata dia.

Contoh homeostasis adalah ketika kita tidak melakukan sarapan. Saat itu, terjadi penurunan kadar gula dalam darah. Atau ketika melakukan olahraga berat, suhu tubuh meningkat dan tubuh mengeluarkan keringat. 

"Keringat yang keluar akan menyebabkan suhu tubuh menjadi dingin kembali," jelasnya. 

Ketika tubuh mendapatkan infeksi bakteri atau virus, tubuh menjadi panas. Banyak lagi keadaan yang membuat tubuh melakukan keseimbangan baru ketika terjadi perubahan perilaku.

Setia menjelaskan salah satu tujuan puasa Ramadan, selain beribadah, juga memiliki kegunaan secara fisik. Puasa menjadikan tubuh mendapat "tantangan" baru.

"Tantangan ini yang dapat membuat tubuh menjadi lebih sehat," kata Setia.

Begitu Ramadan usai, biasanya kita kembali memasuki kebiasaan lama yang dijalankan sebelum puasa. "Nah, di sinilah titik kritisnya. Tubuh harus menyesuaikan kembali mekanisme fisiologisnya. Agar terjadi keseimbangan baru (homeostasis)," kata dia.
 

Mempertahankan kebiasaan puasa

Bagaimana agar kebiasaan sehat itu bisa dipertahankan setelah puasa Ramadan? Setia menekankan bahwa yang paling utama yang harus diubah adalah pola pikir. Terutama cara orang berpikir bahwa mereka telah lepas dari belenggu puasa Ramadan.

"Jadi, layaknya orang yang telah terlepas dari suatu ikatan, maka mereka melakukan kegiatan yang berlebihan. Inilah yang seringkali menjadi persoalan," kata dia. 

Menurutnya, banyak orang datang ke IGD sebuah rumah sakit usai puasa. Keluhan yang disampaikan hampir sama, yakni sakit di bagian perut seperti mual, muntah, perih, melilit, hingga diare.

"Semua itu terjadi karena tubuh kita mendapatkan perilaku yang berlebihan usai puasa," kata dia.

Baca: Mau Mulai Ajarkan Anak Puasa? Simak Tips dari Dokter RSA UGM

Makan berlebihan, apalagi mengonsumsi komponen makanan pedas dan bersoda, justru akan membuat organ dalam tubuh mengalami iritasi. Lambung dan usus harus bekerja lebih berat dalam proses mencernanya.

Tipsnya, Setia menyarankan agar masyarakat tidak langsung mengonsumsi makanan secara serampangan. Lakukan konsumsi makanan pedas dan berlemak secara bertahap.

"Berilah waktu kepada sistem pencernaan kita untuk berusaha memahami kondisi yang selama puasa Ramadan telah mencapai homeostasis," katanya. 

Begitu juga untuk kebiasaan olahraga yang bisa jadi berubah ketika puasa dan usai puasa. Perlu dilakukan penyesuaian secara bertahap. 

"Sehingga tubuh kita dapat menyesuaikan kembali kepada kebiasaan baru usai puasa,” kata Setia.
(UWA)