FITNESS & HEALTH

Khawatir Kasus Covid-19 Menaik akibat Omicron, dr. Reisa Memberikan Imbauan Terkait PTM

Raka Lestari
Kamis 20 Januari 2022 / 09:10
Jakarta: Adanya varian Omicron, meningkatkan kasus konfirmasi positif covid-19. Dan hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, berbagai negara di dunia juga mengalami peningkatan kasus yang luar biasa dengan adanya varian Omicron.

Bagi para orang tua yang anaknya sudah mulai melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), tentunya hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri.

“Data Kemendikbudristek menunjukkan bahwa 99 persen satuan pendidikan di Indonesia sudah memenuhi syarat untuk melakukan PTM terbatas,” ujar dr. Reisa Brotoasmoro - Jubir Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden.

Dari data tersebut dr. Reisa menyampaikan kepada masyarakat terutama orang tua yang sudah memiliki anak dan sudah melakukan PTM agar selalu waspada terhadap risiko penularan covid-19.

“Kami juga ingin mengingatkan bahwa bagi para orang tua, ada beberapa aktivitas yang harus dilakukan oleh anak-anak ketika ia berada di sekolah,” ujar dr. Reisa.

“Pertama, pastikan selalu menggunakan masker saat di sekolah. Kedua, selalu menjaga jarak ketika melakukan interaksi dengan orang lain dan beraktivitas. Ketiga, tidak menggunakan alat makan yang sama atau bertukar alat makan dengan teman. Keempat, hindari kontak fisik dengan tidak berpegangan atau bersalaman langsung dengan teman dan guru,” jelas dr. Reisa.

Mengenai PTM yang saat ini sudah mulai dilakukan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga memberikan rekomendasinya seperti berikut:

1. Untuk membuka pembelajaran tatap muka, 100 persen guru dan petugas sekolah harus sudah mendapatkan vaksinasi covid-19.

2. Anak yang dapat masuk sekolah adalah anak yang sudah diimunisasi covid-19 lengkap 2 kali dan tanpa komorbid.

3. Sekolah tetap harus patuh pada protokol kesehatan.

4. Anak dengan komorbiditas dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis anak. Komorbiditas anak meliputi penyakit seperti keganasan, diabetes melitus, penyakit ginjal kronik, penyakit autoimun, penyakit paru kronis, obesitas, hipertensi, dan lainnya.

5. Menghimbau untuk segera melengkapi imunisasi rutin anak usia 6 tahun ke atas.

6. Anak dianggap sudah mendapatkan perlindungan dari imunisasi covid-19 jika sudah mendapatkan dua dosis lengkap dan proteksi dinyatakan cukup setelah 2 minggu pasca penyuntikan imunisasi terakhir.

7. Sekolah dan pemerintah memberikan kebebasan kepada orang tua dan keluarga untuk memilih pembelajaran tatap muka atau daring, tidak boleh ada paksaan.

8. Untuk anak yang memilih pembelajaran daring, sekolah dan pemerintah harus menjamin ketersediaan proses pembelajaran daring.

9. Rekomendasi lengkap terkait protokol kesehatan dan proses mitigasi merujuk rekomendasi IDAI sebelumnya.

10. Keputusan buka atau tutup sekolah harus memperhatikan adanya kasus baru covid-19 di sekolah atau tidak.
(FIR)