FITNESS & HEALTH

Jenis-jenis Kerusakan Akibat Terjadinya Spinal Cord Injury

Raka Lestari
Selasa 11 Januari 2022 / 10:05
Jakarta: Cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury) bisa menyebabkan kelumpuhan. Selain itu, terlalu lama berbaring karena lumpuh juga akan menyebabkan luka akibat tubuh menekan alas tidur atau disebut decubitus.

Hal ini juga mudah terkena infeksi (biasanya sistem paru-paru dan dan saluran kencing). Bahkan pada beberapa kasus bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah yang dapat mengancam nyawa.

Dr Wawan Mulyawan, SpBS - Ketua Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf DKI Jakarta, dalam pernyataan tertulisnya menjelaskan bahwa ada dua jenis kerusakan yang bisa terjadi akibat cedera saraf tulang belakang:


cedera tulang belakang
(Suatu cedera tulang belakang sering secara permanen menyebabkan hilangnya kekuatan, sensasi, dan fungsi di bawah tempat cedera itu. Foto: Ilustrasi/Pexels.com) 
 

1. Kerusakan langsung akibat benturan atau penekanan (Kerusakan primer)


Cedera pada saraf tulang belakang biasanya terjadi akibat trauma pada tulang belakang mulai dari leher/servikal sampai tulang belakang sakral. Tulang yang retak atau patah akan menekan sumsum tulang belakang atau bahkan merobeknya.

Cedera saraf tulang belakang dapat saja terjadi tanpa patah tulang belakang yang jelas, namun sebaliknya seseorang bisa saja mengalami patah tulang belakang tanpa terjadi cedera tulang belakang. Namun, pada sebagian besar cedera saraf tulang belakang, sumsum tulang belakang tertekan atau robek.

Sedangkan berat ringannya kerusakan saraf tergantung pada kekuatan penekanan saraf oleh tulang belakangnya, keras ringannya energi yang menghantam, dan lamanya penekanan atau lamanya pertolongan.
 

2. Kerusakan tambahan / ikutan / sekunder


Kerusakan sekunder dapat terjadi akibat terus berlangsungnya kerusakan primer karena kurang cepatnya pertolongan atau tidak tepatnya pertolongan. Sehingga kerusakan yang seharusnya lebih ringan, menjadi lebih berat atau menjadi permanen dibandingkan kerusakan langsung di awal cedera atau benturan.

Karena begitu banyak kerusakan yang muncul setelah cedera awal, maka menjadi penting proses-proses kecepatan dan ketepatan penanganan untuk mempertahankan sebanyak mungkin fungsi saraf sensorik, motorik dan otonom. 

Dalam beberapa menit setelah kecelakaaan atau cedera, jika tidak segera ditangani, menyebabkan pengiriman nutrisi dan oksigen yang tidak cukup ke sel saraf, dan sel saraf akhirnya mati permanen.

Ketika sel saraf di sumsum tulang belakang, akson, atau astrosit cedera, jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, akan bisa merusak dirinya sendiri (self-destruction) akibat memproduksi bahan kimia beracun yang disebut zat radikal bebas.

(TIN)